Takdir Cinta Nirina

Takdir Cinta Nirina
Tiara Melahirkan


__ADS_3

Malam menjelang, Tiara merasakan mulas di bagian perut dan pinggangnya. Semakin lama, rasa mulas itu berubah menjadi semakin sakit yang teramat sangat.


Tiara merintih kesakitan sambil memegangi perutnya, berkali kali dia memanggil ART yang bekerja untuk merawatnya. Hingga akhirnya ART itu datang menemuinya.


"Nona, apa yang terjadi?"


"Perutku sakit, sepertinya aku mau melahirkan,"


"Melahirkan? Tapi usia kandungan Nona kan baru tujuh bulan, apa itu artinya Nona akan melahirkan secara prematur?"


"Jangan banyak bicara, cepat antar aku ke rumah sakit. Aku sudah tidak tahan lagi, perutku sakit sekali!" Bentak Tiara pada sang ART.


Wanita paruh baya itu menelfon ambulan, tak lama mobil ambulan datang dan membawa Tiara pergi ke rumah sakit. Sang ART mencoba menghubungi nomor ponsel Damian, tapi pria itu tidak mau mengangkat telfon darinya.


"Bagaimana ini? Masa Nona Tiara melahirkan di RS sendirian?" Keluh ART itu.


Seorang penjaga keamanan datang menghampiri wanita itu yang sedang terlihat cemas juga panik.


"Ada apa?" Tanya pria berkepala botak itu.


"Nona mau melahirkan, Tuan dari tadi saya telfon tidak mau mengangkatnya,"


"Jangan ganggu dia, mungkin dia sedang sibuk,"


"Tapi Nona di RS sendirian,"


"Dia tidak sendirian, ada seorang pengawal yang mengawasi dia agar tidak kabur."

__ADS_1


Disaat genting seperti ini Tiara masih saja diperlakukan seperti seorang tahanan, siapa saja yang melihatnya pasti akan merasa kasihan, termasuk ART itu. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Dia hanya seorang ART yang tidak memiliki daya dan upaya.


***


Di sebuah kamar bersalin, Tiara memperjuangkan kelahiran anaknya secara normal. Pertaruhan keselamatan nyawa segera di mulai. Dia berjuang sendirian tanpa ada siapapun yang menemani.


Tiba tiba Tiara teringat pada Ayah dan mendiang Ibunya, ternyata tidak mudah menjadi orang tua. Bahkan, sebelum anak itu lahir ke dunia.


Semua kesalahan yang pernah dilakukan Tiara pada kedua orangtuanya mendadak terlihat oleh mata. Suka membangkang, tidak patuh, dan selalu ingin menang sendiri adalah dosa yang sering dia lakukan pada mereka.


Air mata tiada menetes, penyesalan hadir menyelimuti hati dan pikirannya.


"Ayah, tolong aku..." Rintih Tiara berulang ulang.


***


Prak....


"Ada apa ini? Kenapa foto Tiara bisa jatuh dan hancur? Apa sesuatu telah terjadi padanya?" Jaka terheran heran. Jaka mencoba menghubungi nomor Tiara, tapi nomornya tidak aktif.


Jaka uring uringan, dia khawatir dan cemas. Dalam hati dia berdoa agar kesehatan dan keselamatan Tiara tetap terjaga.


Cerita kembali ke rumah sakit. Tiara menjerit menahan sakit, dia mengejan dengan kuat agar bayi yang ada di dalam perutnya segera keluar. Beberapa tenaga medis yang membantunya merasa kewalahan karena Tiara sangat cengeng dan cerewet.


"Sakit sekali Dokter, tolong cepat keluarkan bayi ini dari dalam perutku!" Teriak Tiara.


"Bisa tenang tidak Bu? Buatnya saja diam diam, masa mengeluarkannya heboh seperti reog. Malu sama tetangga!" Omel sang Dokter balik.

__ADS_1


Dalam hati, Tiara terus mengumpat dan memaki Damian tanpa henti. Pria br*ngsek, pria tak bertanggung jawab, buaya darat dan sebagainya. Tiara benar benar menyesal tidak memakai pengaman saat berselingkuh dengan Damian, dia baru tahu kalau melahirkan itu rasanya sakit sekali. Seperti seseorang yang dikuliti hidup hidup, seperti orang yang cabut gigi tanpa disuntik bius terlebih dahulu.


"Nirina, maafkan aku. Andai kamu ada disini mungkin rasa sakit ku bisa sedikit terobati," batin Tiara.


Tiga jam berlalu, seorang bayi perempuan berhasil lahir dari rahim Tiara. Matanya, hidungnya, juga bibirnya sangat mirip dengan Damian. Bukannya senang, Tiara malah membenci anak pertamanya itu.


Dia tidak mau menyentuh putrinya, memberi asi atau melihatnya sekalipun. Jika dia melihat sang bayi, dia akan segera teringat pada kelakuan buruk yang menyebalkan seorang Damian.


Rudi mencoba menghubungi nomor Damian, setelah sekian lama mencoba, akhirnya tersambung juga.


"Ada apa?" Suara Damian terdengar berat dari balik telfon.


"Nona sudah melahirkan, anaknya perempuan. Tapi dia tidak mau menyusui, menyentuh atau melihat bayi itu," tutur Rudi.


"Tunggu disana, aku akan segera kembali. Kirimkan alamat rumah sakit tempat Tiara melahirkan.


"Siap Bos, saya akan mengirimnya via chat."


Rudi menutup telfon, dia masuk ke dalam ruangan untuk memastikan kalau Tiara baik baik saja. Wanita itu sedang menangis, seperti sedang menyesali sesuatu.


"Apa kamu sudah menelfon Damian?"


"Sudah,"


"Bagus, suruh dia membawa anaknya pergi menjauh dariku. Aku benci anak itu, sama seperti aku membenci Damian," celoteh Tiara jujur.


"Jangan begitu non, anak Non masih kecil. Dia perlu asi, dia perlu kasih sayang orang tuanya," tutur Rudi.

__ADS_1


Tiara terdiam, dia mencoba menelisik ke dalam hatinya. Salah kah apa yang dia lakukan saat ini? Apa arti anak itu untuk hidupnya?


Bersambung...


__ADS_2