
Udara berhembus cukup dingin malam itu, tapi Tiara masih betah berlama lama duduk melamun di teras. Jalanan begitu gelap tanpa lampu, suasana sekitar terasa sepi karena memang rumah Damian tidak memiliki tetangga.
Pikiran Tiara melambung memikirkan keadaan Ayahnya, pria tua itu pasti sangat mencemaskan dirinya dan merindukannya. Sudah hampir dua bulan nomor ponselnya tidak bisa di hubungi, Damian menyita dan menaruhnya entah dimana.
Pintu gerbang rumah terbuka, mobil Damian masuk dan parkir di halaman rumah. Damian baru saja pulang kerja, wajahnya terlihat begitu penat dan lelah.
"Sedang apa kamu di sini? Cepat masuk, di luar dingin," omel Damian.
"Aku merindukan Ayahku, bolehkah aku bertemu dengannya sebentar saja?" Tiara berkaca kaca.
Damian terdiam, dia seperti sedang melihat seekor anak kucing yang tersesat dan kelaparan.
"Baiklah, besok orang ku akan mengantarmu menemui Ayahmu, tapi hanya sebentar saja. Dan jangan coba coba untuk mengadu soal aku padanya, mengerti?"
"Iya, aku mengerti,"
Tiara masuk ke dalam kamarnya, dia menarik nafas lega karena pria itu memperbolehkannya untuk bertemu dengan sang Ayah. Pria jahat itu ternyata masih punya setitik rasa Iba padanya.
Entah karena apa, perasaan cinta yang dulu pernah ada untuk Damian hilang seperti di telan bumi. Yang ada hanya rasa benci dan penyesalan.
"Nirina, maafkan aku. Aku benar benar ingin bertemu dan bersimpuh di bawah kakimu," Tiara menangis terisak.
***
__ADS_1
Pagi menjelang, Tiara bersiap untuk menemui Ayahnya di tempat pria itu bekerja. Tiara sengaja memakai pakaian longgar agar sang Ayah tidak bisa melihat perutnya yang sudah sedikit membuncit. Tiara enggan memberi tahu Ayahnya jika dia sedang hamil anak Damian, pria itu pasti akan murka karena dia tau Damian adalah tunangan Nirina sahabat baiknya.
Tiara di temani salah seorang pengawal pribadi Damian, Rudi namanya. Pria bertubuh tinggi besar, berkepala botak dan memiliki tampang galak. Terlihat sangat jelas Damian takut Tiara kabur melarikan diri, membawa lari keturunannya yang sangat berharga.
Entah apa yang ada di dalam isi kepala Damian, dia mau menerima kehadiran anaknya tapi tidak mau menerima Tiara sebagai pasangan hidupnya. Apa bedanya Tiara dan Nirina? Keduanya sama sama cantik. Cinta memang penuh dengan misteri, hanya pelakunya saja yang tau akan hal itu.
Dua jam berselang, Tiara tiba di sebuah pabrik. Dia menemui seorang satpam alias Jaka Ayahnya. Pria tua itu terlihat murung seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ayah," panggil Tiara.
Jaka menoleh ke arah putrinya, matanya berkaca kaca menahan gembira karena anak yang sedang dia cari tiba tiba kembali.
"Tiara, dari mana saja kamu?"
"Aku bekerja di luar kota, maaf aku pergi tanpa pamit terlebih dahulu," Tiara berbohong agar Jaka tidak khawatir.
Ada yang berbeda dari Tiara, dia lebih hangat dan banyak mengobrol dengan Ayahnya hari itu. Tidak seperti biasanya yang sedikit bicara dan selalu bersikap judes.
"Apa sesuatu telah terjadi padanya? Apa yang membuat gadis itu berubah jadi lebih baik?" Jaka bertanya tanya di dalam hati.
Tiara membuka makanan yang dia bawa dan mengajak Ayahnya makan bersama, memang bukan Tiara yang memasaknya, tapi Tiara sengaja menyiapkan hal itu untuk Ayahnya.
Sudah lama mereka berdua tidak makan bersama, bertukar cerita lalu bertengkar. Tiara benar benar merindukan kebersamaanya bersama sang Ayah.
__ADS_1
Sementara itu dari jauh, orang suruhan Damian terus mengawasi. Dia sama sekali tidak memalingkan pandangannya dari pasangan anak dan Ayah itu, untuk berjaga jaga Tiara melarikan diri atau meminta Ayahnya untuk melapor ke polisi kalau Damian telah menyekapnya selama ini.
"Kalau boleh Ayah tau, kamu kerja dimana? Kerja Apa?"
"Aku kerja di pabrik, di kota sebelah. Sudahlah Ayah, jangan banyak bertanya. Makan makananmu,"
"Berjanjilah dulu padaku, kalau ada waktu kamu akan sering mengunjungi ku,"
"Iya, aku berjanji." Tiara mengukir senyum pelit.
Berbohong adalah hal yang biasa Tiara lakukan, tapi kebohongannya kali ini benar benar diluar kehendaknya. Semua demi keamanan dan keselamatan mereka berdua, juga bayi yang sedang berada di dalam kandungannya.
Dua jam terlewati, Tiara pamit pergi pada Ayahnya. Dia memeluk pria itu lagi lalu melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Setelah ini dia tidak tau apakah masih ada kesempatan lagi untuk mereka berdua bertemu.
***
Di dalam mobil, Tiara tak henti hentinya mengeluarkan air mata. Dia merasa sedih karena harus berpisah dengan Ayahnya dan hidup sebagai tawanan Damian lagi.
"Rudi, bolehkah kita mampir ke toko roti sebentar? Aku ingin membeli roti kesukaanku di sana," ujar Tiara yang merasa perutnya menginginkan makanan manis.
"Maaf Nona, tidak bisa. Tuan pasti akan memarahi saya nanti. Kalau Nona mau, saya akan mengatakan hal itu pada Tuan Damian. Biar Tuan saja yang membeli secara langsung untuk Anda," sahut Rudi mantap.
Tiara mendengus kesal, Damian benar benar telah membatasi kemakmuran hidupnya. Dia bahkan lebih mengenaskan dari seekor burung yang terkurung di dalam sangkar emas. Jika seekor burung masih mendapat perhatian dari majikannya, kalau Tiara hanya mendapatkan mimpi yang tak akan pernah terwujud dan kekecewaan saja.
__ADS_1
Bersambung...