
Sehari berselang, Nirina pulang ke rumah sambil menggendong Areta. Ningsih yang sedang menyapu halaman langsung membuang jauh jauh sapu yang sedang dipegangnya dan berlari menghampiri Nirina.
"Sayang, anak siapa itu?" Tanya Ningsih.
"Dia anak damian dan Tiara?"
"Kenapa bisa ada bersamamu?"
"Panjang ceritanya, ayo kita masuk dulu ke dalam."
Dua wanita itu masuk ke dalam rumah, mereka duduk saling berhadapan di sofa tamu. Perlahan tapi pasti, Nirina mulai menceritakan kronologi kejadian yang menimpa Damian dan Tiara. Hingga akhirnya Areta bisa sampai ke tangannya.
Ningsih tak habis pikir, Nirina mengambil keputusan secara sepihak tanda bertanya terlebih dulu padanya. Jarang ada dirumah, pulang pulang bawa anak, apa kata para tetangga nanti?
Tapi Nirina tidak peduli dengan gosip miring yang menerpanya, yang penting, Areta akan selalu aman bersamanya. Kalau sudah begitu, Ningsih hanya bisa pasrah dan mendukung secara penuh keputusan Nirina.
Si kecil Areta, meski baru beberapa hari bersama dengan Nirina sudah memiliki ikatan batin yang kuat dengan wanita itu. Dia tidak mau di gendong oleh orang lain selain Nirina, jika Nirina menjauh sedikit saja darinya pasti Areta akan menangis histeris.
Anak sekecil itu sudah memiliki nasib yang tragis, menjadi anak piatu dan Ayahnya berada didalam penjara.
"Aku akan menemanimu melewati suka duka, selamanya, tidak akan pernah meninggalkanmu," bisik Nirina di telinga kanan Areta.
***
__ADS_1
Pulang sekolah, Sintia dikejutkan oleh suara tangis bayi di kamar kakaknya. Dia langsung pergi ke kamar itu untuk melihat apa yang terjadi.
Sintia melongo saat melihat Kakaknya sedang mengganti popok seorang bayi perempuan yang masih sangat merah.
"Anak siapa itu?" Pertanyaan yang sama keluar dari mulut Sintia.
"Dia anakku. Mulai detik ini dan seterusnya dia adalah anakku,"
"Anak Kakak? Kakak mengadopsi anak?"
"Dia anak damian dan Tiara. Tiara meninggal dunia, Damian masuk penjara. Anak ini dipercayakan kepadaku karena kakeknya tidak mau menerima kehadirannya dan Ibu dari Damian sakit sakitan,"
"Kasihan sekali nasibnya, tapi aku benci anak kecil. Mereka berisik dan suka membuat berantakan. Jadi, Kakak harus menjaganya agar tidak membuat keributan di rumah ini," Sintia menaikan alisnya sebelah.
***
Malam hari, tiba tiba Areta di serang demam ringan. Dia menangis dan rewel, menimbulkan suara bising yang mengganggu tidur nyenyak seorang Sintia.
Sintia menutup telinganya dengan kapas, headset atau apapun yang muat di lubang telinganya, tapi hasilnya masih tetap sama. Suara tangis bayi itu masih terdengar oleh telinganya. Sintia berguling guling diatas kasur, mengekspresikan kekesalannya yang tak bisa di salurkan.
"Anak itu, awas saja besok kalau sudah besar. Aku akan mencubitnya dan mengerjainya sampai dia tidak bisa menangis lagi," Sintia menggerutu.
Dengan telaten, Nirina merawat anak itu. Mencoba menenangkannya dengan bantuan sang Ibu. Ternyata menjadi seorang Ibu itu tidak mudah, rasa sayang Nirina ke Ibunya jadi bertambah karena anak yang sedang di pangkuannya.
__ADS_1
Samar samar, Nirina mengingat kenakalan masa kecilnya kepada orang tuanya. Seperti membangkang perintah mereka, kurang hormat pada mereka, suka marah marah pada mereka. Hingga akhirnya tanpa terasa air mata Nirina menetes membasahi kedua pipinya yang tembem.
"Kamu kenapa menangis Nirina?" Tanya Ningsih.
"Aku tiba tiba teringat pada kesalahan yang pernah aku perbuat pada Ayah dan Ibu. Ternyata, menjadi orang tua itu tidak mudah,"
"Syukurlah, ada hikmah dibalik kamu mengurus anak itu. Kamu jadi bisa tau sesuatu yang belum pernah kamu ketahui sebelumnya," Ningsih mengukir senyum. Dia membelai rambut Nirina lembut dan mencubit pipinya.
"Aku sayang sekali pada Ibu," ucap Nirina.
"Sama sayang, Ibu juga sayang sekali sama kamu,"
Klak...
Pintu kamar Nirina terbuka, Sintia menerobos masuk ke dalam kamar sambil menekuk wajahnya.
"Bu, kenapa anak itu menangis terus?" Keluh Sintia.
"Dia sedang demam, jadi rewel. Dulu waktu kecil, kamu juga seperti itu," sahut Nirina.
"Semoga dia tidak menangis lagi, ini masih jam dua pagi. Aku masih ingin tidur dengan pulas,"
"Semoga saja ya," Nirina sedikit menahan tawa melihat ekspresi wajah adiknya yang kesal.
__ADS_1
Bersambung...