
Damian baru saja mendingan pagi itu, dia berjalan jalan santai di sekitar rumahnya untuk mengurangi stres yang sedang melandanya.Tubuhnya masih lemas, tapi dia sudah merasa bosan beberapa hari hanya berbaring di dalam kamar.
Sebuah Taxi berwarna kuning berhenti di depan rumah Damian, Tiara turun dari dalamnya dan segera melepas senyum saat melihat sosok Damian. Wanita itu berlari lari kecil lalu memeluk Damian dari depan.
Damian yang kesal langsung melepas pelukan itu, mendorong Tiara menjauh dari sisinya hingga wanita itu hampir terjatuh. Tiara tersentak, pria yang dia puja tega menepis tubuhnya seperti selembar daun kering? Setidak berarti itu kah dirinya di mata Damian?
"Mau apa kamu ke sini?"
"Aku mau memberikan kabar baik untukmu,"
"Kabar baik apa?"
"Aku hamil!"
"Apa?"
"Aku sedang hamil anakmu,"
Damian merasa kepalanya sakit hingga mau pecah, bagaimana bisa wanita itu hamil disaat yang seperti ini? Harapannya untuk kembali bersama Nirina berakhir sudah.
Damian berpikir sambil diam, dia harus bisa mencari cara untuk menyingkirkan Tiara dan mengambil anaknya darinya tanpa ketahuan oleh orang lain. Tapi bagaimana caranya?
"Kenapa diam?" Tanya Tiara. Dia memperhatikan wajah Damian yang gelisah dan kebingungan.
"Jangan bicara di sini, ayo ikut aku," Damian menyeret Tiara menjauh dari rumahnya.
Setelah dirasa cukup aman, Damian mengambil sebuah ponsel di sakunya dan menelfon salah seorang asisten pribadinya. Dia meminta asistennya itu untuk merapihkan dan membersihkan rumah lama milik keluarganya yang ada di kawasan puncak.
Damian ingin menyembunyikan Tiara di sana, tidak ada yang boleh mengetahui kalau Tiara sedang hamil. Termasuk Ibunya juga Nirina. Dia tidak mau membuat nama baik keluarganya tercoreng dan Nirina semakin membenci dirinya.
"Sayang, kamu harus bertanggung jawab atas anak ini. Kamu harus menikahi aku!" Desak Tiara.
"Aku pasti akan bertanggung jawab dan menikahi kamu, tapi kamu harus menurut kepadaku, oke?"
__ADS_1
"Menurut bagaimana?"
"Tinggallah di rumah lamaku, aku akan menyuruh beberapa orang untuk menjaga dan merawat kamu di sana. Jangan keluar dari rumah itu tanpa izin dariku, paham?"
"Ya, baiklah. Aku akan menurut padamu, tapi kamu jangan ingkar janji ya?"
"Iya, kamu tenang saja."
***
Jam makan malam tiba, Sinta membawa nampan berisi makanan, minuman dan obat obatan ke dalam kamar damian. Pria itu tengah duduk merenung diatas sofa, pandangannya menatap jauh entah kemana.
Saat ini, isi kepala Damian seperti benang kusut yang dicakar cakar oleh ayam. Kusut, tak berbentuk dan tak tau dimana ujungnya. Bagaimana bisa Tiara tiba tiba hamil? Padahal Damian sudah sangat berhati hati saat bermain. Apakah ini adalah sebuah hukuman dari Tuhan?
Damian tidak boleh menyebut anak itu sebagai hukuman, karena dia tidak pernah mau memiliki orang tua bejad seperti Damian dan Tiara. Anak itu harus menjadi miliknya, tapi Tiara tetap harus pergi jauh dari kehidupannya.
"Damian, makan dulu. Nanti diminum obatnya," ucap Sinta. Tapi Damian tak bergeming, menoleh pun tidak.
Sinta menghampiri Damian, menepuk pundaknya kuat dan memaksanya untuk fokus memperhatikannya.
"Kenapa tiba tiba Ibu bertanya seperti itu?"
"Tadi pagi, aku melihat Tiara kesini. Kamu membawanya pergi dan beberapa saat kemudian, orang mu datang untuk menjemputnya. Apa ada yang sedang kamu sembunyikan dariku?"
"Tidak, tidak ada,"
"Ingat Damian, sekeras apapun kamu berbohong aku pasti akan bisa mengetahuinya,"
Wajah Sinta berubah serius saat mengucapkan kalimat itu, membuat bulu kuduk Damian berdiri. Sinta tidak pernah mengancam orang lain, tapi kali ini berbeda. Dia harus tegas pada Damian, jangan sampai kesalahan yang sama terulang lagi.
Damian mungkin sudah dewasa, tapi bagi Ibunya Damian adalah seorang anak yang sedang bertumbuh. Sintia harus mengawasinya dengan ketat dan bersikap tegas padanya.
***
__ADS_1
Di tempat lain, tepatnya di rumah lama Damian yang telah lama tak di huni. Tiara merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur dan kamar barunya. Kamar itu terlihat luas dan megah, berbeda dengan kamar yang ada di rumahnya.
Seorang pelayan datang untuk melayani Tiara dengan baik, membersihkan kamar, menyiapkan makanan dan minuman. Dia juga menyiapkan air hangat untuk Tiara mandi, seperti ini kah rasanya menjadi orang kaya? Wajar saja kalau Tiara begitu sangat mendapatkan Damian.
Tiara mengambil ponselnya di dalam tas, dia mencoba untuk menghubungi Nirina dan memamerkan segalanya pada temannya itu. Tapi sayang, Nirina tidak mau mengangkat telfon darinya.
Tiara berfoto selfie, dia mengirimkan foto itu sambil menuliskan sebuah kalimat yang menusuk.
"Aku sedang hamil, sebentar lagi aku dan Damian akan menikah. Jangan iri ya!" kirim Tiara.
Wanita nakal itu melempar ponselnya ke sembarang arah, dia bangkit dan bergegas jalan menuju kamar mandi. Dia ingin berendam cantik sambil melihat indahnya pemandangan dari jendela kamar yang lebar seperti layar tancap.
"Andai aku terlahir dari keluarga kaya, aku pasti tidak akan bersusah payah hanya untuk mendapatkan segala kemewahan ini. Ha... Ha... Ha... " Tiara tertawa lepas.
Beberapa orang yang ada dirumah itu saling menatap dan merinding. Mereka mengira Damian telah menyukai wanita gila yang seharusnya di rawat di rumah sakit jiwa.
***
Nirina baru saja selesai memasak di dapur, dia kembali ke kamarnya untuk mengecek ponsel yang sedang dia cas. Matanya mendelik saat membaca sebuah pesan singkat yang di kirimkan oleh Tiara padanya.
Tiara hamil? Mereka berdua akan segera menikah? Tapi beberapa hari lalu Damian masih mengemis cintanya. Pria buaya!
Air mata Nirina jatuh membasahi pipi, meski sudah berusaha untuk tidak peduli pada Damian dan Tiara lagi, tapi pada akhirnya dua manusia itu masih bisa membuat Nirina patah hati dan kecewa.
Brukkkkk....
Nirina jatuh dan terduduk di lantai, seluruh sendi sendi di tubuhnya terasa lemas dan kendur. Dia tidak sanggup lagi berdiri sambil berpura pura tegar menghadapi semuanya.
"Kakak!" Sintia berlari menghampiri Nirina. Dia begitu sangat khawatir melihat keadaan Kakak perempuannya.
"Kakak baik baik saja kan?" Sintia memeluk tubuh Nirina.
"Ya, aku baik baik saja."
__ADS_1
Bersambung...