
Siang hari, mentari bersinar begitu terik. Nirina sedang sibuk merapihkan stok pakaian yang ada di dalam lemari toko. Sesekali gadis cantik itu menyeka keringat dengan tisu sambil memandangi pakaian bagus berharga mahal yang sedang dia rapihkan.
Begitu cantik dan indah, pakaian seperti itu dia pernah memilikinya, saat dia masih menjalin kasih dengan Damian. Andai saja Damian adalah pria setia, kisah cinta Nirina akan berlangsung sempurna.
Bisa memiliki pria tampan, mapan dan royal itu sebuah keberuntungan. Nyatanya, tidak ada yang sempurna di dunia ini, semua pernah melakukan kesalahan termasuk Damian. Jangan pernah kamu terlalu berharap banyak pada seseorang, karena hal itu bisa memberi rasa kecewa terlalu dalam.
"Sayang, kenapa kamu melamun? Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Jovan. Kemunculan atasannya itu membuat Nirina kaget, karena memang sejak tadi tidak ada orang lain di sekitarnya.
"Ah, Bos. Aku hanya sedang teringat pada keluargaku saja," Nirina berbohong. Dia terlalu malu untuk mengakui kalau dirinya tengah mengenang perjalanan asmaranya dengan sang mantan.
"Kalau bekerja jangan melamun, nanti pekerjaanmu hasilnya tidak optimal,"
"Siap Bos."
Dari jauh, Teresa memperhatikan Nirina. Dia sudah tau kalau wanita itu sedang di nasehati oleh Jovan. Bosnya memang sedikit cerewet, Teresa berharap Nirina bisa bersabar menghadapi Jovan. Karena meskipun cerewet, Jovan adalah tipe Bos yang perhatian dan baik pada para pegawainya.
Saat Jovan pergi, Teresa mencuri waktu untuk menghampiri Nirina dan mengajaknya berbincang sebentar.
"Dimarahin Bos ya? Kamu sih, kerja sambil melamun," celoteh Teresa. Nirina hanya membalas celotehan itu dengan senyuman.
"Yang sabar ya, dia memang sedikit cerewet orangnya," lanjut Teresa. Nirina mengangguk tanda setuju.
***
Di dalam kamarnya, Damian baru saja meminum satu butir pil pengantar tidur. Semenjak Nirina pergi dari hidupnya, Damian tidak bisa tidur kecuali mengkonsumsi obat tidur.
__ADS_1
Hatinya selalu resah dan gelisah, pikirannya semrawut seperti benang kusut. Hidup tanpa Nirina di sisinya benar benar membuatnya kehilangan semangat hidup, seperti hidup segan mati tak mau.
Sudah hampir sebulan Damian menyebar anak buahnya ke berbagai penjuru Indonesia, tapi belum satupun diantara mereka yang bisa menemukan keberadaan wanita itu. Dia memang pandai bersembunyi, atau memang Tuhan saja yang belum menghendaki mereka berdua kembali bertemu.
Klak...
Pintu kamar Damian terbuka, Sinta masuk dengan memasang wajah cemas dan khawatir.
"Kamu masih minum pil itu juga?" Tanya Sinta. Dia duduk di sisi putranya sambil menatapnya dengan tatapan iba.
"Iya, aku tidak bisa tidur kalau tidak meminumnya," sahut Damian.
"Ibu khawatir kalau ginjal mu akan rusak karena keseringan meminum obat itu," celoteh Sinta asal.
Sinta terdiam, apapun yang dia katakan saat ini pasti tidak akan masuk kedalam telinga putranya. Sudah bukan rahasia lagi kalau orang yang sedang patah hati dan bersedih akan sulit untuk dinasehati.
"Kita pasti bisa menemukannya lagi, Ibu akan membantumu," Janji Sinta.
"Semoga saja kita bisa segera menemukannya, sebelum aku benar benar menjadi gila."
***
Sore hari, Damian terjaga dari tidurnya. Dia merasa sedikit tenang karena bisa mendapatkan tidur nyenyak dan berkualitas meski harus dengan bantuan obat tidur.
Bisa di rasakan otot otot tubuhnya yang awalnya menegang kini mengendur, juga pikirannya yang kacau sedikit bisa di tata. Untuk menemukan keberadaan Nirina, Damian harus bisa bersikap rileks dan santai. Agar otaknya bisa berpikir dengan jernih.
__ADS_1
Damian memeriksa ponselnya, melihat apakah ada pesan masuk di sana. Ternyata benar, ada pesan masuk dari ART yang menjaga dan mengawasi Tiara.
"Nona baru saja kembali dari RS, dia mengalami flek ringan," tulis ART itu.
Kenapa wanita hamil itu selalu merepotkan? Setiap hari ada saja keluhan yang terjadi. Mual, sakit, pusing, lemas, pingsan, sekarang flek. Damian sedikit kesal dengan tubuh Tiara yang terlihat sehat tapi ternyata lemah.
Damian segera bersiap menuju rumah rahasianya, dia ingin melihat keadaan Ibu dan anak itu.
Dua jam berselang, Damian tiba di rumah pribadinya. Dia bergegas naik kelantai atas menuju kamar Tiara.
"Tak bisakah kamu membuatku tenang sehari saja?" Oceh Damian pada Tiara yang sedang di suapi bubur oleh ART-nya.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyusahkan mu. Kamu juga tidak perlu berlagak so perhatian kepadaku," sahut Tiara.
"Perhatian padamu? Itu tidak mungkin!" Damian mendengus kesal.
Air mata menetes membasahi pipi Tiara, meski dia telah berusaha bersikap kuat, hasilnya gagal lagi. Dia masih saja terluka pada perlakuan dan kata kata kasar seorang Damian.
"Aku membencimu, segera bebaskan aku dari tempat ini!" Pinta Tiara.
"Aku akan membebaskan mu, tapi nanti setelah anak itu lahir," Damian melebarkan kedua bola matanya. Menandakan kalau keinginannya tidak bisa di ganggu gugat.
Kini, tidak ada yang bisa Tiara lakukan selain pasrah. Karena sebagai wanita lemah dia tidak memiliki daya apa lagi kekuatan untuk melawan pria arogan itu.
Bersambung...
__ADS_1