Takdir Cinta Nirina

Takdir Cinta Nirina
Getar Itu Masih Ada.


__ADS_3

Damian mengikuti Nirina dan keluarganya pulang ke tempat kost. Sebuah hunian berukuran mini nan sempit, wanita itu enggan menawari mantan kekasihnya untuk masuk ke dalam dan membiarkannya terus berada di teras.


Ningsih menemani Damian, Meski benci, wanita paruh baya itu tetap menaruh rasa Iba pada Damian. Bagaimanapun, Damian pernah menjadi calon menantunya, dia selalu perhatian dan bersikap baik kepada keluarga kecil itu.


"Berhenti mengejarnya," pinta ningsih.


"Tidak bisa Bu, Ibu tau kan aku tidak bisa hidup tanpa dia,"


"Lalu, kenapa kamu berselingkuh?"


"Aku khilaf Bu, aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan mengulanginya lagi,"


Ningsih terdiam, dibalik keputusasaan seorang Damian, dia bisa melihat sebuah ketulusan. Tidak ada orang yang sempurna, semua pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidup. Dan semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.


Ningsih sangat menyadari hal itu, perlahan, dia bisa sedikit membuka pintu maaf untuk Damian. Tapi soal Nirina, dia pasti lebih perlu banyak waktu untuk bisa memaafkan karena luka yang begitu dalam.


"Jika Nirina mau memaafkan kamu dan kembali padamu, bagaimana dengan Tiara?" Ningsih penasaran.


"Aku sudah mengakhiri hubunganku dengannya, tapi aku mau menerima dan merawat anak itu sebagai bentuk tanggung jawabku,"


"Maksudmu kelak anak itu akan tinggal bersamamu?"


"Iya,"


"Sulit bagi wanita menerima kehadiran seorang anak dari pihak ke tiga, apa lagi merawatnya,"


"Iya, aku tau. Tapi Nirina wanita baik, aku tau dia bisa menerima anak itu karena anak itu tidak memiliki salah sedikitpun."


Diam diam, Nirina menguping pembicaraan Ibunya dan Damian. Hatinya merasa bergetar mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut pria menyebalkan itu. Setelah sekian lama, benarkah dia sudah berubah?


Rasa suka itu masih ada dihati Nirina, masih menempel seperti perangko. Salahkah jika dia memberi kesempatan dan menerima Damian kembali? Beberapa pertanyaan muncul di benak Nirina, menyiksanya secara perlahan.


Sintia mendekati Nirina, dia menepuk bahu Kakaknya pelan.

__ADS_1


"Apa Kakak mau memberinya satu kesempatan lagi?"


"Entahlah, aku bingung,"


"Keputusan apapun yang Kakak ambil, kami akan selalu mendukung Kakak," Sintia mengukir senyum.


Tak lama, seorang pria datang ke tempat kost. Dia berpenampilan sederhana tapi memiliki postur tubuh yang bagus dan wajah yang manis. Dia membawa sebuah plastik yang ditaksir oleh Damian berisi beberapa bungkus makanan.


"Permisi, Nirina nya ada?" Tanya Tito pada Ningsih.


"Ada di dalam," sahut Ningsih.


Beberapa saat kemudian muncul Nirina dari dalam kamar kost. Dia melempar senyum ramah, Tito membalasnya dengan senyuman yang sama.


Ada rasa tidak suka di dalam hati Damian, dia diam diam menatapi pria itu dari jauh. Terlalu sederhana, sepertinya bukan pria mapan. Apa pria itu adalah kekasih baru Nirina? Jauh sekali dengan standar minimal calon pendamping hidup wanita itu. Apa selera Nirina telah berubah?


"Ini makanan pesanan mu tadi pagi,"


"Ah, tidak kok. Justru aku berterimakasih karena kamu mempercayakan urusan santap menyantap padaku,"


"Ayo masuk dulu, nanti aku buatkan kopi," ajak Nirina. Tito yang kebetulan sedang haus langsung menyambut ajakan itu dengan senang hati.


Nirina dan Tito masuk ke dalam tempat kost, Damian berdiri dari posisi duduknya dan mengikuti mereka berdua. Dia tidak suka ada pria lain masuk ke kosan Nirina, meskipun di dalam ada Sintia.


"Damian, aku tidak mengajakmu masuk," ucap Nirina ketus.


"Siapa pria ini?" Tanya Damian kesal.


"Bukan urusanmu!"


"Tentu saja jadi urusanku, kamu milikku!"


Keduanya berdebat, Tito berdiri mematung memperhatikan sepasang manusia itu bertengkar. Apa yang harus Tito lakukan sekarang? Sebaiknya dia pamit pulang saja. Terlibat pertengkaran sepasang mantan kekasih bukanlah hal yang bagus.

__ADS_1


"Na, aku pulang saja ya. Lain kali aku datang lagi," pamit Tito.


"Loh, kok pulang? Kopinya bagaimana?"


"Lain kali saja kopinya,"


Tito mengambil langkah seribu, terlebih Damian terus menatapnya dengan tatapan sengit.


"Pria itu mengerikan sekali, seperti zombie," gumam Tito dalam hati.


"Buatkan kopi untukku," perintah Damian.


"Tidak mau," Nirina hendak meninggalkan Damian pergi tapi tangan Damian menahannya.


"Aku tamu mu bukan?"


"Aku tidak pernah mengharapkan kedatangan tamu pria playboy sepertimu."


Gemas dengan ocehan Nirina yang selalu kasar padanya, Damian menyambar bibir Nirina dan ********** secara brutal. Nirina berontak, tapi lama lama dia menikmati sentuhan yang telah lama tak dia rasakan itu.


Tanpa sadar, Nirina membalas ciuman bibir Damian. Hal itu membuat Damian tau kalau Nirina masih memiliki rasa padanya.


Damian menyudahi aksi panasnya, dia mengelus pipi Nirina dan menatapnya dengan tatapan sendu.


"Aku tau kamu masih mencintaiku," ceplos Damian.


"Pede sekali,"


"Tapi itu kenyataan bukan? Ayolah sayang, kembalilah padaku," paksa Damian.


"Aku tidak mau, sampai kapanpun aku tidak mau kembali denganmu lagi!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2