
Menjelang sore, Nirina pamit pulang. Sinta memberi segepok uang yang bisa digunakan oleh Nirina untuk membiayai keperluan Areta. Dia merasa ikut bertanggung jawab dengan biaya hidup anak itu, bagaimanapun dia adalah cucunya, darah dagingnya sendiri.
Tak enak hati, Nirina mengembalikan uang Areta. Bukannya di terima, Sinta malah menyodorkan kembali uang itu. Seolah tau, ekonomi keluarga Nirina sangat pas pasan untuk mengurus satu anggota keluarga lagi.
"Bu, Damian sudah mencukupi semua kebutuhan kami. Ibu tidak perlu memberikan uang lagi," Nirina angkat bicara. Dia tidak mau merepotkan calon mertuanya.
"Ambil uang ini, kalau kamu menolaknya aku akan marah padamu," ancam Sinta.
Akhirnya, setelah melalui perdebatan yang cukup sengit, Nirina mau menerima uang yang belum dia ketahui berapa jumlahnya itu. Usai memasukan uang pemberian Sinta ke dalam tas, Nirina beranjak pergi meninggalkan kediaman Sinta.
Nirina turun dari Taxi, dia sengaja turun di gang depan rumah karena ingin mampir ke Minimarket untuk membeli barang keperluan Areta. Seperti susu, Pampers, makanan ringan dan buah segar.
Tak disangka, Nirina melihat Sintia adiknya sedang menggandeng Areta disana. Mereka membuka box ice cream, mengambil dua cup ice cream dan langsung memakannya sebelum dibawa ke meja kasir.
"Ingat, jangan mengadu pada Nenek dan Ibumu soal ini. Aku tidak mau mereka memarahi ku karena memberimu makanan manis nan dingin," ucap Sintia dengan nada galak pada Areta. Seolah tau apa yang dibilang Sintia, Areta menjawab dengan anggukan.
Areta selalu rewel jika Nirina tidak ada di sisinya, satu satunya yang bisa mengobati ke rewelan Areta adalah ice cream. Sayang, Nirina selalu melarang Areta makan ice cream karena takut gigi anak itu bolong.
"Hah, menjaga anak kecil ternyata tidak mudah. Jika boleh memilih, aku lebih suka diberi PR matematika daripada menjaga anak balita," keluh Sintia lirih.
Disudut sana, Nirina mendengar semuanya. Dia tertawa geli melihat wajah adiknya yang putus asa. Mereka berdua selalu bertengkar saat bersama, tak disangka, dua wanita kesayangannya itu bisa akur juga.
Selesai mengambil barang belanjaannya, Nirina menghampiri Sintia dan Areta. Sintia panik, terlebih ice cream di cup Areta masih banyak.
"Jadi, begini kelakuanmu kalau Kakak sedang tidak ada?" Celoteh Nirina.
__ADS_1
"Maaf," Sintia menundukkan wajah karena takut.
"Ibu..." Panggil Areta. Anak perempuan itu mengulurkan kedua tangannya seraya minta di gendong.
"Pegang ini Sintia, kita pergi ke meja kasir," Nirina menyodorkan barang belanjaannya pada sang adik.
Puas berbelanja, Nirina mampir ke tukang sate ayam. Dia membeli empat porsi sate ayam dengan saus kacang dan lontong berukuran besar.
"Kakak baru dapat uang dari Kak Damian ya?" Tanya Sintia. Biasanya Nirina memang langsung membeli makanan enak dan belanja banyak jika baru diberi uang oleh Damian.
"Bukan dari Damian, tapi dari Ibu mertuaku," sahut Nirina.
"Enak ya, punya Ibu mertua kaya. Besok aku juga mau cari Ibu mertua kaya dan suami kaya ah," celoteh Sintia.
"Sekolah dulu yang benar, baru mikirin soal mertua dan suami," Nirina sewot.
Nirina memang digaji fantastis oleh Damian, dua puluh juta per bulan hanya untuk mengurus dan menjaga Areta. Tapi bukan berarti dia boleh boros.
"Apa saja barang yang kamu beli Areta? Banyak sekali," cicit Ningsih.
"Ini semua keperluan Areta Bu, Ibu mertuaku memberiku uang untuk membeli semua kebutuhan Areta,"
"Kenapa tidak menolak? Uang dari Damian sudah lebih dari cukup,"
"Aku sudah menolaknya, tapi dia malah mengancam ku. Jadi aku terima saja,"
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu,"
Sintia keluar dari dapur, dia membawa piring kosong dan sendok.
"Mau sampai kalian berdua mengobrol di depan pintu? Aku sudah lapar ingin makan sate ayamnya," teriak Sintia.
Nirina dan Ningsih tertawa, bukan hanya Sintia saja yang lapar, anggota keluarga lain juga merasa lapar.
Malam hari, Nirina beristirahat di atas kasur. Dia membiarkan Areta asik membongkar lemarinya dan mengeluarkan baju baju yang ada di dalamnya. Tubuh Nirina lelah, dia ingin bersantai sejenak meskipun dia harus merelakan pakaian dan isi lemarinya acak acakan.
Areta menemukan selembar foto seorang pria, dia mengambilnya dan membawanya pada Nirina.
"Bu,ni ciapa?" Tanya Areta dengan gaya bahasanya yang khas.
"Mana?"
"Ini,"
Nirina menerima foto pemberian Areta. Ternyata itu adalah foto pertunangannya dan damian dulu. Nirina terdiam, dia bingung harus berkata apa pada Areta. Apa mungkin memang sudah saatnya Nirina mengenalkan Areta pada Ayahnya?
"Ini Ayahmu," sahut Nirina.
"Ayah?" Areta menutup bingung.
"Iya. Ini Ibu, yang ini Ayah," tunjuk Nirina sambil menjelaskan. Sementara Areta hanya diam dan mengamati saja.
__ADS_1
Bersambung...