Takdir Cinta Nirina

Takdir Cinta Nirina
Bab 42


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Damian pulang dari penjara, dia langsung berkunjung ke rumah ibunya dan ternyata Sinta tak ada disana. Kata seorang art yang bekerja, Sinta sering sakit. Dia saat ini tinggal dirumah Nirina agar ada yang merawatnya dengan baik.


Langsung saja, Damian pergi ke rumah Nirina menggunakan mobil yang telah lama menganggur di bagasi rumahnya. Satu jam kemudian, Damian tiba disana. Kehebohan terjadi hingga membuat Sinta nyaris pingsan.


"Ada apa? Kenapa Ibu mau pingsan?" Tanya Nirina pada Sintia adiknya.


"Itu, kak Damian pulang." Sintia menunjuk kearah seorang pria yang baru saja keluar dari dalam mobil yang terparkir di halaman rumah.


Nirina menolah, sama seperti Sintia Nirina sangat terkejut tapi dia tidak pingsan. Nirina menangis, mulutnya reflek memanggil manggil Areta yang sudah pintar karena usianya semakin bertambah.


"Areta, Ayah pulang nak," teriak Nirina.


Areta keluar dari ruang tengah, dia berlari lalu berhenti dibawah kaki Damian. Areta menatap Damian beberapa saat sambil mengulum jari, hingga akhirnya Damian menggendongnya.


"Apa kabar cantik?" Areta tak menjawab sapaan Damian. Dia hanya senyum lalu melempar pandangan kepada Nirina.


"Bu," ucap Areta berulang.


" iya nak, itu Ayah kamu," Nirina menggelayut manja di lengan Damian.


Nirina mempersilahkan suaminya masuk, usai mandi dan berganti pakaian. Nirina mengajak Damian makan di ruang makan.

__ADS_1


"Mana Ibu Ningsih?" tanya Damian.


"Dia sedang pergi ke pasar, bentar lagi juga pulang," sahut Nirina sembari menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk.


Sinta membaik, dia menghampiri Damian dan memeluk putranya erat erat. Dia menangis haru, begitu juga dengan Nirina dan Sintia.


"Kenapa Ibu jadi kurus?" tanya Damian.


"Semua karena Ibu sering sakit, untung saja Nirina mau merawat ibu, jadi ibu cepat sembuh deh. Dia memang menantu idaman," puji Sinta.


Pipi Nirina bersemu merah, terlebih saat Damian mengelus p*hanya beberapa kali. Dia tau Damian sedang menginginkan sesuatu padanya.


Bulu kuduk Nirina berdiri karena sentuhan Damian. Hasrat yang lama terpendam meninggi, dia segera menitipkan Areta pada Sintia dan memberi kode untuk tidak mengganggunya beberapa jam saja.


***


Siang menjelang, rumah terlihat sepi. Kemana semua orang pergi? Damian bertanya tanya dalam hati. Suasana rumah sangat mendukung, Damian tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu.


Damian menggandeng Nirina dan membawanya masuk ke dalam kamar. Dia menutup pintu rapat rapat dan menguncinya dari dalam.


Jantung Nirina berdetak kencang tatkala Damian menatapnya dengan tatapan sayu. Aura tampan dari pria itu membahana, membuat Nirina tanpa sadar telah menelan air liurnya sendiri.


"Aku mau meminta jatah malam pertamaku yang tertunda, kamu siap bukan?" Tanya Damian.

__ADS_1


"Iya,aku siap," sahut wanita itu mantap.


Damian menggendong istrinya ala bridal style lalu meletakkannya diatas kasur. Tanpa aba aba pria itu langsung melucuti segala hal yang dikenakan istrinya hingga pemandangan yang begitu dia tunggu tunggu selama ini terlihat nyata dimatanya.


"Indah sekali, mulus dan kencang," bisik Damian.


Nirina menundukkan wajahnya karena malu. Dia bahkan sampai memalingkan tatapan matanya karena tidak kuat digoda terus oleh Damian. Seperti inikah rasanya menjadi pengantin baru? Malu, tapi mau.


Siang itu, hari seolah menjadi milik berdua. Damian tercipta hanya untuk Nirina, begitu juga sebaliknya. Keduanya saling menyatukan hasrat yang telah lama terpendam, tanpa mereka sadari suara berisik yang mereka timbulkan terdengar hingga keluar kamar.


Sintia mendelik saat menyadari suara berisik apa itu, dia langsung membawa Areta keluar rumah agar telinganya terhindar dari suara mesum yang bisa membangkitkan gairah wanita lajang seperti dirinya.


"Benar benar keterlaluan, apa mereka tidak sadar kalau bukan hanya mereka yang sedang berada di dalam rumah?" gerutu Sintia kesal.


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu bersungut sungut seperti itu?" Tanya Ningsih yang baru saja pulang dari pasar.


"Itu kak Damian dan kak Nirina, siang hari bolong main suaranya tidak bisa dikendalikan. Menggema sampai memenuhi semua isi ruangan rumah,"


"Damian sudah pulang kerumah? Kapan?" Ningsih sedikit terkejut.


"Tadi pagi,"


"Syukurlah kalau begitu, akhirnya mereka berdua bisa bersatu setelah banyak tragedi yang mewarnai hubungan mereka,"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2