
Nirina dan Sintia telah berdandan rapih, mereka memakai gaun dengan model juga warna yang sama. Andai wajah mereka mirip, pasti mereka dikira saudari kembar. Sayangnya, wajah mereka jauh berbeda. Nirina mirip dengan Ibunya, sementara Sintia mirip dengan mendiang Ayah mereka.
Waktu menunjukan pukul 18.30 menit, Nirina dan Sintia menuju rumah Santi dengan menaiki Taxi. Jalanan Ibu Kota malam itu lumayan padat merayap, sepertinya Kakak Beradik itu akan sedikit terlambat tiba di tempat acara.
"Jika kamu melihat wanita yang waktu itu jalan dengan Damian ada di sana, cukup colek pundak ku saja. Jangan bicara apa apa, mengerti?" Pesan Nirina.
"Iya, aku mengerti." Jawab Sintia patuh.
Tak lama, mobil yang mereka tumpangi berhenti. Usai membayar ongkos sesuai tarif, mereka turun dari mobil itu dan melangkah masuk ke dalam rumah Sinta.
Acara ulang tahun wanita tua itu dirayakan secara sederhana, hanya mengundang orang orang terdekat dan beberapa rekan kerja saja. Tidak ada dekorasi yang menonjol di dalam rumah besar itu, kecuali balon berwarna putih berbentuk angka 50.
Nirina langsung menyalami tamu tamu yang ada disana, dia gampang berbaur karena sudah pernah bertemu dengan mereka. Sementara Sintia, dia hanya mengekor sambil menundukkan wajahnya hingga hampir menyentuh lantai.
Sintia sangat pemalu, itu kenapa dia lebih suka menyendiri di dalam kamar daripada harus menghadiri sebuah acara. Jangankan acara ulang tahun,ada acara pengajian di rumah tetangga pun dia tak mau datang.
Santi mengenali sosok calon menantunya dari jauh, dia langsung menghampiri Nirina dan memeluknya dari samping.
"Kapan datang sayang?" Tanya santi.
"Baru saja," sahut Nirina singkat.
"Mana Ibumu?" Sinta mencari kesana dan kemari. Tapi sosok calon besannya tidak ada di sana.
"Dia tidak bisa datang, jadi aku mengajak adikku Sintia,"
"Hallo,Tante," sapa Sintia.
"Hallo, bagaimana kabarmu nak?" Santi tersenyum manis.
"Baik," sahut Sintia malu-malu.
"Ayo, kalian berdua ikut Ibu," ajak Santi.
Nirina dan Sintia mengikuti kemana langkah kaki Santi pergi. Mereka berdiri di sisi meja utama, tempat kue ulang tahun tiga tingkat berada.Damian menghampiri Nirina dan Sintia, dia berdiri di tengah tengah keduanya.
Santi mulai mengucapkan kata sambutan, setelah itu mengucapkan terimakasih kepada tamu undangan yang datang. Tak lupa, Santi memamerkan calon menantu kesayangannya dan mengumumkan kalau pernikahan mereka akan dilaksanakan sebentar lagi.
__ADS_1
Ruangan besar itu menjadi ramai karena tepuk tangan. Kemudian, sosok Tiara muncul kepermukaan dari tengah-tengah pengunjung.
Sintia mencolek pundak Nirina, lalu melempar pandangannya kepada seseorang. Nirina mengerti kode itu dan ikut menatap kearah pandangan Sintia. Alangkah terkejutnya Nirina saat mendapati sosok wanita yang dimaksud Sintia adalah Tiara sahabatnya sendiri.
"Jadi, selama ini Damian ada main dengan Tiara? Pantas saja Tiara menjauh dariku," ucap Nirina dalam hati.
Acara diakhiri dengan potong kue dan makan malam bersama, Nirina duduk di meja yang sama dengan Damian, Sinta dan Sintia. Sementara Tiara duduk di meja yang berbeda.
Nirina bisa melihat dengan jelas raut wajah cemburu dari sahabatnya itu, hingga akhirnya terbesit ide dalam diri Nirina untuk membuat Tiara semakin terbakar hingga ke akar-akar hatinya.
Nirina menyentuh pipi Damian, mengusapnya beberapa kali kemudian mengecupnya. Damian merinding, pria itu memejamkan mata dan menikmati sensasi manis yang diberikan calon istrinya.
"Aku rindu padamu," bisik Nirina.
"Sama, aku juga merindukan mu," sahut Damian.
Tiara geram, dia menyenggol gelas minum yang ada di hadapannya dan membuat sebuah keributan.
Prakkkkk...
Bunyi gelas jatuh ke lantai, beberapa pasang mata menatap ke arah Tiara dengan tatapan tajam. Sementara Nirina menyunggingkan sebuah senyum manis.
Seorang wanita blasteran tiba-tiba muncul menghampiri mereka. Dia adalah Micell, saudara sepupu Damian yang baru pulang dari luar negri.
"Hallo,"sapa Micell ramah.
"Nirina, dia adalah sepupuku Micell. Dia adalah wanita yang terlihat sedang bersamaku kemarin," Damian merakit kebohongan baru.
"Benarkah?" Nirina menatap ragu.
"Benar,"sambung Micell.
Tanpa ba, bi, bu, Nirina bangkit dari kursinya. Dia pindah tempat duduk di samping Tiara, Nirina sengaja melakukan hal itu untuk memancing Damian menghampirinya. Benar saja, Damian datang menyusul.
"Kenapa pindah?" Tanya Damian sambil melirik kearah Tiara.
"Aku ingin bicara padamu, tapi tidak enak jika Ibumu harus mendengarnya,"
__ADS_1
"Mau bicara apa?" Tanya Damian lagi.
Nirina tak langsung menjawab, dia melihat kearah Tiara dan tidak sengaja melihat barang bukti baru perselingkuhan mereka berdua. Gelang yang Tiara pakai sama persis dengan gelang yang di pakai wanita seksi pada foto tak senonoh waktu itu.
"Jadi benar, wanita itu adalah Tiara? Dan keduanya sudah berhubungan cukup jauh? Menyebalkan sekali!" Gerutu Nirina dalam hati.
Mata Nirina berkaca kaca, dia tak lagi sanggup membendung air matanya agar tidak keluar.
"Damian, berhentilah berbohong. Aku sudah mengetahui semuanya," ucap Nirina terbata.
"Mengetahui apa?"
"Kamu dan Tiara berselingkuh bukan? Bahkan kalian sampai tidur bersama, betul begitu bukan?"
Damian terdiam, bibirnya kelu tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Sementara Tiara tertawa senang di dalam hati.
"Tiara, aku adalah orang yang selalu membantumu dalam keadaan sulit. Tapi apa yang kamu lakukan sebagai balasannya untukku? Mengambil kekasihku?"
"Itu bukan murni salahku, Damian dulu yang mengejar ku," Tiara membela diri. Dia melimpahkan semua kesalahan pada Damian.
"Damian, apa ada yang ingin kamu katakan padaku?" Tantang Nirina.
"Maafkan aku Nirina, aku khilaf," ucap Damian lirih.
"Aku benci padamu!"
"Tolong maafkan aku Nirina, jangan tinggalkan aku," Damian memotong seperti seorang pengemis.
"Kamu begitu sangat memohon padaku, lalu Tiara kamu anggap apa?"
"Aku tidak mencintainya, dia hanya pelarian saja," ucap Damian lantang. Tiara mendelik, dia kesal pada ucapan Damian.
"Dengar itu Tiara, dia hanya menginginkan tubuhmu, tidak dengan hatimu. Kamu pikir kamu akan menang dariku setelah memberi kenikmatan pada Damian? Tidak Tiara, kamu akan tetap kalah!" Sentak Nirina.
Sinta menoleh ke belakang, dia melihat putranya sedang menggenggam tangan Nirina sambil memohon. Sementara Nirina menatap dengan tatapan penuh luka.
"Apa yang sedang terjadi diantara mereka? Apa ada yang aku tidak ketahui?" Batin Sinta.
__ADS_1
Bersambung...