
Dua hari berlalu, Damian membuka pintu kamar gudang. Dia mengeluarkan Tiara dan mengembalikannya kedalam kamar. Tubuh Tiara terlihat lemas, wajahnya pucat dan kedua matanya cekung. Seorang ART yang khawatir dengan keadaan janin yang sedang Tiara kandung langsung memberinya makan dan minum.
Selesai makan, Tiara diberi Vitamin. Dia juga dimandikan, dibersihkan kuku dan rambutnya sampai wangi dan mengkilat.
"Ini pelajaran untukmu agar kamu tidak sembarangan membuka mulut lagi, aku paling tidak suka dengan orang yang sengaja memperkeruh hubunganku dengan Nirina," ucap Damian.
Tiara hanya membisu dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun, tatapan matanya kosong, pikirannya melayang jauh entah kemana. Dia terlihat seperti orang yang terkena gangguan jiwa. Siapapun yang melihat, pasti akan merasa kasihan padanya.
Damian pergi meninggalkan kamar Tiara, wanita itu menarik nafas lega dan mulai menunjukan tanda tanda kehidupan.
"Nona, apa anda baik baik saja?" Tanya ART wanita paruh baya itu.
"Aku baik baik saja, terimakasih karena sudah mau merawatku Siapa namamu?" Tanya Tiara balik.
"Namaku Sumi. Nona harus kuat dan bersabar untuk janin yang sedang anda kandung, lain kali lebih berhati hatilah pada pria itu,"
"Iya, terimakasih atas nasihatnya."
Bu Sumi pergi, tinggallah tiara sendiri di dalam kamarnya. Dia tidak bisa menghubungi siapapun sekarang untuk meminta pertolongan, karena tas dan ponsel milik Tiara telah di sita oleh Damian.
Siang hari, Tiara merasa haus. Dia pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Samar samar, telinganya mendengar Damian sedang mengobrol dengan seseorang di sana, karena penasaran Tiara menguping obrolan itu.
__ADS_1
"Jadwalkan kunjungan dokter sebulan sekali untuk mengecek kandungan Tiara, pastikan anak itu selalu sehat dan tumbuh dengan baik," pesan Damian.
"Ternyata anda sangat perhatian pada Nona itu Tuan,"
"Perhatianku hanya untuk anaknya, bukan untuk Tiara. Jika dia telah melahirkan, aku akan mengambil anak itu dan menendang Tiara agar menjauh dari kehidupanku!"
Deg,,,,,
Hati Tiara terasa sakit mendengar ucapan pedas dan niat buruk Damian padanya. Benar benar habis manis sepah di buang, setelah semuanya telah Tiara berikan padanya Damian tidak membutuhkan kehadirannya lagi.
Air mata jatuh membasahi pipi Tiara, dia mengelus perutnya sambil membatin. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Perlukah dia melarikan diri? Bagaimana caranya dia bisa melarikan diri dari Damian tanpa tertangkap lagi?
Pria itu memiliki banyak pengawal dan pesuruh handal, bisa keluar dari pintu utama dengan selamat saja sudah beruntung. Apa lagi bisa kabur lebih dari dua puluh empat jam?
***
Tiara kembali ke dalam kamarnya, dia mengurungkan niatnya untuk mengambil air minum. Dia melompat keatas kasur, menutupi wajahnya dengan bantal dan menangis.
Pikirannya terbayang pada kelakuan buruk yang telah Tiara lakukan pada Nirina. Mungkinkah apa yang sedang dia alami sekarang adalah sebuah hukum karma dari Tuhan? Jika ya, kenapa rasanya begitu menyiksa sekali? Kalau saja dia tau kalau hukum alam akan sesakit itu, mungkin Tiara tidak akan menjadi pelakor terselubung.
Klak,,,
__ADS_1
Damian membuka pintu kamar Tiara, dia menatap wanita itu dari jauh. Ada sedikit rasa sesal di hati Damian karena sudah menyiksa Tiara selama dua hari tanpa memberinya makan dan minum. Andai saja Tiara patuh pada perintahnya, mungkin drama penyiksaan itu tidak akan pernah terjadi.
Sebelumnya, Damian tidak pernah bersikap kasar pada wanita. Tapi rasa kesal karena di putuskan begitu saja oleh Nirina dan ulah nakal Tiara membuat Damian stres hingga hilang akal. Pria Cassanova itu seolah telah berubah seperti seorang psikopat jahat.
Di ranjangnya, Tiara berusaha mengatur nafasnya agar terlihat teratur. Tentunya agar Damian mengira Tiara sedang tertidur lelap dan dia enggan untuk mendekati dirinya.
"Aku benci kamu Damian! Pria gila yang tak berperasaan! " Umpat Tiara di dalam hati.
***
Di rumahnya, Jaka mondar mandir kesana dan kemari. Dia pusing memikirkan dimana Tiara berada. Wanita itu tiba tiba pergi dari rumah, nomor ponselnya tak bisa di hubungi. Mungkinkah dia telah menjadi korban penculikan?
Ingin hati Jaka melapor kehilangan putrinya ke kantor polisi, tapi wanita itu memang sering menghilang dari rumah dan baru kembali setelah beberapa minggu. Sepertinya Jaka harus menahan rasa gelisah dan khawatirnya sampai beberapa minggu lagi.
Jaka menghubungi nomor ponsel Nirina untuk menanyakan keberadaan putrinya, tapi wanita itu tidak mau mengangkat telfon darinya. Padahal, biasanya Nirina selalu cepat mengangkat telfon dari keluarga itu, khususnya jika keluarga itu sedang dalam kesusahan dan membutuhkan pertolongan.
Apa hubungan pertemanan Nirina dan Tiara sedang tidak baik baik saja? Rasa penasaran mencuat di hati dan kepala Jaka. Terlebih, sudah beberapa bulan Nirina dan Tiara tidak pernah menghabiskan waktu bersama seperti biasanya.
"Istriku, andai kamu ada disini sekarang. Aku pasti tau apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi anakmu yang keras kepala dan liar itu," keluh Jaka lirih sambil menatap langit langit rumahnya.
Tak terasa, air matanya jatuh membasahi pipi, semua karena rasa rindu pada mendiang sang istri yang tiba tiba saja mencuat di hati.
__ADS_1
Bersambung...