
Hari minggu adalah hari yang paling ditunggu oleh murid pemalas seperti Sintia, hari dimana dia bisa rebahan seharian sambil menonton drama Korea. Tidak ada yang berani mengusik ketenangan Sintia, termasuk Ibunya sendiri.
"Sintia, ada teman sekolahmu diluar," teriak Ningsih dari luar kamar.
"Iya, minta dia menunggu sebentar," Sintia mematikan ponselnya dan menaruhnya diatas meja belajar.
Siapa yang datang berkunjung kerumahnya siang bolong begini? Dia juga tidak membuat janji temu dengan teman sekolahnya kemarin. Sintia melangkah dengan jiwa penasaran.
"Hai..." Seorang gadis berambut kribo melambaikan tangan pada Sintia. Dia melempar senyum manis dengan wajah ceria.
"Adel, ayo masuk," Sintia mempersilahkan tamunya masuk ke ruang tamu.
"Tumben main ke rumah? Ada perlu apa?" Sintia menatap curiga.
"Temani aku ke mall, aku ingin membeli kado ulang tahun untuk pacarku," sahut Adel.
"Siang ini begitu terik, jangankan jalan ke mall, keluar kamar saja aku malas," ucap Sintia.
Ningsih keluar dari ruang tengah, dia membawa dua buah botol jus rasa stroberi dan memberikannya pada Adel dan Sintia.
"Pergilah temani Adel, toh hanya sebentar saja. Jangan terus menerus jadi manusia gua, nanti jadi kuper loh," sindir Ningsih.
"Tapi Bu, aku sedang tidak ada uang lebih untuk jalan-jalan. Kakak belum gajian, dia belum memberiku uang jajan," Sintia memonyongkan bibirnya sedikit.
"Kamu tenang saja, nanti Ibu kasih. Dua ratus ribu cukup kan?" Tanya Ningsih.
"Cukup Bu, lebih dadi cukup malah," Sintia berjingkrak kegirangan.
"Del,tunggu ya.Aku mau siap-siap dulu," Lanjut Sintia.
"Oke." Adel mengacungkan kedua jempol tangannya ke atas.
Usai pamit pada ningsih,Sintia dan Adel pergi ke mall dengan naik angkutan umum. Sintia sengaja mencari angkutan yang tidak banyak penumpang agar tidak berdesak desakan didalam.
Tiga puluh menit kemudian, keduanya tiba di tempat tujuan. Keduanya bergandengan tangan dan berjalan masuk ke dalam mall.
Hembusan angin AC langsung mendinginkan tubuh dua remaja cantik itu. Hawa gerah yang tadi sempat menyelimuti mereka langsung terhempas begitu saja.
"Kamu mau beli kado apa buat pacar mu?" Sintia penasaran.
"Belum tau, aku bingung," Adel meringis kuda.
__ADS_1
"Berapa uang yang kamu punya?"
"Hanya dua ratus ribu,"
"Emh... Bagaimana kalau kamu kasih dia parfum saja?"
"Parfum? Ide kamu bagus juga,"
"Kalau begitu ayo kita pergi ke lantai atas, disana banyak stand parfum,"
"Ayo."
Sintia dan Adel menaiki eskalator untuk naik ke lantai dua, tanpa sengaja mata Sintia menangkap sosok Damian tengah bergandengan tangan dengan seorang wanita.
"Bukankah itu Kak Damian? Siapa wanita yang sedang digandengnya itu?" Gerutu Sintia lirih.
"Damian? Siapa Damian?" Adel ikut penasaran.
"Dia calon suami kakakku,"
"Gawat, jangan-jangan pria itu selingkuh. Ayo kita ikuti dia dari belakang,"
"Nanti saja kita beli, ini keadaan darurat," Adel menyeret Sintia dan berjalan mengendap dibelakang Damian.
Wanita yang sedang bersama Damian saat itu adalah Tiara, dia sedang meminta jatah belanja bulanan dari kekasihnya itu. Dia membeli baju, tas, sepatu, serta beberapa pasang pakaian dalam super seksi.Mereka tidak menyadari kalau Sintia dan Adel sedang memata-matai mereka dari jauh.
Emosi Sintia naik saat melihat Tiara memamerkan pakaian dalam dengan model jaring laba laba pada Damian. Wajah keduanya terlihat mesum, seolah mereka sedang membahas hal-hal yang fulgar.
"Bagaimana dengan ini?" Tiara mengedipkan matanya sebelah.
"Wow, kamu akan sangat seksi kalau memakai itu," Damian mengangkat kedua alisnya ke atas.
"Apa kamu suka?"
"Ya, aku suka. Itu akan membuatku bergairah dalam waktu lama,"
"Kalau begitu belikan ini dua pasang untukku,"
"Jangankan dua pasang, dua lusin juga akan aku beli,"
Hubungan Tiara dan Damian kembali lengket pasca pertengkaran kemarin. Keduanya saling membutuhkan, jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk bertengkar terlalu lama.
__ADS_1
Minggu ini Damian tidak mengajak Nirina jalan, dia beralasan memiliki banyak pekerjaan kantor yang harus dia selesaikan di rumah. Nirina mempercayainya begitu saja, tanpa dia tau kalau tunangannya itu sedang berselingkuh.
"Kamu dengar obrolan mereka tadi?" Tanya Sintia pada Adel.
"Iya, aku dengar. Menjijikan sekali, mereka berdua pasti pasangan selingkuh," Adel menyahut dengan nada geram.
"Aku ingin memotret mereka, tapi aku lupa tidak bawa ponsel. Kamu bawa ponsel tidak?"
"Tidak,"
"Yah, gagal deh kita ambil barang bukti,"
"Katakan saja langsung pada Kakakmu, aku yakin dia pasti akan mempercayai kamu. Kamu kan anak jujur," Adel menepuk pundak Sintia.
"Iya, akan kukatakan kebusukan Kak Damian pada Kakakku nanti,"
Sintia dan Adel keluar dari toko pakaian dalam, mereka pergi ke stand parfum dan membeli dua botol parfum untuk hadiah ulang tahun kekasih Adel.
keinginan Sintia dan Adel untuk berjalan jalan hilang, setelah urusan mereka selesai, mereka langsung buru-buru pulang untuk menyampaikan berita duka tentang perselingkuhan Damian pada Nirina.
***
Tiba di rumah, Sintia langsung mencari keberadaan Nirina. Mulai dari kamar, dapur, hingga ke ruang tv. Ternyata, wanita itu sedang asyik menyirami bunga di halaman belakang rumah mereka.
"Kakak!" Panggil Sintia sambil berlari lari kecil.
"Ada apa? Kenapa kamu gugup seperti itu?" Nirina bangkit dari posisi jongkok dan berjalan menghampiri Sintia.
"Aku melihat Kak Damian di mall, dia sedang berjalan dengan seorang wanita," Kisan Sintia.
"Mungkin wanita itu sepupunya," ucap Nirina santai.
"Apa pria akan bicara tentang s*x dan berpikiran kotor pada sepupu sendiri? Aku rasa, wanita itu selingkuhannya," Sintia begitu sangat yakin tentang persepsinya itu.
Jegerr,,,,
Seketika hati Nirina hancur bagai petir di siang bolong. Selama ini dia selalu berpikir positif pada tunangannya itu, bahkan sekalipun dia banyak menemukan tanda mencurigakan. Apakah Damian benar benar selingkuh? Dengan siapakah dia selingkuh? Jika benar dia selingkuh, apa penyebab dia tega mengkhianati kasih suci seorang Nirina?
Mata Nirina berkaca kaca, sekalipun dia mencoba untuk kuat dan santai, tetap saja dia adalah seorang wanita yang terlahir cengeng.
Bersambung...
__ADS_1