
"Bu, aku mau pindah kerja," tutur Nirina. Kalimat itu membuat Ibu dan adiknya sedikit terkejut.
"Kenapa pindah? Bukanya sudah enak kerja di situ?" Celoteh Ningsih.
"Aku ingin pindah ke luar kota, mencari pekerjaan baru dan lingkungan baru. Aku ingin menenangkan diri untuk beberapa waktu,"
"Tapi..." Ningsih keberatan.
"Sudah lah Bu, izinkan Kakak pergi," sambung Sintia. Dia mendukung penuh segala keputusan yang diambil oleh Nirina.
"Baiklah, terserah kamu saja. Tapi, sering sering menghubungi rumah ya!" Ucap Ningsih.
"Iya,"
"Memangnya Kakak sudah dapat pekerjaan baru?" Sintia penasaran.
"Sudah, aku akan ikut temanku dan tinggal satu kost disana,"
"Sering sering tengok rumah ya Kak, rumah sepi kalau tidak ada Kakak,"
"Iya, sayang."
Nirina meneruskan menyantap makanannya meskipun mulutnya sedang tidak enak makan. Dia harus tetap makan untuk mengisi ulang tenaga, karena mencoba move on itu tidak hanya menyita banyak waktu dan pikiran saja, tapi juga tenaga.
Nirina tidak memberitahukan pada Ningsih dan Sintia kalau kekasih gelap Damian sedang hamil, andai saja mereka tau, mereka berdua pasti akan bertambah murka dan benci pada Damian.
Pria itu memang benar benar keterlaluan! Bisa bisanya dia berselingkuh sampai kekasih gelapnya hamil. Kini Nirina tidak hanya ogah bertemu Damian lagi, tapi juga merasa jijik kepadanya.
Selesai makan, Nirina pergi ke dalam kamarnya dan bergegas untuk tidur. Tapi tiba tiba dia mendengar suara seseorang mengetuk pintu, dia pun bangun untuk memeriksanya.
Klak,,,
Suara pintu terbuka. Ternyata tamu yang datang ke rumahnya malam malam adalah Damian.
"Mau apa kamu datang ke mari?" Tanya Nirina ketus.
__ADS_1
"Aku mau minta maaf padamu,"
"Aku sudah memaafkan mu, pergilah dari sini!" Usir Nirina.
"Nirina, kembalilah padaku. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama,"rengek Damian seperti anak kecil.
"Maaf, aku tidak bisa kembali denganmu lagi. Dari pada kamu terus memelas padaku, lebih baik kamu urusi calon anak dan calon istrimu itu. Mereka lebih membutuhkan kamu daripada aku," sindir Nirina.
Damian syok, ternyata secepat itu Nirina mengetahui kabar tentang kehamilan Tiara.
Pasti Tiara yang sudah membocorkan kabar itu pada Nirina, dia sengaja mau memperkeruh hubunganku dan Nirina.
"Nirina, siapa yang datang?" teriak Ningsih dari jauh.
"Orang cari alamat Bu," Nirina berbohong.
"Pergi dari sini, atau kamu akan di hajar hingga menjemput ajal oleh Ibuku,"
Brakkk...
Nirina menutup pintu rapat rapat, dia menguncinya dan melenggang pergi menuju kamarnya lagi.
***
Damian melangkah penuh emosi menuju kamar Tiara, dia menjambak rambut wanita itu dan menyeretnya keluar kamar.
"Damian, apa apaan kamu! Lepaskan aku!" Tiara berontak.
"Beraninya kamu memberitahu Nirina tentang kehamilan mu itu!"
"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin berbagi kabar bahagia saja, apa aku salah?"
"Pengawal..." Teriak Damian. Dua orang pria berkepala botak langsung menghampirinya.
"Ada apa Bos?" Tanya salah seorang diantara mereka.
__ADS_1
"Masukan Tiara ke dalam gudang, kunci dari luar. Jangan beri dia makan dan minum selama dua hari," perintah Damian.
"Siap Bos!"
Tiara mendelik, dia tidak menyangka Damian bisa sekejam itu padanya. Padahal saat ini dia sedang hamil muda, Damian tidak peduli pada keselamatan dan kesehatan calon anaknya sendiri.
"Damian, kamu pria jahat! Pria brengsek!" Maki Tiara berulang ulang.
***
Di dalam gudang yang gelap dan sempit, Tiara meringkuk kedinginan. Semua kemewahan yang dia inginkan tiba tiba sirna hilang begitu saja.
Tidak ada lagi kasur empuk, ruangan ber-AC, pakaian bagus dan makanan enak. Perut Tiara mulai terasa lapar, tenggorokannya juga mulai terasa kering.
Niat hati ingin merebut kebahagiaan Nirina malah kebahagiaannya sendiri yang hancur berantakan. Damian tidak pernah serius menginginkannya, dia hanya menginginkan pelayanan plus plus darinya saja.
"Damian, awas kamu!"
***
Nirina menutupi wajahnya dengan bantal, dia menangis, meluapkan segala kesedihan dan rasa sakit hatinya pada Damian dan Tiara. Melihat wajah Damian lagi setelah sekian lama seperti merobek bekas luka yang belum lama kering.
Keputusannya untuk pergi dari kota itu adalah hal yang benar, dia tidak akan di ganggu oleh Damian lagi dan mungkin akan lebih cepat move on.
Tring....
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Nirina. Dia membuka pesan itu dan ternyata itu adalah pesan dari Teresa sahabatnya.
"Berkemas lah, kita akan berangkat besok sore ke kota X naik bus," bunyi pesan dari Teresa.
"Oke, aku akan berkemas sekarang." Balas Nirina.
Nirina bangkit dari atas ranjang, dia membuka lemari pakaiannya dan mulai mencari pakaian dan barang barang yang perlu dia bawa. Nirina tersadar, Lima puluh persen isi dari lemari pakaiannya adalah pemberian dari Damian. Mulai dari pakaian, sepatu, tas, jam tangan dan lain sebagainya.
Semua barang pemberian Damian dimasukan ke dalam kardus. Nirina membawa kardus itu ke halaman belakang dan memasukannya ke dalam tong sampah kemudian membakarnya.
__ADS_1
"Selamat tinggal masa lalu, semoga aku bisa mendapatkan ganti yang jauh lebih baik dari kamu," doa Nirina dalam hati.
Bersambung...