
Nirina mengambil cuti kerja selama beberapa hari, dia sangat bersyukur karena Bosnya mengizinkannya untuk mengambil cuti. Segera, Nirina pulang ke kota tempat kelahirannya untuk menemui keluarganya juga mencari jawaban atas chat singkat yang di kirim Tiara.
Tiba di kota kelahirannya, Nirina tak langsung pulang ke rumah. Dia bersembunyi didalam Taxi dan menunggu Damian pulang kantor dari sebrang jalan.
Lama menanti, sosok Damian akhirnya keluar dari sebuah gedung yang menjulang tinggi. Dia masuk kedalam mobil mewahnya dan Nirina mengikutinya dari belakang. Ternyata, bukan rumah Sinta yang Damian tuju, melainkan rumah lain yang letaknya cukup jauh dari kantornya.
Meski terlihat besar dan tak kalah bagus dari rumah Santi, rumah itu tidak memiliki tetangga. Kanan dan kirinya di jajari oleh lahan kosong yang ditumbuhi oleh banyak pohon berukuran sedang.
"Inikah rumah yang dimaksud oleh Tiara?" Batin Nirina.
Damian turun dari mobil, dia melangkah masuk ke dalam rumah. Sementara Nirina tetap diam tak bergeming di tempat duduknya.
"Nona, apa Nona mau turun?"
"Tidak, kita pergi ke kavling kencana nomor tiga puluh ya," sahut Nirina pada sopir Taxi sambil menyebutkan alamat rumah Ibunya.
Untuk saat ini, yang penting Nirina telah mengetahui keberadaan Tiara. Sisanya, dia susun nanti secara perlahan.
***
"Kenapa putriku menangis terus huh?" Tanya Damian pada Dewi.
"Maaf Tuan, Nona Tiara tidak mau memberikan asi,"
"Kepada tidak mau?"
"Sejak semalam anak ini menangis terus, sepertinya Nona Tiara merasa stres,"
"Mengurus satu anak saja tidak becus!"
Damian pergi ke kamar Tiara, dia menghampiri wanita berwajah pucat yang sedang duduk melamun diatas ranjang. Damian menyeretnya dan membawanya secara kasar untuk menemui Areta.
"Lepaskan aku!" Tiara berontak. Tapi damian tidak peduli dengan perlawanan ringan wanita itu.
Damian menghempaskan Tiara, membuat wanita itu terjatuh ke lantai.
"Cepat susui anakku!"
__ADS_1
"Susui saja sendiri, bukankah dia anak mu?"
"Cih, sebenarnya apa mau mu huh?"
"Bebaskan aku dari sini, aku ingin pulang ke rumah menemui Ayahku,"
"Aku akan membebaskan mu, tapi nanti jika Areta sudah tidak memerlukan asi lagi,"
"Kamu benar benar menjadikan aku sebagai budak dirumah ini? Pria menyebalkan. Semoga harimu selalu diwarnai oleh kesengsaraan seperti yang sedang aku rasakan saat ini!" Sebuah sumpah serapah keluar dari mulut Tiara. Bukannya takut, Damian malah tersenyum sinis. Seolah olah omongan Tiara hanyalah angin lalu.
Saat ini, Tiara benar benar merasa tertekan. Dia frustasi, karena perlakuan buruk yang dia dapat dari Damian. Juga karena belum memiliki pengalaman untuk mengurus anak dengan baik dan benar.
"Dewi, berikan Areta padanya. Jangan pernah kamu meninggalkan Areta hanya berdua dengan Tiara, mengerti?"
"Iya Tuan," Dewi mengangguk.
Tiara menggendong Areta yang sedang menangis karena haus dan lapar, dia pergi mencari tempat duduk dan mulai menyusui Areta. secara ajaib, Areta terdiam. Dia meminum dengan kuat asi dari Ibunya hingga dia merasa puas dan kenyang.
"Kenapa Tuan melarang ku meninggalkan Areta berdua dengan Ibunya? Apa karena dia takut Nona Tiara akan melakukan hal buruk pada anaknya sendiri?" Dewi mencoba menebak nebak dalam diam.
Sementara itu Tiara menangis sesenggukan. Dia sudah merasa tidak tahan tinggal disini, dia ingin pergi melarikan diri dan menemui Ayahnya. Tiara sangat berharap kalau Nirina akan segera datang untuk menolongnya. Meskipun dia tidak tau, apakah hadapannya itu bisa menjadi kenyataan.
***
Damian terus merenungi perbuatanya pada Tiara. Apakah dia sudah keterlaluan pada wanita itu hingga membuatnya tertekan seperti orang tidak waras? Dia bukan jahat, dia hanya ingin bersikap tegas saja.
Wanita seperti Tiara harus diberi pelajaran, agar tidak bersikap semaunya sendiri. Begitu kira kira keyakinan yang dipegang teguh oleh Damian setelah Tiara membuat hubungannya dengan Nirina hancur berantakan.
Bicara soal Nirina, apa kabar dia sekarang? Sudah beberapa hari ini Damian tidak menghubunginya. Apakah dia merasa rindu dan kehilangan atas kepergiannya?
Ah, mungkin tidak. Dia sangat ingin Damian pergi dari hidupnya. Dia sangat membenci Damian karena kesalahan yang pernah Damian lakukan. Damian menundukkan wajahnya, dia mengepalkan tangan karena benci pada dirinya sendiri.
Damian teringat pada sorot mata Nirina saat menatapnya kemarin, tidak hanya khawatir, setitik rasa cinta juga masih ada disana. Tapi kenapa Nirina menolak kebenaran itu? Apa karena Damian terlalu buruk untuk mendapatkan cintanya kembali?
Karena nila setitik, rusaklah susu Sebelanga. Karena kesalahan sedikit, rusaklah semua kebaikan yang pernah dia lakukan pada Nirina dan kerabatnya. Damian lupa, walaupun sedikit luka yang ditimbulkan oleh penghianatan Damian begitu dalam, hingga membuat Nirina trauma untuk memulai suatu hubungan kembali.
"Nirina, aku tidak akan pernah menyerah terhadapmu," ucap Damian lirih.
__ADS_1
***
Klak...
Ningsih membuka pintu saat mendengar seseorang mengetuknya. Awalnya dikira tamu, tapi ternyata malah anaknya sendiri.
Ningsih sedikit terkejut, karena dia baru saja kembali beberapa hari lalu. Tapi Nirina sudah menyusulnya pulang ke rumah. Apa ada sesuatu yang penting yang perlu dia selesaikan di kota ini?
"Kenapa tidak bilang kalau mau pulang? Ibu akan buatkan makanan enak kesukaan kamu," tutur Ningsih.
"Apapun makanan buatan Ibu aku akan suka, karena rasanya pasti selalu enak."
"Kamu lapar kan? Ayo kita makan dulu,"
Ningsih menggiring Nirina ke ruang makan, tak lupa dia menyeret Sintia yang sedang asyik bermain hape untuk ikut bergabung bersamanya.
Sintia sangat senang mengetahui Kakaknya kembali ke rumah, apa lagi dia membawa oleh oleh makanan yang begitu banyak. Sintia memang doyan makan, apalagi memakan makanan ringan.
Nirina menyendok dua centong nasi, dua sendok tumis kacang campur udang dan satu potong telur dadar berukuran besar. Usai membaca doa, dia langsung menyantap makannya dengan lahap.
"Hati hati makannya Kak, nanti tersedak," oceh Sintia.
"He... He... He... Perutku lapar sekali, sejak pagi aku belum sarapan," ucap Nirina malu malu.
"Kenapa tidak membeli makanan di jalan tadi?"
"Kakak malas makan di jalan, takut mabuk. Malu dengan penumpang lain,"
"Kalau begitu, kalian berdua sama. Sama sama takut mabuk di jalan, pasti kamu juga di jalan tidur terus karena minum obat anti mabuk bukan?" Sambung Ningsih.
"Iya, betul. Kok Ibu bisa tau?" Tanya Nirina balik.
"Karena Sintia juga begitu,"
Makan malam kali ini terasa hangat karena seluruh anggota keluarga berkumpul. Mereka saling melepas rindu, berbagi cerita suka maupun duka selama mereka tinggal terpisah.
Tidak ada yang lebih menyenangkan di dunia ini selain bisa berkumpul dengan keluarga, andai sosok Ayahnya masih hidup, kebahagiaan Nirina dan keluarganya pasti akan sangat lengkap seperti keluarga yang lainnya.
__ADS_1
Bersambung...