
Dua hari kemudian, Damian pulang ke rumah utama. Meski tubuhnya terasa lemah tapi hatinya terasa berbunga bunga karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan anak perempuannya.
Damian masuk kedalam kamar Tiara, dia melihat Tiara sedang duduk bersandar di ranjang sambil menyusui anak mereka. Wajah Tiara sedikit pucat, matanya menghitam karena kurang tidur.
Saat malam, bayi kecil itu selalu menangis. Dia tidak mau tidur dan maunya digendong. Tiara kesalahan, terlebih dia tidak memiliki pengalaman mengurus anak.
"Berikan dia padaku?" Pinta Damian.
"Apa kamu ingin merebutnya dariku dan mengusirku dari rumah ini sekarang juga?"
"Tidak, dia masih kecil dan masih membutuhkan kehadiran mu,"
"Seorang anak akan selalu membutuhkan sosok Ibunya, bahkan sampai dia tumbuh dewasa,"
"Jangan banyak bicara, cepat berikan dia padaku!"
Tiara memberikan putrinya kepada Damian, meski sedikit was was, Tiara percaya kalau pria itu tidak akan berani melukai putrinya sendiri. Apa lagi wajah mereka berdua bagai pinang dibelah dua, hanya usia dan jenis kelaminnya saja yang berbeda.
"Aku akan memberi nama anak ini Areta," ucap Damian.
Tiara bisa melihat dengan jelas raut wajah bahagia di sana, kebahagiaan yang tidak pernah diberikan oleh orang lain selain dirinya. Tapi kenapa pintu hati pria itu masih tertutup untuknya? Ah, masa bodoh. Tiara sudah tidak mau mengharap cinta pria itu lagi.
"Dewi...!" Panggil Damian. Seorang wanita muda mengenakan baju Baby sitter muncul dan masuk ke dalam kamar Tiara.
"Dewi akan membantumu merawat anak ini, jadi tidak ada alasan untuk kamu mengeluh kalau merawat anak bayi itu melelahkan," Damian menatap Tiara tajam.
Tiara pernah berkata pada Damian, dia tidak suka pada anak kecil. Karena anak kecil itu hanya bisa membuat repot dan susah saja. Karena itu Damian sedikit khawatir kalau Tiara akan melakukan hal buruk pada Areta kecil.
"Oek... Oek..." Bayi kecil itu menggeliat dan menangis di pelukan Damian. Dan tiba tiba, bayi itu mengompol, bukannya marah Damian malah tertawa terbahak bahak.
"Dasar anak nakal! Aku anggap ini sebagai tanda perkenalan darimu," Damian mengukir senyum.
***
Rumah besar itu awalnya sepi seperti kuburan, tapi setelah kehadiran Areta rumah kedua Damian terasa ramai. Hari hari Damian menjadi lebih berwarna, dan kesedihannya karena penolakan dari Nirina sedikit berkurang.
__ADS_1
Kring... Kring... Kring...
Ponsel Damian berdering, Damian mengambil ponselnya dan mengangkat telfon dari Sinta.
"Hallo Bu, ada apa menelfon ku?"
"Kamu dimana? Kenapa tidak pulang pulang ke rumah?"
"Aku sedang banyak pekerjaan di kantor, aku akan pulang setelah pekerjaanku selesai,"
"Oek... Oek..." Areta menangis. Sinta terkejut karena mendengar suara anak bayi menangis di telfon.
"Anak siapa itu?" Tanya Sinta penasaran.
"Dia anak temanku, aku sedang menggendongnya," Damian berbohong.
"Andai saja kamu jadi menikah dengan Nirina, mungkin sebentar lagi aku akan memiliki seorang cucu,"
"Tenang saja Bu, aku pasti akan memberikan seorang cucu untuk mu,"
Sinta merindukan kehadiran putranya, akhir akhir ini mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Sinta juga sangat penasaran dengan hasil pertemuan Damian dan Nirina, apakah wanita itu mau menerima Damian lagi? Atau malah menolaknya?
Bagaimanapun caranya, dua manusia itu harus bersama. Sinta sudah terlanjur sayang pada Nirina dan enggan menerima wanita lain sebagai calon menantunya. Sekali Nirina, tetap Nirina, Damian tidak boleh naksir perempuan lain.
***
Dewi tak hanya mengurus Areta dengan baik. Dia juga melayani Tiara dengan telaten, mulai dari menyiapkan makan, minum, dan vitamin yang perlu di konsumsi.
Tiara sangat beruntung karena dikelilingi oleh orang orang baik. Hingga dia tidak merasa sendiri dalam penjara mewah seorang Damian.
"Apa tidak ada makanan lain selain sayuran? Aku tidak suka sayuran," keluh Tiara.
"Ibu menyusui harus banyak makan sayur, agar badan fit dan asi melimpah."
Terlihat sekali Dewi seorang Baby sitter yang berpengalaman, dia pasti diambil dari yayasan terbaik dan dibayar dengan gaji mahal oleh Damian. Meski baik, Tiara kurang suka pada Dewi karena dia suka memaksakan kehendak sama seperti Damian.
__ADS_1
"Ngomong omong, kamu orang mana?" Tanya Tiara sambil mengunyah makanannya.
"Saya orang Surabaya,"
"Jauh sekali ternyata. Kamu wanita muda yang cantik, kenapa mau menjadi baby sitter?"
"Saya mau menjadi Baby sitter karena gajinya besar, bahkan lebih besar dari gaji seorang guru. Pekerjaan jenis apapun akan saya lakukan, asal gajinya sesuai dengan keinginan saja."
"Masuk akal sekali. Wanita memang memiliki kebutuhan banyak dan itu artinya memerlukan uang dalam jumlah banyak,"
Dewi memiliki tubuh yang bagus dan wajah yang sensual, benar benar tipe wanita idaman dari Damian. Tiara menduga, kelak wanita itu akan di jadikan simpanan juga oleh Damian sama seperti dirinya.
Saat ini hati Damian sedang kosong, dia membutuhkan sosok pengganti Nirina. Jika dia menolak Tiara, maka artinya Damian akan mencari orang baru untuk menggantikan posisi Nirina di hatinya.
"Kalau makan jangan sambil melamun Non, nanti nasinya mengembang," sindir Dewi.
"Iya, aku akan menghabiskan makanan ini dengan segera,"
Puas bermain dengan Areta, Damian mengembalikan bayi itu pada Tiara. Sudah waktunya untuk anak itu pergi tidur, agar dia bisa tumbuh dengan baik dan sempurna.
Sebelum meninggalkan kamar Tiara, Damian mencium pipi putrinya dan membuat bayi itu bersin bersin.
"Apa kamu baru saja merokok?" Tanya Tiara.
"Tidak," sahut Damian singkat.
"Pasti kamu belum mandi, jadi Areta bersin bersin," ujar Tiara.
Damian mengendus ketiaknya kanan dan kiri secara bergantian, dia mencium aroma asam disana. Damian memang belum mandi sejak tadi, bukan karena malas, tapi karena badannya belum benar benar sembuh dari sakit.
"Kalau begitu aku akan pergi mandi dulu,"
Damian keluar dari kamar Tiara, dia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Bersambung...
__ADS_1