
Du****a tahun** kemudian**...
Areta tumbuh menjadi anak balita yang lucu, pintar dan aktif. Dia selalu berhasil membuat orang orang di sekitarnya merasa takjub dan kagum padanya.
Hari ini adalah ulang tahun Areta yang ke - 2 tahun, Nirina berniat membawa Areta ke penjara untuk menjenguk Damian sang Ayah. Sayang, Ningsih melarang. Wanita itu meminta Nirina pergi sendiri dan Areta di titipkan kepadanya.
Areta pergi ke penjara, dia membawa banyak makanan dan camilan untuk Damian. Dia juga membawa buah buahan segar untuk pria itu. Jam besuk tiba, Nirina diperbolehkan untuk membesuk dan mengobrol dengan Damian sebentar.
"Bagaimana kabarmu? Tanya Nirina.
"Baik. Kenapa sekarang jadi jarang ke sini?" Protes Damian.
"Anakmu sudah besar, aku fokus untuk merawatnya. Apa lagi dia sangat aktif dan tidak bisa diam, Ibuku kewalahan jika dititipi Areta terlalu sering," tutur Nirina.
"Bagaimana kabar Ibuku? Apa kamu sering menjenguknya? Aku rindu sekali padanya,"
"Nanti pulang dari sini aku akan pergi ke rumah Ibumu, akan aku sampaikan salam rindumu padanya,"
Sintia tidak pernah sekalipun menjenguk putranya di penjara, dengkulnya terlalu lemas untuk menghampiri gedung tahanan itu. Entah karena apa, mungkin karena dia merasa kasihan dan tidak tega pada Damian.
Sudah lama juga Nirina tidak berkunjung ke rumah Sintia, Nirina terlalu sibuk mengurus dan menjaga Areta.
Melihat Damian baik baik saja, Nirina merasa lega. Tubuh Damian menggemuk sejak masuk penjara, dia jarang berolahraga dan kurang aktifitas. Meski begitu Nirina tetap suka padanya.
"Aku rindu padamu," ucap Damian.
__ADS_1
Mata Nirina berkaca kaca mendengar kalimat merdu nan romantis dari kekasihnya. Andai saja saat itu tidak ada orang lain yang ada disana, Nirina pasti sudah memeluk dan mencium Damian untuk mengobati rindu.
"Aku juga rindu padamu sayang," balas Nirina. Wanita itu menggenggam jemari Damian dan mengecupnya lembut.
***
Usai menemui Damian, Nirina pergi ke rumah Sintia. Dia ingin mengetahui kabar terbaru dari calon mertuanya disana. Sudah lama dia tidak menemui wanita itu karena kendala jarak juga waktu luang yang dia miliki.
Sintia mengukir senyum lebar saat melihat Nirina datang mengunjunginya. Terlebih saat melihat bingkisan makanan yang wanita itu bawa. Dua bungkus nasi Padang berukuran besar dan satu pak kerupuk kulit.
Keduanya saling berpelukan satu sama lain, kemudian mencium pipi dan masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana kabarmu Bu?" Tanya Nirina.
"Kabarku juga baik. Sudah makan belum? Kita makan bersama yuk, aku bawa makanan enak nih,"
"Ayo kita makan bersama,"
Keduanya pergi ke ruang makan, mereka menyantap makanan masing masing dengan nikmat dan khidmat. Selesai makan, Nirina membantu mencuci piring, kemudian dia membuat dua gelas minuman dingin dan meletakkannya di meja tamu.
Nirina tidak memiliki rasa canggung di rumah itu, dia sudah menganggapnya seperti rumah sendiri. Apa lagi dia sering datang ke rumah itu, sebelum sibuk mengurus si kecil Areta.
"Kamu lama sekali baru main kesini? Kenapa Areta tidak diajak?" Sintia menyodori Nirina dengan dua pertanyaan sekaligus.
"Aku sibuk dengan Areta, sampai tidak ada waktu untuk keluar rumah. Areta tidak aku ajak karena Ibu takut aku repot di jalan," Nirina melempar senyum tipis.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak mengunjungi Areta di rumahmu. Jika melihatnya aku jadi ingat Damian, hatiku jadi sedih dan tidak bisa menahan tangis,"
"Tidak apa apa, yang penting kita semua sama sama dalam keadaan sehat,"
Nirina memperhatikan Sintia lekat lekat, rambut hitamnya mulai beruban. Tubuhnya sedikit kurus dan wajahnya terlihat sedikit kusam. Sepertinya dua tahun terakhir dia tidak melakukan perawatan kecantikan, hingga kesan awet muda yang melekat padanya hilang.
Sintia tau, Nirina sedang mengamatinya. Dia pasti pangling dengan penampilannya saat ini yang terlihat tua dan kusam. Sintia memang tidak pernah pergi ke salon, dia terus mengurung diri di kamar karena malu dengan cibiran orang orang yang mengenalnya.
Berita tentang Damian masuk penjara telah menyebar, juga tentang Damian yang memiliki anak terlarang dan diurus oleh mantan tunangannya. Berita itu sungguh sangat mengganggu suasana hati dan pikiran Sintia, hingga Sintia menarik diri dari lingkungan sekitarnya.
Sintia sudah berusaha bersikap cuek dengan berita tersebut, tapi nyatanya tidak bisa. Hatinya terlalu lemah untuk diajak berpura pura kuat.
"Kamu dari mana?" Sintia meneguk minuman dingin yang dibuat Nirina.
"Dari penjara, aku baru saja menjenguk Damian," sahur Nirina.
"Bagaimana keadaanya? Apa dia merindukan aku?" Sintia terlihat sangat antusias.
"Tentu saja dia merindukan Ibu, sudah dua tahun kalian tidak bertemu."
Tiba tiba Sintia menangis, dia merasa bersalah karena tidak pernah menjenguk anaknya selama di penjara. Sebenarnya dia ingin datang ke sana, tapi dia tidak memiliki kekuatan hati untuk melakukan hal itu.
Kelemahan seorang Ibu adalah saat melihat anaknya hidup susah dan sengsara. Terlibat masalah besar dan pelik, tapi Ibu tidak bisa membantu menyelesaikannya. Wajar saja, semua Ibu didunia ini menyayangi anaknya, sama seperti Sintia dan Ningsih.
Bersambung...
__ADS_1