Takdir Cinta Nirina

Takdir Cinta Nirina
Aduan Calon Mertua


__ADS_3

Nirina mengunjungi calon Ibu mertuanya, sudah lama mereka tidak bertemu dan saling berbagi cerita. Hubungan keduanya terjalin sangat baik, bahkan lebih baik dari sekedar hubungan menantu dan mertua.


Nirina wanita yang perhatian, Sinta menyukainya. Sementara hal yang membuat Nirina nyaman dengan Sinta adalah sifat wanita itu yang ramah dan tidak suka mengatur. Tidak semua hubungan menantu dan mertua itu horor seperti kata orang-orang, buktinya Nirina dan Sinta berhubungan baik dan sangat dekat.


Tok... Tok... Tok...


Nirina mengetuk pintu rumah sinta, tak berapa lama seorang ART datang membuka pintu.


"Hallo Nona," sapa Bu Darmi.


"Hallo juga. Ibu ada?"


"Ada, baru saja pulang dari butik. Mari masuk,"


Dinda masuk kedalam rumah besar itu tanpa rasa canggung, dia sudah menganggap rumah Sinta seperti rumahnya sendiri. Dinda duduk di sofa tamu, sementara Bu Darmi naik ke lantai atas untuk memanggil majikannya.


Seorang wanita paruh baya bergaun biru terlihat menuruni anak tangga, dia melempar senyum kecil seperti bulan sabit pada Nirina. Meski kecil, senyum itu sangat berarti bagi Nirina. Senyum senang calon mertua saat dikunjungi oleh calon menantunya.


Keduanya berpelukan, lalu wanita bernama Sinta itu mempersilahkan Nirina duduk.


"Kenapa lama sekali baru datang ke sini?"


"Maaf Bu, akhir-akhir ini aku sedang sibuk,"


"Seperti Damian saja, saking sibuknya sampai tidak pernah pulang ke rumah. Apa dia menginap di rumahmu?


"Tidak, dia tidak menginap di rumahku. Kami belum menikah, mana mungkin Ibuku mengizinkan dia menginap di rumahku,"


"Kalau dia tidak menginap di rumahmu,lalu dia tidur dimana?" Sinta kebingungan. Sama seperti Sinta Nirina juga kebingungan.


"Aku tidak tau," sahut Nirina lemas.


"Ah, mungkin dia telah membeli apartemen untuk kalian tinggali setelah menikah. Dan dia sedang merenovasinya,"

__ADS_1


"Tapi, kenapa dia tidak mengatakan apa-apa padaku Bu?"


"Biasalah, kode genit dari pria. Dia ingin memberi kejutan untukmu,"


Bu Darmi datang, dia menyuguhkan kue dan minuman. Obrolan mereka terhenti sejenak karena mata Nirina tertarik pada baju yang dikenakan oleh Bu Darmi. Kaos itu, seperti kaos yang Nirina beli untuk hadiah ulang tahun Tiara.


Nirina merasa yakin itu adalah kaos yang di belinya, karena kaos itu di pesan secara khusus dan hanya di produksi beberapa saja di kota ini.


"Bi, apa itu kaos pemberian Tiara?"


"Iya Non, ko Non bisa tau?" Bu Darmi penasaran.


"Ah, itu sama dengan kaos milikku,"


Nirina kecewa, bisa bisanya Tiara memberikan hadiah darinya untuk orang lain. Benar benar-benar tidak menghargai si pemberi hadiah.


"Ngomong ngomong soal Tiara, apa dia sedang ada masalah dengan Damian?Kemarin aku melihat dia ribut dengan Damian didepan butik," tutur Sinta.


Sebuah tanda tanya besar muncul dibenak Nirina, dia terus memikirkan tanda tanya itu sampai lupa menjawab pertanyaan Ibu mertuanya.


"Nirina!" Panggil Sinta dengan nada tinggi.


"Ah, Iya," Nirina terperanjat kaget.


"Aku akan bertanya langsung pada Damian nanti," lanjut Nirina.


***


Sore hari, Nirina pamit pulang pada calon mertuanya. Dia menaiki Taxi yang dipesan secara online.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Dinda terus melamun. Dia terus memikirkan kata-kata Sinta.


Dimana Damian tinggal saat ini? Kenapa tidak memberitahu aku? Lalu, ada masalah apa dia dengan Tiara?

__ADS_1


kepala Nirina merasa pusing, semua pertanyaan itu mengarah ke arah negatif. Kalau Damian sedang mencoba menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi, sesuatu itu apa?


Tiba di rumahnya, Nirina langsung masuk kedalam kamar. Dia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi nomor Damian.


Tut... Tut... Tut...


Suara telfon tersambung, pria itu mungkin sedang sibuk sampai tidak ada waktu untuk mengangkat telfon dari tunangannya.


Nirina berpindah haluan, dia mencoba menghubungi nomor Tiara. Sempat terdengar suara tersambung beberapa kali, tapi kemudian temannya itu mematikan telfon darinya.


" Sial! Dua manusia itu benar-benar membuatku hampir mati karena penasaran!"


Dinda kesal, dia melempar ponselnya ke ranjang dan pergi kearah dapur. Saat sedang kesal seperti ini enaknya makan makanan yang berkuah dan pedas, lalu meminum minuman dingin yang manis.


Sesederhana itu memang pelarian seorang Nirina jika sedang memiliki masalah. Untung saja tubuhnya tidak mudah membengkak gara-gara banyak makan. Jadi, dia tidak perlu susah-susah untuk melakukan diet.


Sintia keluar dari kamarnya karena mencium aroma wangi dari mie instan, dia terkejut saat melihat Nirina tengah menyantap semangkuk mie berukuran besar dengan aneka toping diatasnya. Ada bakso, telur, sosis dan ceker ayam. Hampir semua isi pasar tumpah ruah di sana kecuali sayuran.


"Kak, kamu sedang kesurupan reog Ponorogo?" Celetuk Sintia asal.


"Sembarangan saja kamu kalau bicara!" Nirina mendelik kesal.


"Lihat porsi makan mu itu, mana ada orang normal makan sebanyak itu? Apa lagi kamu seorang wanita," ledek Sintia.


"Bilang saja kamu mau minta,"


"Apa boleh?" Sintia mengedipkan kedua matanya.


"Ambil mangkok sana!"


"Asyik...." Sintia meringis senang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2