
Dua minggu kemudian...
Nirina mengajak serta, Sintia dan Ningsih menjenguk Damian di penjara. Mereka pergi bertiga dengan menaiki Taxi yang dipesan khusus secara online.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Nirina saat ini, jantungnya terasa berdegup kencang. Dia was was membayangkan bagaimana reaksi Areta saat melihat Ayahnya. Bagaimana kalau nanti Areta takut pada Damian dan tidak mau ikut dengan dengannya? Semoga saja Damian tidak tersinggung, karena anak anak membutuhkan waktu cukup lama untuk berkenalan.
Damian terlihat antusias saat melihat Nirina dan keluarganya mengunjunginya. Terlebih saat dia melihat sosok anak balita yang tengah di gendong oleh Ningsih.
"Bagaimana kabarmu nak?" Tanya Ningsih pada Damian.
"Baik. Ngomong ngomong, apakah itu areta?"
"Ya, betul itu Areta,"
Ningsih langsung menyerahkan Areta pada Damian, pria itu menggendong anaknya dengan penuh suka cita. Ajaibnya, Areta tidak menangis. Seperti dia sudah familiar dengan wajah dan suara seorang Damian.
Nirina tersentuh melihat pemandangan indah antara pasangan suami istri itu. Matanya berkaca kaca, makin lama bendungannya pecah dan dia menangis dengan kuat.
Sintia memeluk Nirina sambil mengusap punggungnya, dia mencoba menenangkan perasaan Kakaknya yang sedang dilanda gusar. Dari rumah, Nirina sudah bertekad untuk pura pura tegar di depan Damian, tapi kenyataanya air mata wanita itu tetap meleleh.
"Areta, itu Ayah kamu nak," ucap Nirina.
"Ayah... Ayah..." Ucap Areta berulang ulang.
__ADS_1
Suasana haru menyelimuti ruangan itu, Damian yang bertubuh besar dan kekar pun tidak bisa menahan air mata bahagianya menetes. Bayi merah yang dulu sering dia pangku kini sudah menjadi besar. Bisa berjalan, dan lancar memanggil Ayah.
"Nirina, terimakasih telah mau merawat anakku dengan baik," Damian merangkul pundak Nirina.
"Sama sama," Nirina menyeka air matanya.
***
Siang harinya, Nirina dan keluarga pergi mengunjungi sita ibu dari Damian. Alangkah terkejutnya dia saat mendapati wanita itu berwajah pucat, sedikit kurus dan bibirnya berwarna keunguan.
Wanita itu telah lama sakit, sudah berobat kemana mana tapi tidak kunjung sembuh juga. Sinta merasa umurnya tidak akan lama lagi. Dia ingin melihat Nirina dan Damian menikah.
"Sejak kapan Ibu sakit seperti ini?" Tanya Nirina.
"Jangan pesimis seperti itu Bu,"
"Segeralah menikah dengan Damian ya, kamu mau kan nak?"
"Aku mau, tapi..."
"Jangan kebanyakan tapi, minggu depan kalian harus menikah. Aku sendiri yang akan mengurus semuanya,"
Nirina melongo, dia bingung mau berkata apa. Dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Nirina melirik kearah Ibunya, Ningsih menganggukkan kepala, mengisyaratkan kalau dia menyetujui rencana Sinta.
__ADS_1
"Baiklah, aku ikut kemauan Ibu," ucap Nirina mantap.
Mungkin ini yang dinamakan jalan jodoh seseorang tidak ada yang tau, meski sempat putus dan saling membenci, rasa cinta pada akhirnya kembali mempersatukan keduanya.
***
Pasca pertemuannya dengan Sinta siang tadi, Nirina terus merenung di dalam kamarnya. Dia sibuk memikirkan apakah pernikahannya dengan damian tidak terlalu terburu buru? Tapi mau bagaimana lagi? Sinta sudah sakit sakitan, Nirina juga takut kalau tiba tiba wanita itu pergi meninggalkan mereka semua. Sementara Nirina dan Damian belum resmi menjadi suami istri.
Akad nikah Nirina dan Damian sudah pasti akan di laksanakan di dalam penjara, malam pertama mereka akan di tunda hingga pria itu bebas dari masa tahanan.
Nirina menggeleng gelengkan kepalanya, dia berusaha mengusir pikiran kotor yang mulai bersarang di dalam kepalanya. Bagaimana bisa dia memikirkan soal malam pertama dalam situasi seperti itu? Benar benar memalukan.
Setelah menikah nanti, apakah Damian bisa menahan hasratnya untuk mencumbu Nirina? Sementara saat belum menikah saja, pria itu sering mengajak Nirina untuk melakukan *** ***. Nirina tertawa, dia merasa geli membayangkan betapa tersiksanya pria itu harus menahan hasratnya yang menggebu dalam waktu cukup lama.
"Apa yang sedang Kakak tertawa kan?" Sintia berdiri didepan pintu kamar Nirina yang terbuka separuh.
"Tidak ada. Mana Areta?"
"Dia tidur dengan Ibu di depan tv,"
"Ya sudah, biarkan saja. Ambilkan selimut untuk mereka,"
"Oke."
__ADS_1
Bersambung...