Takdir Cinta Nirina

Takdir Cinta Nirina
Renungan Malam


__ADS_3

Nirina masih saja sulit terlelap, padahal jam sudah menunjukan pukul 23.30 menit. Dia memikirkan Damian, pria sejuta pesona itu terlihat begitu tulus saat memintanya kembali.


Memaafkan kesalahan yang pernah Damian lakukan itu hal yang tidak sulit, tapi menerima anak Damian dari wanita lain, itu adalah hal yang mustahil baginya. Rasa cemburu akan selalu ada saat Nirina melihat anak itu, baru membayangkan saja dia sudah begidik ngeri.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Ningsih.


"Ibu pasti sudah tau, aku tidak perlu menjawabnya bukan?"


"Kalau kamu masih suka padanya, terima saja dia kembali. Dari pada kamu gila karena terus memikirkannya setiap hari, sampai sulit makan, sulit tidur,"


"Aku kembali pada Damian? Ibu bercanda? Lalu bagaimana nasib Tiara dan anaknya? Aku tidak sudi dimadu!"


"Bukankah Damian sudah bilang kalau hubungan mereka sudah berakhir?"


Nirina terdiam, dia merasa sedikit ragu kalau hubungan terlarang dua manusia itu memang telah berakhir. Jika memang sudah berakhir, wajarkah jika Nirina kembali pada Damian? Apakah Damian tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa depan dengan wanita lain?


Ah, isi kepala Nirina saat ini benar benar seperti benang kusut, sulit sekali untuk diurai. Orang orang mungkin sedang sibuk memikirkan akan membangun bisnis apa untuk masa depan, tapi Nirina masih saja sibuk dengan masalah percintaan.


"Kenapa pikiran Ibu berubah? Apa dia sudah bisa memaafkan kesalahan Damian?" Nirina bertanya tanya dalam hati.


Kring... Kring... Kring...


Ponsel Nirina berdering, itu adalah telfon dari Damian mantan kekasihnya. Mau apa dia menelfon nirina tengah malam begini?


"Aku bilang, jangan ganggu aku lagi!" Sentak Nirina saat mengangkat telfon.


"Aku sakit, kepalaku pusing dan badanku demam tinggi," ucap Damian tiba tiba.


Rasa khawatir muncul dalam diri Nirina, jiwa ingin tahunya meronta ronta.

__ADS_1


"Dimana kamu sekarang?"


"Hotel XXX, kamar nomor sepuluh,"


"Aku akan datang membawakan kamu obat,"


Klik...


Nirina menutup telfon, dia bangkit dari atas kasur dan bersiap pergi menemui Damian.


"Kamu mau kemana malam malam begini?" Tanya Ningsih.


"Damian sakit, aku akan mencarikan obat untuknya,"


"Ternyata dibalik sikap judes mu itu, masih ada rasa peduli padanya," sindir Ningsih.


"Aku pergi dulu Bu,"


"Iya, aku tau."


Nirina pergi menuju Hotel dengan menaiki ojeg pangkalan, setelah melakukan perjalanan kurang lebih satu jam, tibalah Nirina di tempat tujuan.


Nirina mempercepat langkahnya, dia menenteng satu kotak penuh berisi obat obatan yang selalu dia sediakan di dalam kosan. Berharap ada salah satu jenis obat yang cocok untuk mengatasi rasa sakit yang sedang di derita oleh mantan kekasihnya.


Tok... Tok... Tok...


Nirina mengetuk pintu, Damian bangkit dari tempat tidur dan berjalan merambat untuk membuka pintu.


Klak...

__ADS_1


Wajah pucat Damian muncul dari celah pintu, bibirnya sedikit membiru dan ada keringat berbasis di keningnya yang cukup lebar. Nirina masuk kedalam, usai menutup pintu dia mengukur suhu tubuh Damian.


39 o C, demam yang cukup tinggi. Wajar saja jika pria itu terlihat lemas dan tak bertenaga.


"Apa yang kamu rasa?" Tanya Nirina khawatir.


"Badanku demam,menggigil. Kepalaku pusing, perutku mual dan sedikit sakit,"


"Pasti typus mu kambuh, apa beberapa hari ini kamu telat makan?" Tanya Nirina lagi. Kali ini, Damian menjawab dengan anggukan.


Nirina mengeluarkan beberapa jenis obat dari kotak yang dia bawa, tanpa menunggu lama Damian langsung meminumnya.


"Tidurlah, aku yakin kamu akan baikan," perintah Nirina.


Damian kembali berbaring diatas kasur, Nirina menutupi tubuh besar pria itu dengan selimut. Nirina beranggapan selimut bisa membantu seseorang untuk menurunkan demam, walaupun hal itu tidak terbukti secara ilmiah.


"Terimakasih," Damian mengukir senyum.


"Sama sama. Aku pulang dulu ya, aku akan meninggalkan kotak obat ini di sini," pamit Nirina. Damian menahannya, pria itu mencengkram tangan Nirina dengan kuat.


"Jangan tinggalkan aku, malam ini saja. Please!" Damian menatap mata Nirina lekat lekat.


"Tapi aku," Nirina tercekat.


"Aku mohon," Damian memasang wajah memelas.


"Iya, baiklah. Aku akan menjagamu malam ini saja, cepat pergi tidur."


Damian menutup mata, Nirina duduk di sofa sambil mengawasi pria itu dari jauh. Jika sedang sakit dan tak berdaya seperti itu, Nirina merasa kasihan pada Damian. Rasa bencinya pada Damian seperti hilang seketika tanpa bekas sedikitpun.

__ADS_1


Damian benar benar seperti memiliki sihir atau kekuatan supranatural yang bisa mempengaruhi pikiran orang lain. Terlalu lama dengan Damian seperti sedang membahayakan diri sendiri, Nirina harus bisa menjaga diri dengan baik dan benar.


Bersambung...


__ADS_2