
Semalam, Nirina menelfon Damian. Dia mengajak pria itu untuk bertemu di sebuah cafe yang biasa dijadikan tempat untuk mereka berdua berkencan. Damian menyetujuinya, mereka membuat janji bertemu pagi ini pada puku 10.00 wib.
Langit terlihat sedikit mendung, matahari menyembunyikan sinarnya di balik awan. Warna dan suasana saat itu menjadi kelabu, sama seperti perasaan Nirina saat ini.
Sejak semalam dia terus memikirkan bagaimana nasib hubungannya dengan Damian ke depan jika memang pria itu berselingkuh. Haruskah dia mengakhiri segalanya dengan mudah? Sementara banyak hal yang telah mereka perjuangkan untuk hubungan ini.
Air mata kembali menetes membasahi pipi, Nirina buru buru menyeka butiran air bening itu sebelum ada orang lain yang melihatnya.
"Maaf, aku terlambat." Ucap Damian sambil menyeret kursi di samping Nirina. Pria itu masih bisa mengukir senyum ramah, seolah tidak pernah melakukan kesalahan apapun.
Damian menatap manik mata Nirina yang terlihat sedikit merah dan sembab.
"Apa dia baru saja menangis?" Damian mencoba menerka nerka.
Seorang pelayan datang menghampiri Nirina, wanita itu hanya memesan dua gelas minuman dingin saja. Dia tidak memiliki niat untuk berlama lama mengobrol dengan tunangannya itu.
"Kemarin kamu kemana?" Tanya Nirina.
"Aku dirumah, mengerjakan tugas kantor yang menumpuk," sahut Damian.
"Dirumah yang mana? Ibumu bilang kamu sudah lama tidak pulang kerumah," Nirina melipat kedua tangannya ke dada dan menatap Damian dengan tatapan sinis.
Raut wajah Damian berubah, sedikit takut dan cemas. Seolah dia sedang menyimpan suatu kebohongan yang besar dari Nirina. Seperti komputer, otak Damian berkerja keras mencari cara untuk menepis kecurigaan yang mulai hinggap di dalam diri Nirina.
"Aku tinggal di apartemen, aku membelinya untuk kita tinggali setelah menikah nanti,"
"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku dan Ibumu kalau kamu membeli sebuah apartemen?"
"Aku sengaja merahasiakannya, aku ingin memberi surprise untukmu,"
"Oh, begitu. Lalu, kemana kamu kemarin? Benarkah kamu mengerjakan tugas kantor? Seseorang mengaku melihat kamu tengah jalan dengan wanita lain,"
__ADS_1
Damian menggigit ujung bibir bawahnya, tubuhnya sedikit gemetar ketakutan. Siapa orang yang telah memergokinya jalan dengan Tiara? Kenapa dia tidak menyadarinya?
Pepatah mengatakan, sepandai pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Sepandai pandainya orang menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga. Mungkinkah ini sudah waktunya bagi Damian untuk mengakhiri hubungannya dengan Tiara?
"Dia saudari sepupuku, dia baru saja pulang dari luar negri jadi tidak ada orang yang mengenalnya termasuk kamu,"
"Apa pengakuan mu itu bisa dipercaya?"
"Bisa, aku akan mengenalkannya padamu besok. Besok malam ada acara makan malam bersama dirumah Ibu untuk merayakan hari jadinya yang ke lima puluh. Aku akan menjemputmu di rumah,"
Nirina mengerutkan keningnya, dia ragu dengan apa yang dikatakan oleh Damian. Dia pandai sekali merangkai kata, hingga Nirina tidak bisa menebak mana ucapan yang jujur dan mana ucapan yang bohong.
"Ikuti saja alurnya Nirina, kita akan mengerti besok malam apakah dia membohongi atau tidak." Nirina berkata pada dirinya sendiri di dalam hati.
***
Malam harinya, Damian meminta Tiara untuk bertemu di apartemen miliknya. Dia bercerita tentang seseorang yang memergoki mereka pergi berdua di mall tempo hari. Damian mengeluarkan kegundahan hatinya, rasa takut dan kecemasannya yang berlebih. Sementara Tiara hanya memandang dengan senyum senang.
Akan sangat menguntungkan bagi Tiara jika hubungan mereka berdua terungkap. Nirina pasti mengakhiri hubungannya dengan Damian dan Tiara bisa menguasai pria itu seutuhnya.
"Jangan memperburuk suasana Damian, Ibumu ada disana. Nirina pasti akan bertanya pada Ibumu," sambung Tiara.
"Sial, aku lupa soal itu. Aku harus meminta pertolongan pada sepupu asliku, tapi aku ragu dia mau membantuku,"
"Mungkin memang sudah waktunya hubungan kita go publik, jadi biarkan saja," celetuk Tiara santai.
"Apa kamu gila? Aku tidak mau kehilangan Nirina, dia segalanya bagiku," Damian meninggikan suara.
"Segalanya? Lalu aku kamu anggap apa?" Ucap Tiara kesal.
"Dari awal aku sudah mengatakannya padamu, aku hanya ingin bermain main, jangan pernah menaruh hati padaku," Damian mengingatkan Tiara pada perkataanya beberapa bulan lalu.
__ADS_1
"Pria tidak berperasaan! Lihat saja pembalasanku nanti! " Maki Tiara di dalam hati.
***
Klak,,,
Pintu kamar Nirina terbuka.Sintia masuk dan menemui Kakaknya yang sedang melamun di depan kaca rias. Wanita itu sedang mencari tahu kekurangannya, hingga Damian tega mendiamkannya.
Dia memiliki wajah cantik, body bagus, perhatian dan setia. Jadi kurangnya ada dimana?
Nirina teringat akan penolakan yang sering dia lakukan saat Damian ingin meminta sesuatu yang lebih darinya. Apa mungkin karena hal itu? Karena Nirina tidak mau diajak tidur sebelum mereka berdua resmi menikah? Kalau benar begitu, Nirina harus minta putus dari Damian, karena pria yang seperti itu masuk dalam kategori penjahat k*lamin.
"Kak, sudah malam. Kakak tidak makan malam?" Sintia memegang pundak Kakaknya.
"Tidak, aku sedang tidak enak makan," sahut Nirina malas.
"Apa karena Kak Damian?"
"Iya. Tapi ngomong ngomong kamu belum mengatakan hal ini pada Ibu bukan?"
"Belum," Sintia menggelengkan kepala.
"Jangan mengatakannya dulu, aku takut Ibu jadi kepikiran,"
"Oke,"
"Besok malam, ikut aku ke suatu tempat ya,"
"Kemana?" Sintia penasaran.
"Sudah ikut saja, aku sangat membutuhkan bantuan mu kali ini,"
__ADS_1
"Iya, baiklah."
Bersambung...