
Nirina datang berkunjung ke rumah Sinta. Dia kesana untuk meminta maaf atas kesalahan yang mungkin pernah dia lakukan pada wanita itu selama dia menjadi calon menantunya.
Sinta memeluk Nirina erat, seolah belum rela menerima kenyataan kalau hubungan putranya dengan Nirina berakhir. Pria bodoh itu baru saja kehilangan calon istri terbaik hanya untuk seonggok debu, dia pasti akan sangat menyesal nanti.
"Bu, jaga kesehatan Ibu baik baik ya. Jangan sampai Ibu telat makan karena sibuk bekerja," pesan Nirina.
"Iya sayang, terimakasih karena masih mau perhatian pada Ibu,"
"Bu, aku akan pindah kerja dan tinggal di luar kota. Doakan semoga rejekiku lancar dan kehidupanku kedepannya jadi lebih baik,"
"Amin. Ibu akan selalu mendukung semua keputusanmu nak. Ibu minta maaf karena Damian telah membuat hidupmu susah,"
"Tolong jangan beritahu Damian soal ini ya Bu, aku tidak mau dia mencari ku. Aku pergi juga karena ingin menjauh darinya,"
Sinta terdiam, bagaimana bisa dia merahasiakan hal ini dari putranya? Dia sendiri tidak rela mereka berdua putus, apa lagi Nirina pergi ke luar kota? Hubungan mereka tidak boleh benar benar berakhir, Sinta harus melakukan sesuatu.
Damian mungkin bersalah, tapi dia sudah menyesali perbuatannya. Dia layak di beri kesempatan kedua oleh Nirina, tapi mulut Sinta tidak bisa mengutarakan hal itu langsung kepadanya.
***
Berita tentang rencana kepergian Nirina akhirnya sampai ke telinga Damian. Dia langsung bergegas menuju tempat tinggal mantan tunangannya itu.
Damian datang terlambat, Nirina baru saja pergi ke terminal bus bersama temannya. Segera, Damian pergi ke terminal bus untuk mencari keberadaan Nirina.
__ADS_1
Satu jam, dua jam, sampai tiga jam Damian mencari. Sosok Nirina tidak juga bisa di temukan. Dia telah menelusuri tiap sudut terminal Bus, tapi hasilnya nihil.
Damian kurang cepat, wanita cantik itu telah menaiki bus dan bergerak pergi ke kota lain. Damian akan kesulitan mencari Nirina mulai sekarang, atau bahkan mereka berdua tidak mungkin bisa bertemu lagi.
Damian terduduk di tengah tengah pangkalan Bus, dia menangisi kepergian Nirina dan menyesali semua perbuatan yang pernah dia lakukan padanya. Andai waktu bisa diputar kembali, Damian akan melakukan segala hal untuk memperbaiki segalanya.
"Tuhan, tolong berikan aku kesempatan satu kali lagi untuk bertemu dengan Nirina. Aku ingin memperbaiki segalanya," ucap Damian sambil menangis sesenggukan.
Beberapa orang di terminal memperhatikan Damian dengan tatapan aneh. Seorang pria terduduk di aspal, sambil menangis dan berucap tidak jelas. Pasti pria itu adalah pria gila yang perlu di hindari keberadaanya.
Tapi Damian tidak peduli tentang semua itu, dia hanya ingin meluapkan segala kesedihannya agar rasa sesak di dalam hatinya bisa sedikit berkurang.
***
"Aku pasti bisa melewati segalanya dengan baik, aku harus percaya pada diriku sendiri," batin Nirina.
"Kamu baik baik saja bukan?" Teresa khawatir melihat temannya menangis sepanjang jalan.
"Iya, aku baik baik saja. Jangan khawatir," sahut Nirina sambil berusaha mengatur kembali nafasnya.
"Awalnya memang sulit berpisah dengan keluarga, teman dan orang terkasih. Tapi nanti juga lama-lama akan terbiasa,"
"Iya,"
__ADS_1
Wanita itu menepuk pundak Nirina, mencoba menenangkan hati Nirina yang sedang di landa gundah gulana. Tiba-tiba, pikiran Nirina berpindah haluan. Dia ingat pada Ibu dan Adiknya di rumah. Meski pemalas, Sintia adalah gadis yang cerewet dan penuh perhatian. Dia pasti bisa merawat Ibu mereka dengan baik.
Sebelumnya, Nirina tidak pernah pergi jauh dari rumah. Wajar saja jika dia merasa cemas meninggalkan Ibu dan adiknya berdua di rumah. Terlebih, Ibunya sering sakit, karena umurnya memang sudah tidak muda lagi.
Kisah percintaan Nirina telah kandas, tapi kehidupan Nirina harus terus berjalan. Masa depannya harus cerah, dia harus bisa meraih cita citanya untuk menjadi orang sukses dan memiliki usaha sendiri.
Nirina menyandarkan kepalanya di kaca jendela bus, dia memejamkan kedua matanya yang lelah dan mencoba untuk tidur. Tidur adalah pelarian terbaik dari masalah, karena saat tidur otak kita tidak akan ingat pada apapun termasuk nama kita sendiri.
Waktu bergulir, malam hari berganti sore. Nirina dan Teresa telah tiba di terminal tujuan. Tere menepuk pundak Nirina berkali kali, tapi wanita itu belum juga mau bangun dari mimpi indahnya.
"Padahal tidur sambil duduk, tapi susah sekali di bangunkan. Apa lagi kalau tidur diatas kasur?" Gerutu Teresa lirih.
"Nirina, kalau kamu tidak mau bangun aku akan meninggalkanmu di terminal," ancam Teresa sambil menggoyang goyangkan tubuh sahabat baiknya itu.
Nirina membuka mata, guncangan hebat yang terasa buat telah berhasil memaksa Nirina untuk membuka mata. Nirina menggeliat, menguap dan mengamati keadaan sekitar. Bus yang mereka tumpangi telah kosong, apa mereka sudah sampai tujuan?" Nirina kebingungan.
"Ambil koper mu, ayo kita turun," ucap Teresa.
"Sudah sampai ya? Cepat sekali," celetuk Nirina.
"Bagaimana tidak terasa cepat? Sepanjang perjalan kamu tidur terus," oceh Teresa.
Nirina meringis, dia tertidur lelap di dalam bus karena sebelum naik dia telah meminum pil anti mabuk agar tidak mabuk di perjalanan. Akan sangat mengganggu jika sepanjang perjalanan Nirina mengalami mual dan muntah, jadi lebih baik dia meminum pil anti mabuk.
__ADS_1
Bersambung...