
Matahari meninggi, suasana sekitar yang awal mulanya dingin kini mulai terasa hangat. Nirina terbangun dari tidurnya, dia tersadar sedang tidur sambil duduk bersandar diatas sebuah kursi. Sementara Damian masih berbaring dan terpejam diatas ranjang.
Nirina pergi ke kamar mandi, dia membasuh muka dan membersihkan diri. Kemudian dia pergi ke dapur untuk membuat sesuatu yang enak bagi Damian. Dua gelas teh hangat, empat lembar roti panggang dengan olesan selai tersaji diatas meja makan.
Harumnya roti panggang membuat Damian membuka mata, dia langsung bangkit dari tempat tidur dan mencari keberadaan Nirina.
"Sayang," panggil Damian.
"Aku disini," sahut Nirina. Damian langsung menghampiri wanita itu dan memeluknya dari belakang.
"Aku akan pergi meninggalkan kamu, tapi nanti kalau kamu sudah sarapan dan minum obat," Nirina menyingkirkan tangan Damian dari pinggangnya.
Damian terdiam, meski begitu dia mengikuti arahan Nirina untuk duduk di kursi dan memakan sarapan buatan mantan kekasihnya itu. Rasa roti yang harusnya enak terasa hambar di mulut Damian, semua karena Nirina terus menekuk wajahnya sampai acara sarapan bersama selesai.
Selesai makan, Nirina mencuci piring dan gelas kotor. Setelah itu dia mengambil tas Selempang miliknya dan pamit pergi. Tapi Damian segera meraih tangan Nirina, menahannya dengan tatapan mata berkaca kaca.
Seorang pria bertubuh tinggi besar dan kekar seperti Damian bisa menangis hanya karena seorang perempuan? Nirina terheran heran. Dia merasa iba tapi tidak mau terjebak untuk kedua kalinya, tidak ada yang tau apakah itu air mata asli atau air mata buaya.
"Katakan dengan jujur padaku, kamu masih menyukai aku bukan?"
__ADS_1
"Ya, aku masih mencintaimu,"
"Lalu kenapa kamu selalu menolak ku?"
"Karena aku terlalu kecewa padamu, rasa kecewa itu jauh lebih besar dari rasa cintaku padamu saat ini,"
Tangis Damian pecah, dia menangis meraung Raung. Nirina terdiam, pria itu sedang menunjukan kesungguhan hatinya.
"Aku akan berubah asal kamu mau menerimaku kembali. Aku pertaruhkan jiwa dan ragaku untukmu Nirina,"
"Aku pernah mempercayai janjimu, tapi apa yang aku dapat? Hanya rasa kecewa saja. Maafkan aku Damian, jawabanku masih sama. Aku tidak mau kembali lagi denganmu,"
Nirina menghempaskan tangan Damian, dia pergi dengan langkah terburu buru meninggalkan pria itu. Jujur, hati Nirina merasa hancur melihat pria itu menangis, tapi itu adalah hukuman setimpal untuk seorang penghianat.
***
"Jangan, biar Ibu saja yang kesana,"
"Ya, baiklah,"
__ADS_1
Ningsih masuk ke dalam kamar menyusul Nirina, hatinya merasa pilu saat melihat wanita muda itu menangis sesenggukan diatas kasur. Ningsih mengusap kepala Nirina, Nirina langsung menghamburkan tubuhnya ke pelukan Ningsih.
"Kenapa baru pulang? Tidak terjadi apa apa bukan?" Tanya Ningsih khawatir.
"Semua baik baik saja Bu, hanya hatiku saja yang masih belum membaik. Damian memintaku kembali lagi padanya sambil menangis, aku tidak tega padanya,"
"Bukan tidak tega, tapi masih ada cinta. Ibu terserah kamu mau menerima dia lagi apa tidak, kamu sendiri lebih tau apa yang terbaik untuk dirimu sendiri,"
Nirina mengencangkan pelukannya pada sang Ibu, menghirup aroma tubuh wanita paruh baya itu yang seolah bisa memberikan ketenangan tersendiri baginya. Dia senang bisa memiliki Ibu yang perhatian dan selalu mendukungnya, tanpa dia Nirina mungkin tidak bisa terus berdiri seperti sekarang ini.
***
Di kamar yang di sewanya, Damian membuat keributan. Dia merusak semua fasilitas yang ada disana dengan membantingnya ke lantai. Tv, teko listrik, remote ac dan fasilitas elektronik lainya hancur berantakan dan bertebaran diatas lantai.
Damian mengamuk, dia mencari cara untuk melampiaskan rasa kecewanya karena terus menerus di tolak oleh Nirina. Dia sudah hampir mirip dengan orang gila, atau malah memang dia sudah benar benar gila.
Beberapa petugas Hotel menunggu di depan pintu, menunggu Damian tenang dan bisa mengendalikan emosinya lagi. Mereka ingin mengajak Damian berbicara dari hati ke hati sekaligus meminta pertanggung jawaban atas pengrusakan yang baru saja dia lakukan.
"Apa pria itu memiliki gangguan mental?" Bisik salah seorang petugas Hotel pada rekannya.
__ADS_1
"Aku rasa tidak. Semalam ada wanita yang datang ke sini, mungkin dia depresi berat karena wanita itu," sahut rekannya itu.
Bersambung...