
Nirina mengajak Areta jalan jalan keluar rumah, menghirup udara segar di pagi hari yang terasa sejuk dan dingin dalam paru paru. Berharap hal itu akan membawa dampak positif untuk kesehatan si kecil Areta.
Beberapa tetangga mulai memandang Nirina dengan tatapan sinis, diantara mereka ada yang berbisik dengan kalimat yang sangat menusuk hati. Tapi Areta bersikap biasa saja, karena apa yang mereka gunjingkan memang tidak benar.
Bu Sarah, istri dari pak RT datang menghampiri Nirina. Selain untuk berbasis basi, Nirina tau kalau kemunculan Bu RT itu ingin menanyakan sesuatu padanya.
"Pagi Nirina," Sapa Bu Sarah. Wanita berambut panjang dengan warna pirang itu mengukir senyum lebar.
"Pagi Bu,"
"Bagaimana kabarnya? Lama tidak jumpa,"
"Kabarku baik Bu, aku baru pulang kemarin dari luar kota,"
"Maaf sebelumnya, kalo boleh Ibu tau itu anak siapa ya? Kamu kan belum menikah, lama tidak pulang, begitu pulang bawa anak. Dan juga ada gosip miring beredar di RT ini," tutur Bu Sarah panjang lebar.
Dari raut wajahnya terlihat jelas kalau Bu Sarah merasa sedikit tidak enak pada Nirina, tapi karena desakan dari para tetangga, akhirnya Bu Sarah mengabaikan perasaan tidak enak itu.
"Gosip miring apa yang beredar Bu?" Tanya Nirina balik. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Bu Sarah.
"Ada yang bilang, kamu hamil diluar nikah. Pergi ke luar kota, pulang pulang bawa anak,"
"Astaga, mulut orang itu pedas sekali ya. Ini anak temanku Bu, Ibunya meninggal dunia, Ayahnya masuk penjara, jadi aku yang merawatnya karena memang anak ini sebarang kara," jelas Nirina.
Nirina terpaksa harus membumbui pengakuannya dengan sedikit kebohongan, tidak mungkin juga dia mengatakan dengan jujur kalau Areta adalah anak gelap dari tunangannya dan pacarnya. Selain merusak nama baik Damian, hal itu juga bisa merusak mental Areta ke depannya.
__ADS_1
"Ya... Tuhan, kasian sekali anak ini. Maaf, aku dan beberapa Ibu Ibu komplek di sini sempat salah paham padamu,"
"Tidak apa apa Bu, namanya juga tidak tau."
Setelah mendapat jawaban dari Nirina, Bu Sarah pergi. Mungkin dia akan menyebarkan penjelasannya pada Ibu Ibu yang menaruh penasaran pada kehadiran Areta yang tiba tiba di lingkungan rumah mereka.
Nirina harus pasang badan, pasti ada diantara tetangganya yang tidak percaya dengan pengakuan Nirina. Karena tidak semua tetangga suka pada keluarganya, begitu juga sebaliknya.
Nirina berjanji pada dirinya sendiri, kalau dia akan merawat Areta dengan sepenuh hati. Apapun yang terjadi, meski seluruh dunia menghakiminya, hal itu tidak akan membuat Nirina mengeluh apa lagi menyesal.
Kebaikan akan selalu dibalas dengan kenaikan oleh Tuhan, dan keburukan juga akan dibalas dengan keburukan. Nirina sangat percaya pada hukum Tuhan juga hukum alam.
***
Lelah berjalan jalan, Nirina kembali pulang ke rumah. Dia melihat Ibunya sedang mengeluarkan sebuah kresek dari keranjang belanjaannya.
"Iya, Ibu ada sesuatu buat Areta,"
"Sesuatu apa?"
Ningsih mengeluarkan tiga potong dres anak bayi dari dalam kantong plastik berwarna hitam. Warnanya pink, biru muda dan kuning muda, sangat cantik juga menggemaskan.
Jika Areta memakai pakaian pakaian itu, pasti Areta akan bertambah lucu. Nirina mengambil pakaian yang Ibunya beli dan menjajarkan dengan tubuh Areta.
"Sedikit kebesaran," ucap Nirina.
__ADS_1
"Tidak apa apa, sebentar lagi juga dia akan tumbuh besar," ujar Ningsih.
Sintia ikut nimbrung dengan dua wanita itu, dia melirik kearah baju baru yang sedang di pegang oleh Nirina. Ada rasa cemburu ketika semua perhatian yang biasa dia dapat beralih pada Areta, bayi kecil yang hanya bisa menangis dan buang air.
Sintia melipat tangannya, menaikan alisnya sebelah. Seolah dia sedang ingin mengajak Areta ribut dan bertengkar.
"Bu, kenapa hanya Areta yang dibelikan baju?" Protes Sintia.
"Apa kamu sedang cemburu pada anak kecil?" Ledek Nirina. Dia sedikit menahan tawa karena merasa tingkah dan kelakuan adiknya terlihat lucu.
"Aku juga mau dibelikan baju seperti bocah itu," ucap Sintia.
"Kamu beli saja sendiri besok ya, nanti Ibu kasih uangnya," sambung Ningsih.
"Beneran ya Bu?"
"Iya."
Sintia mengukir senyum bulan sabit, dia senang karena Ibunya menuruti permintaannya. Dari kecil, Ningsih memang selalu memanjakan Sintia, mungkin karena itu juga Sintia belum bis belajar mandiri walaupun sudah duduk di bangku SMA.
Sintia berlalu pergi, Nirina langsung memberi nasihat pada Ningsih agar tidak terlalu memanjakan Sintia. Ningsih hanya meresponnya dengan senyuman tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ah, Ibu. Kalau diajak mengobrol soal Sintia pasti hanya senyum senyum saja," Nirina mendengus kesal.
"Sayang, kamu seperti tidak tau bagaimana Sintia saja." Celetuk Ningsih santai.
__ADS_1
Bersambung...