
Pagi hari, selesai mandi. Nirina mengajak Areta jalan jalan di sekitar rumah. Anak itu terlihat senang mengejar ngejar anak ayam yang sedang mencari makan dan jauh dari induknya.
Nirina mengabadikan momen tersebut dalam Vidio, dia akan menunjukannya pada Damian jika berkunjung ke penjara. Dia pasti akan bahagia melihat perkembangan anaknya dari waktu ke waktu, begitu pesat, begitu lucu.
Sepasang suami istri lewat di pinggir jalan, mereka menggandeng dan menggendong anak anak mereka dengan penuh suka cita. Areta mengamati pemandangan itu, lalu sebuah kalimat menyayat hati keluar dari mulut mungilnya.
"Ayah ana Bu?" Areta mengalihkan pandangannya kearah Nirina.
Jantung Nirina seketika terasa begitu sakit, nafasnya sesak dan darahnya seperti berhenti mengalir. Apa yang harus Nirina lakukan saat ini? Bagaimana cara menjelaskannya pada bocah itu?
Pikiran Nirina melayang jauh ke masa depan, masa dimana Areta dewasa dan Nirina harus mengatakan sebuah kejujuran. Nirina bukanlah Ibu kandung Areta, Ibu kandung Areta telah meninggal dunia karena over dosis obat tidur.
Baru membayangkannya saja, otak Nirina seperti mau pecah. Dia sampai takut membuka mata karena tidak mau melihat kenyataan buruk itu.
Meski bukan anaknya, Areta adalah segala-galanya bagi Nirina. Dia sangat mencintainya, menyayanginya layaknya anak kandung sendiri.
"Bu,,," Areta menarik narik rok Nirina karena pertanyaannya tak kunjung di jawab.
"Ayahmu sedang kerja, jauh di sana. Tunggu saja ya, besok juga pulang," Nirina meringis. Matanya berkaca kaca karena menahan tangis.
***
Puas bermain di luar rumah, Nirina mengajak Areta masuk ke dalam untuk sarapan. Ningsih memperhatikan raut wajah Nirina yang berubah murung. Matanya merah dan basah, jelas sekali kalau dia baru saja menangis.
__ADS_1
"Nirina, kamu kenapa?" Tanya Ningsih.
"Aku hanya sedang ingat pada Damian saja,"
"Sabar ya, sebentar lagi juga dia akan keluar dari penjara,"
Nirina menganggukkan kepalanya. Dia sengaja tidak memberi tahu sang Ibu kalau Areta menanyakan Ayahnya, dia tidak mau Ibunya ikut merasakan sedih.
Malam harinya...
Sintia dan Areta asyik bermain di depan tv, mereka menyanyi dan menari bersama sambil memutar Vidio lagu anak anak di ponsel pintar Sintia. Vidio itu menunjukan gambar Ayah, Ibu, dan dua anak perempuan yang sedang bekerja sama membersihkan rumah sambil menyanyi.
Tiba tiba Areta kembali bertanya "Ayah ana?"
"Ayah ana?" Ulang Areta lagi.
"Ayah Areta sedang kerja di tempat yang jauh, sebentar lagi juga pulang. Sabar ya," ucap Sintia. Areta hanya senyum sambil menganggukkan kepala saja.
Mungkin memang sudah waktunya Areta bertemu dengan Damian, Nirina harus memikirkan ulang untuk membawa Areta menjenguk Damian ke penjara. Tapi, penjara bukanlah hal yang bagus untuk anak anak, Nirina dilanda bimbang saat ini.
"Kapan Damian keluar dari penjara?" Tanya Ningsih .
"Satu tahun lagi Bu," sahut Nirina.
__ADS_1
"Lama sekali. Lalu kapan kamu berencana menjenguk dia?"
"Dua mingguan lagi mungkin,"
"Kita ajak Areta ke sana,"
"Tapi Bu," protes Nirina.
"Tidak ada tapi tapi, kita bawa Areta ke sana titik."
Keputusan Ningsih sudah tidak bisa diganggu gugat, mau tidak mau Nirina harus menuruti keputusan Ningsih. Kalau tidak, Ningsih akan murka padanya.
"Apa aku boleh ikut?" sambung Sintia.
"Boleh," sahut Ningsih.
"Pulangnya kita mampir ke rumah Bu Sinta ya," pinta Nirina.
"Oke," sahut Ningsih singkat.
Sintia dan Areta kembali bermain bersama, kesedihan yang ada di tengah tengah mereka hilang seketika ketika bocah dua tahun itu tertawa lepas.
"Sayang, lucu sekali kamu nak," Sintia mencubit pipi Areta kuat. Areta pun menangis karena ulah Sintia.
__ADS_1
Bersambung...