Takdir Cinta Nirina

Takdir Cinta Nirina
Hukuman Untuk Damian


__ADS_3

Bug... Bug...


Jaka menghajar Damian hingga beberapa kali di kantor polisi, meski terasa sakit, Damian tidak memberikan perlawanan. Dia lantas di hajar hingga babak belur, karena secara tak langsung dia telah melenyapkan nyawa orang lain.


Nyawa seorang anak tunggal yang dicintai Ayahnya, nyawa seorang Ibu yang telah melahirkan keturunan untuk Damian. Nyawa seorang sahabat yang begitu di sayangi oleh Nirina.


Usai menghubungi keluarga Tiara, Damian langsung menyerahkan diri ke kantor polisi. Dia dinyatakan bersalah dan divonis penjara selama kurang lebih tiga tahun. Hukuman yang terlalu ringan bagi Jaka, tapi cukup untuk memberi Damian pelajaran.


Nirina meneteskan air mata, dia tidak tega melihat Damian begitu terpuruk. Tapi apa mau dikata? Semua karena kesalahan dan keteledorannya sebagai seorang pria.


Sementara itu, Areta kecil hendak Nirina serahkan pada Jaka. Tapi Jaka menolak, dengan alasan Areta adalah anak haram karena lahir di luar nikah. Merasa Iba pada bayi merah itu, Nirina memutuskan untuk mengambil dan merawat Areta hingga Damian selesai menjalani masa tahanan.


Sebelum dimasukan ke dalam sel, Nirina menghampiri Damian. Dia ingin menguatkan hati pria yang masih sangat di cintanya itu.


"Aku yakin kamu akan kuat menjalani semuanya," Nirina sesenggukan.


"Terimakasih, soal Areta..."


"Aku akan merawatnya sampai kamu keluar dari penjara,"


"Terimakasih, lalu Ibuku,"


"Aku akan kerumah Ibumu besok, sambil membawa Areta,"


"Dia pasti akan jatuh sakit karena aku,"


"Tenang saja, aku akan menjaganya dengan baik,"


"Tapi pekerjaanmu?"

__ADS_1


"Aku sudah keluar dari pekerjaanku. Aku yakin kamu mampu menggaji ku walaupun menjadi pengangguran selama tiga tahun, harta kekayaanmu kan tidak akan habis hingga tujuh turunan," celoteh Nirina dengan nada bercanda.


Damian sedikit tersenyum, lawakan konyol seorang Nirina telah berhasil mengurangi kesedihan didalam hati Damian.


"Aku mencintaimu," ucap Damian.


"Aku juga mencintai kamu," balas Nirina.


"Tunggu aku keluar dari jeruji besi ini, dan aku akan menikahi kamu,"


Nirina mengelus pipi Damian, lalu memberinya sebuah ciuman kilat.


***


Nirina berjalan lemas keluar penjara dengan Areta kecil di pelukannya. Dia menyetop taxi dan melaju pergi menuju kediaman Sinta, Ibu dari Damian.


Tak terbayang olehnya saat wanita itu mengetahui Damian di penjara, juga saat dia mengetahui kalau Damian memiliki anak dari Tiara. Jatuh pingsan? Mungkin saja, terlebih Sinta memiliki penyakit lemah jantung.


Ting... Tong...


Nirina memencet bel, Sinta tersenyum lebar saat melihat Nirina datang. Tapi senyum itu pudar saat melihat sesuatu yang sedang di gendong oleh Nirina. Bayi merah berjenis kelamin perempuan dengan wajah cantik juga lucu.


Sinta mempersilahkan Nirina masuk, setelah dirasa cukup tenang, Nirina memberanikan diri untuk membuka suara.


"Bagaimana kabar Ibu?" sapa Nirina.


"Kabarku baik. Ngomong ngomong, anak siapa itu?" Tanya Sinta penasaran.


"Ini anak Damian dan Tiara,"

__ADS_1


"Apa katamu?" Sinta terkaget kaget.


"Damian di penjara karena telah menyekap Tiara, membuat Tiara frustasi hingga mati bunuh diri," lanjut Nirina.


Sinta menangis, dia meratapi nasib buruk yang menimpa Damian. Dia juga tidak percaya kalau Damian telah menyekap Tiara dan membuat wanita itu frustasi hingga bunuh diri.


Dimatanya, Damian anak baik. Dia penurut walaupun sedikit nakal dan sulit di kendalikan. Sinta benar benar bersedih karena anak semata wayangnya tinggal dibalik jeruji besi. Dia harus melakukan sesuatu untuk membebaskan Damian, tapi segala tindak kejahatan perlu mendapat hukuman.


"Oek... Oek..." Areta menangis. Dia sudah tidak bisa lagi menahan haus dan lapar.


"Bu, boleh saya minta air panas untuk membuat susu formula?" Tanya Nirina.


"Boleh, berikan bayi itu padaku," Sinta menggendong Areta dan menatap wajahnya lekat lekat.


Mata, hidung dan bibir anak itu sama persis dengan milik Damian. Sementara senyum dan langsung pipinya sama persis dengan Tiara. Nirina memang tidak berbohong, anak itu adalah anak Damian dan Tiara.


Sinta menangis, dia merasa kasihan pada Nirina. Setelah merasakan sakit karena di khianati, dia juga harus menahan sakit untuk merawat anak gelap dari mantan tunangannya. Tapi, karena semua itu Sinta jadi tau kalau Nirina memiliki hati yang luas dan wanita seperti itulah yang cocok untuk menjadi pendamping hidup Damian.


Nirina kembali, dia menyerahkan botol itu pada Sinta. Segera, Sinta meminumkan botol susu itu kepada Areta.


"Hmm...." Areta bergumam. Dia menyedot susu itu dengan sekuat tenaga.


Nirina melirik kearah Sinta, wajah wanita itu terlihat pucat. Keluar keringat sebesar kacang kedelai lewat pori pori wajahnya. Ada yang tidak beres dengan wanita itu, Nirina langsung meminta Areta dan menggendongnya.


"Bu, apa Ibu sedang tidak enak badan?" Nirina khawatir.


"Tiba tiba saja tubuhku lemas dan kepalaku pusing," sahut Sinta.


"Jangan terlalu memikirkan masalah yang sedang menimpa Damian Bu, dia pria kuat, dia akan baik baik saja. Ibu juga harus kuat seperti Damian ya," Nirina meneteskan air mata.

__ADS_1


Keduanya berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain, ikatan calon menantu dan calon mertua itu terjalin begitu kuat hingga bisa membuat iri siapa saja yang melihatnya.


Bersambung...


__ADS_2