
Sudah hampir satu minggu Damian belum juga bisa menemukan keberadaan Nirina. Dia mencari tau kemana wanita itu pergi dengan sekuat tenaga, tapi ternyata mencari mantan kekasih yang kabur tidaklah mudah. Apa lagi, orangtua dan adik Nirina tidak mau diajak bekerja sama.
Sore itu, Damian kembali datang ke rumah Nirina. Dia ingin menanyakan tentang keberadaan Nirina pada Keluarga wanita itu. Damian berdiri di depan pintu, mengetuk berkali kali tapi tidak ada satupun manusia yang keluar dari dalam rumah untuk menemuinya.
Setelah Ningsih mengamuk tempo hari dan menghajar Damian hingga babak belur, Ningsih belum mau bertemu dengan Damian lagi. Mungkin dia merasa enek melihat wajah playboy kelas kakap itu, atau sudah tidak sudi bertemu dengannya lagi.
Sintia baru saja pulang dari tempat les, dia melihat dari jauh kalau Damian sedang mondar mandir seperti orang gila di depan rumahnya. Sintia bersembunyi di sebuah warung kelontong, dia mengurungkan niatnya untuk kembali ke rumah karena enggan bertemu dengan Damian.
"Bu, saya numpang ngumpet ya Bu," ucap Sintia pada pemilik warung. Bu Narsih namanya.
"Loh, kok ngumpet. Bukannya sedang ada calon Kakak ipar mu menunggu di teras rumah?"
"Dulu dia memang calon Kakak ipar ku, tapi sekarang tidak. Mereka berdua sudah putus,"
"Oh, jadi gosip miring itu benar? Pantas saja, sudah lewat tanggalnya pernikahan Kakakmu tidak juga di laksanakan," Celetuk Narsih tanpa jeda.
"Memang gosip miring apa Bu yang beredar?" Sintia penasaran.
"Ada gosip bilang kalau Kakakmu gagal menikah karena kekasihnya kepergok selingkuh, apa itu benar?"
"Iya, benar,"
"Benar neng Nirina atuh, pria tukang selingkuh mah harus di tinggal."
hampir satu jam lamanya Damian menunggu seseorang membuka pintu untuknya, tapi sepertinya rumah Nirina terlihat kosong tidak ada orang. Merasa lelah, akhirnya Damian memutuskan untuk pulang ke rumah.
Setelah Damian dan mobilnya pergi, Sintia keluar dari warung. Dia melangkah menuju rumahnya dengan hati dan perasaan lega.
"Bu, ini aku Sintia. Tolong buka pintu," teriak gadis belia itu.
Klak...
Pintu terbuka lebar, Ningsih keluar dari dalam rumah.
"Apa dia sudah pergi?" Tanya Ningsih.
"Sudah, Ibu tenang saja. Tapi ngomong ngomong mau apa dia kemari ya?"
"Paling dia mau bertanya soal keberadaan Kakakmu,"
"Oh, jangan sampai dia tau Kakak ada dimana. Kalau tau, dia bisa menyusul Kakak,"
__ADS_1
"Ya, kamu benar."
***
Brakkkk...
Damian membanting pintu rumahnya, Sinta keluar dari dalam kamar karena kaget. Damian kesal pada dirinya sendiri, karena dia Nirina pergi dari kota itu.
"Nak, kamu kenapa?" Tanya Sinta khawatir.
"Aku belum juga bisa menemukan Nirina Bu," keluh Damian.
"Sudahlah, jangan terlalu diambil pusing. Kalau kalian berdua memang jodoh, waktu akan mempertemukan kalian berdua kembali,"
"Tapi Bu, Damian rindu pada Nirina," Damian berkaca kaca. Hati Sinta merasa teriris melihatnya.
"Maaf, kalau saja Ibu bisa membantu kamu," Sinta memeluk Damian. Dia mencoba menenangkan perasaan anak semata wayangnya itu.
Kring... Kring... Kring...
Ponsel Damian tiba tiba berdering, Damian segera mengangkat telfon yang ternyata dari salah satu pengawal yang bertugas menjaga tiada.
"Non Tiara sakit, dia mengalami demam tinggi," sahut pengawal itu.
"Telfon Dokter, aku akan kesana sekarang,"
"Baik Bos."
Klik...
Damian menutup telfon dan memasukan kembali ponselnya ke dalam jas.
"Telfon dari siapa?"
"Dari rekan kerja Bu, Damian pergi dulu," pamit Damian.
"Oke, hati hati di jalan ya!"
"Iya,"
Damian pergi menuju kediaman pribadinya, dia mengemudi dengan cepat karena khawatir pada keadaan bayi yang ada di dalam kandungan Tiara.
__ADS_1
"Bagaimana dia bisa jatuh sakit? Aku sudah sangat memperhatikan asupan dan jam istirahat wanita itu," gerutu Damian lirih.
***
Tiba di rumahnya, Damian langsung pergi ke kamar Tiara. Hatinya merasa iba melihat wanita itu terkulai lemas diatas kasur sambil menggigil. Seorang Dokter sedang memeriksa keadaanya, dia sedikit cemas karena Tiara terkena Typus dalam keadaan hamil muda.
"Apa yang terjadi dengannya Dokter?" Tanya Damian.
"Dia terkena Typus, sepertinya dia harus diopname."
"Apa tidak bisa dia di infus dan dirawat di rumah saja?"
"Bisa, aku akan mengatur hal itu untuknya,"
"Tapi, dia dan bayinya baik baik saja kan Dok?"
"Mereka akan baik baik saja kalau demamnya bisa segera diatasi,"
Satu hari kemudian, keadaan Tiara mulai membaik. Damian terus mengawasi Tiara dari dekat bahkan sampai tidak tidur semalaman. Mungkin Damian sangat membenci Tiara, tapi dia sangat menyayangi anak yang ada di dalam perutnya.
Tiara sedang makan, dia disuapi oleh salah satu ART di rumah itu. Meski sedang tidak enak makan, Tiara tetap memasakkan makanan itu kedalam mulutnya. Dia tidak mau Damian marah dan menyalahkannya Karana telah jatuh sakit.
"Apa dia telat makan?" Tanya Damian pada sang ART.
"Tidak Tuan,"
"Apa dia kurang beristirahat? Kenapa dia bisa sakit huh?"
"Saya tidak tau Tuan, mungkin Nona Tiara sedang banyak pikiran,"
Damian terdiam, dia merasa sedikit bersalah karena telah menculik dan mengurung Tiara secara paksa. Dia pasti sedang ketakutan sekarang, atau sedang rindu pada keluarganya.
"Apa dia khawatir padaku? Ah, tidak mungkin. Dia pasti hanya khawatir pada anak ini saja," batin Tiara.
Tiara menyudahi makannya, dia meminum obat pemberian Dokter lalu kembali beristirahat. Dia sama sekali tidak mau bicara pada Damian, jangankan bicara, menoleh saja dia malas.
Tiara menyesal karena pernah bucin pada pria itu, pria yang tega menyiksa wanita hamil, mengurungnya hingga jatuh sakit.
"Awas saja nanti, aku pasti akan membalas mu!" Umpat Tiara dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1