
Tiga bulan berselang setelah kepergian Nirina, Ningsih dan Sintia dilanda rindu berat. Terlebih, esok adalah hari ulang tahun Nirina yang ke-24 tahun. Tiba tiba, Sintia mencetuskan sebuah ide. Dia mengajak Ibunya untuk menyusul Nirina ke kota X.
Selain ingin jalan jalan saat libur semester, Sintia juga ingin mendapatkan sebuah pengalaman baru. Selama enam belas tahun hidup dimuka bumi ini dia belum pernah bepergian jauh ke luar kota.
"Kita datang ke tempat Kakak saja Bu, sekalian membuat kejutan untuk Kaka. Bagaimana?"
"Ide kamu boleh juga, tapi kita kan tidak tau alamatnya?"
"Ibu tenang saja, aku akan tanya pada Kak Teresa. Aku juga mau mengajak dia bekerja sama untuk memberi kejutan ulang tahun Kakak,"
"Baiklah, terserah kamu saja. Ibu ikut kamu saja,"
"Oke."
Selesai menyusun rencana dengan Jesika via pesan singkat, Ningsih dan Sintia langsung berkemas. Sore harinya mereka langsung pergi ke alamat yang telah Teresa kirimkan pagi tadi.
Tak banyak barang yang dibawa oleh Ningsih dan Sintia, hanya beberapa lembar pakaian ganti saja. Yang pokok adalah sebuah kado untuk kesayangan mereka yang telah mereka siapkan sejak jauh jauh hari.
Keduanya tiba di terminal dengan menaiki Taxi, kemudian mereka menaiki bus antar kota yang akan membawa mereka ke kota X. Sintia terlihat begitu sangat antusias, wajar saja, ini kali pertama dia menaiki bus antar kota.
"Bu, bagaimana kalau aku mabuk perjalan?" Tanya Sintia.
"Tidak apa, paling Ibu hanya berpura pura tidak mengenal kamu saja," ledek Ningsih.
"Ih, Ibu jahat!" Sintia memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
Bis mulai melaju, tubuh para penumpang mulai terguncang dan bergoyang karena keadaan jalan raya yang tidak begitu mulus. Ningsih berdoa dalam hati untuk keselamatan dan kelancaran perjalanan mereka.
Sepanjang perjalanan, Ningsih tidak bisa tidur. Sementara Sintia terus mendengkur karena meminum obat anti mabuk. Ningsih selalu terbayang wajah Nirina, padahal sebentar lagi mereka akan segera bertemu.
Seseorang mungkin bisa tahan jika berjauhan dengan suami, tapi berjauhan dengan anak? Ada beberapa orang yang sulit melakukannya, termasuk Ningsih.
Pagi menjelang, hawa dingin menyeruak hingga menembus kulit dan tulang belulang. Ningsih mengencangkan syal yang dikenakannya di leher untuk menjaga tubuhnya tetap hangat.
Diusianya yang tak lagi muda, Ningsih mudah diserang sakit. Dia harus bisa menjaga kesehatannya dengan baik dan benar. Tak lama, Bus yang ditumpangi pasangan Ibu dan anak itu sampai di terminal tujuan. Mereka bergegas turun dari bus dan menuju alamat tempat tinggal Nirina dengan menaiki sebuah Taxi.
Satu jam kemudian, mereka tiba di komplek kontrakan khusus wanita. Deretan kamar berukuran minimalis yang menjadi tempat berlindung kaum rantauan.
"Apa benar ini tempatnya?" Tanya Ningsih ragu.
"Benar Bu," sahut sintia mantap.
Ningsih mengetuk pintu berulang ulang, beberapa saat kemudian seseorang muncul membukakan pintu.
Klak....
Teresa menyambut kedatangan tamu mereka dengan senyuman. Dia melirik kearah jam dinding yang masih menunjukan pukul 04.30 pagi.
"Cepat sekali sampainya? Apa tidak macet?" Tanya Jesika.
"Tidak sama sekali," sahut Sintia.
__ADS_1
"Mari masuk, Nirina masih tidur belum bangun."
Ningsih menatap sekeliling kamar kontrakan putrinya, begitu kecil dan sempit. Meskipun tempatnya bersih, rapih, seperti kamar mereka di rumah. Ningsih jadi merasa sedih, begitu besarnya perjuangan Nirina mencari uang untuk membantu perekonomian keluarganya.
Ningsih menuju ruang tengah yang di fungsikan sebagai kamar oleh Jesika dan Nirina. Dia menatap putri pertamanya yang sedang tertidur dan meringkuk diatas kasur.
"Siapa yang datang Re pagi pagi begini? Apa Ibu kost?" Nirina masih memejamkan kedua matanya.
"Bukan Ibu kost, tapi Ibumu," sahut Ningsih.
Dinda terbangun, dia kaget mendengar sahutan dari seseorang yang suaranya sangat familiar. Lalu tiba tiba Jesika dan sintia masuk kedalam ruangan itu sambil membawa kue ulang tahun dan sebuah lilin yang menyala.
"Ibu, Sintia? Bagaimana bisa kalian ada di tempat ini?" Nirina masih tidak percaya.
"Ini kejutan untukmu," sambung Teresa.
Air mata Nirina menetes, dia terharu atas kepedulian keluarga dan sahabatnya. Dia sungguh tak menyangka kalau ketiganya akan bekerja sama untuk memberikan kejutan istimewa dihari jadinya.
Dua puluh empat tahun, sebuah angka yang bisa dibilang cukup tua. Sudah waktunya bagi seorang wanita untuk menikah dan menjalani hubungan serius, tapi impian kecil itu sirna karena sang kekasih hati telah berkhianat.
"Selamat ulang tahun Kakak, panjang umur dan sehat selalu ya," ucap Sintia.
"Terimakasih sayang,"
Nirina mencium pipi adik, Ibu dan sahabatnya secara bergantian. Mereka saling berpelukan satu sama lain, mencurahkan kasih sayang diantara mereka.
__ADS_1
Memiliki keluarga dan sahabat yang baik adalah sebuah keberuntungan bagi seseorang, dan Nirina sangat bersyukur karena termasuk dalam golongan orang beruntung itu.
Bersambung...