
Ini kisah nyata terjadi dihidupku. Empat tahun yang lalu, aku melihatnya. Umurku masih 17 tahun. Kami satu sekolah. Dia kakak kelasku waktu SMA. Dia anak IPS dan aku juga anak IPS. Bisa dibilang kami sama-sama mendukung dari jurusan yang sama. Awalnya biasa saja. Aku paling rajin datang duluan ke sekolah karena aku jalan kaki dan perjalanan ke sekolahku itu sangat jauh. Jadi, tiap pukul 05:30 wita aku pasti beranjak dari rumah ke sekolah. Kalau di sekolah aku tidak pernah terlambat, selalu datang tepat waktu bahkan apel bendera pun tepat waktu. Masih berjalan sesuai apa yang diinginkan.
Kala itu pagi hari. Aku menghitung setiap orang yang melewati pagar. Satu persatu kuhitung sampai bosan. Lalu perhitunganku terhenti ke salah satu cowok. Cowok itu sepertinya aku pernah melihat tapi aku tidak begitu perduli dengannya. Waktu di sekolah memang masa-masa paling menyenangkan. Ketawa bareng sama teman-teman bahkan tak ada yang namanya masalah. Dari masalah keluarga atau masalah yang lainnya.
__ADS_1
Bisa dibilang aku menyukai semua cowok apalagi yang baik padaku bahkan sahabatku pun aku menyukainya karena dia baik banget tapi bukannya untuk jadian. Waktu seakan berputar cepat. Kemarau berganti hujan dan hidupku pun berubah drastis. Esoknya aku melihat lagi cowok itu. lagi lagi aku melihatnya dengan jelas. Tubuh tinggi dengan sedikit kurus, kulit sawo matang, dan aku rasa dia pendiam. Aku ingin kenal dengan dia. Bukan hanya sekedar kenal tapi tau segala tentangnya.
Aku berusaha bahkan mencari seseorang yang mengenalnya. Kalau dipikir-pikir kenapa cewek yang harus memulai duluan. Mungkin cewek yang berani dekat duluan sama cowok itu hanya aku. Kebanggaan yang hakiki. Memulai awal berteman dengan temannya dan mencari segala informasi mengenai dirinya. Setelah tau segalanya aku mulai beraksi. Saat itu di depan lapangan basket sepulang sekolah aku menemuinya. Saling mengenal satu sama lain dengan sedikit gugup dan malu. Berjabat tangan dan membuka pembicaraan dengan mengucapkan nama. Aku tau tangannya gemetar mungkin itu respons awal yang baik.
__ADS_1
Aku mulai menyukainya. Tiap malam dan tiap detiknya kami saling berkomunikasi. Bahkan telepon tiap malam. Aku tak pernah sesenang ini. Jika aku pernah pergi ke surga mungkin ini yang namanya surga. Betapa senangnya hati bahkan logika tak terkendali. Setiap hari ceria bahkan senyum-senyum sendiri layaknya orang gila. Gila karena dimabukan cinta. Aku tak tau perasaannya. Apakah dia sama sepertiku. Ataukah dia sama seperti cowok lain yang tak mempunyai perasaan.
Jika Tuhan memberiku jodoh. Pilihlah dia sebagai jodohku. Walau belum kutau sepenuhnya dia tapi aku yakin dengan perasaanku sendiri. Dia nyaman. Dia seakan bisa memelukku dengan kasih dan sayangnya. Dia begitu baik kepadaku bahkan sangat baik. Suka berkembang menjadi cinta. Cinta yang kuberikan perlahan berkembang dengan pesat tanpa sepengetahuan nalar.
__ADS_1