
"Tapi aku tak layak kamu jadikan istri Beni."
"Memangnya kenapa kak?" Tanya Beni yang kemudian memberanikan diri menatap mata Aina, walau Beni telah menduga alasan yang akan disampaikan Aina.
"Aku malu Ben, aku ini sudah banyak berbuat kesalahan, aku menyakiti mas Anas dengan kembali pada Rhido. Walau akhirnya aku yang menderita sendiri."
"Kak, tidak ada manusia yang luput dari namanya salah dan khilaf kak, aku juga tak sebaik yang kakak kira. Hanya saja Allah sudah menutup aibku dan aku tak mungkin membukanya lagi." Ucap Beni sambil kembali tertunduk.
Aina tertegun mendengar jawaban Beni, ia pun ikut membenarkannya dalam hati. Disaat Allah sudah menutup aib namun jika kita membukanya kembali maka kita juga yang akan rugi sendiri.
"Beni, tapi aku ingin tahu kenapa kamu begitu yakin akan menikahi ku? Sedangkan aku hanyalah seorang janda bahkan aku janda dua kali Beni."
"Karena aku sudah berjanji pada diriku kak, dan aku takkan menyia-nyiakan kesempatan itu."
"Maksudmu Ben?"
"Aku pernah mencintai mu dalam diamku kak, aku sempat iri pada Anas karena Anas sudah duluan melamar mu. Aku sadar diri, aku bukanlah saingan Anas. Setelah aku tahu kamu meminta cerai dari Anas, aku segera mencari tahu alasan kamu meminta cerai itu kak. Dan aku pun kembali kecewa ternyata kamu tak mencintai Anas tapi malah mencintai Ridho mantan pacarmu itu. Dan akhirnya aku hanya mampu memendam rasa ini kak, hingga aku kesulitan membuka hati buat perempuan lain." Ucap Beni sambil tertunduk.
"Benarkan Ben?"
"Iya kak, namun kemarin aku sempat merasakan perasaan aneh pada seorang wanita, tapi aku kembali kalah saing dengan Anas kak." Ucap Beni sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum. Aina pun bisa melihat gurat kesedihan di wajah Beni walau Beni berusaha menutupinya dengan senyuman.
"Maksudmu wanita itu Hani?"
"Iya benar kak, Hani sempat mencuri hatiku, tapi aku segera menepisnya kak, karena aku tak akan sanggup melawan Anas dalam merebut hati Hani, karena lawanku bukan Anas saja kak tapi kedua orang tua Hani serta Ibunya Anas sangat berharap mereka bisa berjodoh."
"Ya Allah, kasihan sekali nasib mu Beni."
"Kak, jika kamu merasa kasihan, maka sekarang buktikan kalau kamu itu iba padaku kak."
"Beni, kau mengemis cinta padaku?"
"Apa itu salah kak?"
"Tidak Beni, hanya saja aku merasa tak pantas untukmu."
"Maka mulai sekarang pantaskan dirimu untukku kak. Buka hatimu untukku.."
"Tapi aku tak sesehat dulu Beni, aku ini sekarang penyakitan."
"Kak, setiap penyakit kan ada obatnya, siapa tahu bersamaku nanti kakak bisa sembuh. Walau kita harus yakin Allah lah yang Maha Menyembuhkan."
"Ben, kamu masih saja tak mau menyerah. Kamu kan juga tahu kekuranganku yang sulit mendapatkan keturunan, apalagi usiaku sudah tidak muda lagi."
"Tidak kak, aku tak peduli, aku akan memperjuangkan cinta yang dulu aku pendam kak, apalagi aku sudah menyentuh kak Aina, jadi aku merasa bertanggung jawab untuk menebus kesalahanku itu."
"Beni, maksudmu apa? Menyentuhku? Kapan kau lakukan itu Ben?"
"Saat aku mengangkat mu ke dalam mobil waktu kamu pingsan kak."
__ADS_1
"Ya ampun Beni... itu kan kondisinya darurat, Allah pasti memaafkannya."
"Tapi aku pernah berjanji dalam diriku kak, ketika aku baik sengaja maupun tak sengaja bila menyentuh wanita kembali, maka aku berjanji akan langsung menikahinya."
Aina terdiam mendengar kata-kata Beni, Aina tak mungkin meminta penjelasan lagi tentang maksud kata-kata Beni barusan. Walau dalam benak Aina terlintas pikiran bahwa Beni dulunya suka bermain wanita, tapi pikiran itu segera ia tepis. Yang penting baginya Beni yang sekarang yaitu Beni yang begitu menghormati wanita.
Seketika suasana menjadi hening. Aina tampak memikirkan sesuatu, ia tak bisa menolak Beni lagi, ia pun pasrah jika memang Allah mentakdirkan Beni menjadi penolongnya disaat ia terpuruk seperti itu. Namun Aina memantapkan hatinya bila nanti keluarga Beni menentang maka ia akan mundur.
"Ben, aku akan menerimamu bila Orang tua mu merestui nya." Ucap Aina kemudian, dan itu langsung dibalas anggukan oleh Beni yang tampak begitu bahagia.
"Tapi Ben.."
"Tapi apa kak?"
"Tolong jangan panggil aku kakak, karena aku semakin malu dibuatnya."
"Hehehe, iya kak, eh Aina.."
"Nah.. gitu kan lebih baik Beni, walau hati ini masih merasakan malu."
"Iya Ai, mulai sekarang kamu jangan sebut nama juga pada ku, panggil abang aja ok!"
"Ok lah bang..." Sahut Aina sambil membuat simbol huruf O di jari-jari nya. Aina tak tahu apa ia merasakan bahagia atau cemas, apa mungkin Orang tua Beni mau menerimanya?
Kruuuk... Beni menutup perutnya yang tiba-tiba berbunyi.
"Iya nih Han, aku cari sarapan dulu ya, kamu makan aja dulu." Ucap Beni yang memang melihat sarapan Hani sudah ada di atas meja di samping ranjang.
"Atau kamu mau aku suapi? Siapa tahu kan.. sarapannya belum dimakan gitu soalnya.. Atau kamu sengaja ya pecahin gelas buat bangunin aku." Ucap Beni sambil melototi Aina.
"Beni... Apaan sih?" Sahut Aina malu-malu.
"Eiiits, panggil apa?"
"Iya.. iya, abang Beni..."
Baru saja Beni mau melangkahkan kakinya keluar ruangan, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok tok tok..
"Assalamu'alaikum." Ucap seseorang yang tadinya mengetuk pintu lalu kemudian masuk karena pintu tidak dalam keadaan tertutup.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Aina dan Beni serentak.
"Ibu... ibu sama siapa kesini?" Tanya Beni pada seseorang itu yang ternyata Ibunya Anas yang datang.
"Sendiri, kamu belum makan kan? Nih ibu bawakan sarapan." Ujar Ibunya Anas langsung menyodorkan rantang makanan untuk Beni. Ibu Anas memang sengaja diberi tahu oleh Anas bahwa Aina lah yang sedang dirawat dan sekarang lagi ditemani Beni, mengingat itu Ibu Anas langsung bergegas ke Rumah Sakit, yang sebelumnya ia sempatin menyiapkan sarapan dulu untuk Beni.
"Alhamdulillah, kebenaran sekali bu.." Ucap Beni cengengesan.
__ADS_1
"Kebetulan abang.. bukan kebenaran.." Sahut Aina seketika, ia tak sadar dengan memanggil Beni dengan sebutan abang didepan Ibu Anas menjadi tanda tanya bagi Ibu Anas.
"Aina, sejak kapan kamu panggil Beni dengan sebutan abang?"
Aina jadi salah tingkah ditanya begitu oleh Ibu Anas.
"Mmmmh itu bu, itu tadi cuma keseleo."
"Memang kaki bisa keseleo, ada ada saja kamu Ai.." Ucap Ibu Anas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bu, duduk dulu.. Ini Beni makan ya bu." Ucap Beni yang memang sudah sangat kelaparan. Ia sudah sibuk membuka rantang yang dibawa Ibu Anas itu.
"Iya Beni.. Oh ya Ai kamu belum makan juga?"
"Belum bu.. ini Aina mau makan.."
"Kamu ini ya Ben, nggak becus jagain Aina."
"Lho, kok aku disalahkan bu?"
"Kamu nggak lihat ini jam berapa? Nanti Aina bukannya cepat sembuh malah makin lama sakitnya."
"Hehehe, ibu bisa aja.." Jawab Beni yang sedang salah tingkah.
Ibu Anas sebenarnya pura-pura tak tahu apa yang telah terjadi sebenarnya diantara mereka. Karena Anas sudah menceritakan semuanya pada Ibunya, termasuk Anas yang sudah datang menemui Martias mengenai niatnya akan mengkhitbah putri sahabatnya itu segera.
Ibu Anas begitu bahagia. Dan mereka berencana akan datang mengkhitbah Hani secara resmi esok malam. Karena ada beberapa yang harus dipersiapkan dulu seperti hantaran. Walau Hani sudah menolak, Ibu Anas tak perlu repot-repot menyiapkan segala hal. Namun Ibu Anas tetap bersikeras memberikan yang terbaik karena ia berharap ini adalah pernikahan terakhir putra satu-satunya itu, namun Ibu Anas juga tidak mau menunggu lama-lama karena ia sudah tidak sabaran menimang cucu dari Hani, termasuk menimang Trio Baby yang sudah dianggap cucunya sendiri oleh Ibu Anas itu.
"Ben, kalau udah selesai kamu boleh pulang, biar Ibu yang gantikan jaga Aina disini. Tapi Ibu juga nggak bisa lama-lama disini karena mau nyiapin persiapan lamarannya si Anas."
"Apa bu? Anas mau melamar Hani? huk huk huk." Tanya Beni seketika kaget mendengarnya, walau mulutnya penuh dengan makanan, tapi Beni tetap memaksakan bicara.
"Iya, emang mau ngelamar siapa lagi? Kamu itu ya mulut penuh gitu masih dipaksakan bicara."
"Habisnya aku kaget bu, berarti rencana kami berhasil."
"Maksudnya, kamu juga ikut terlibat comblangin mereka, begitu?"
"Yup benar sekali bu... Aku kasihan tengok Pak Tetua yang begitu berharap Anas jadi mantunya."
"Iya dong bu, habisnya anak ibu satu itu geraknya lamban seperti siput, jadi deh Beni komporin biar nyalinya terbakar akhirnya meledak juga kan.."
"Ya Allah Beni.. bahasa mu itu bikin kepala ibu puyeng."
Aina yang pura pura tak dengar, dalam hatinya ia mengucapkan rasa syukur yang begitu dalam, karena Allah menjawab doanya. Bagi Aina, Anas berhak bahagia, Anas pantas mendapatkan Hani yang bisa memberikan kebahagiaan padanya dan ibunya nanti. Hani wanita subur dan baik. Dan Aina juga senang, Hani bisa mendapatkan pendamping sebaik dan se sholeh Anas.
***
"Kegagalan adalah cara Allah mengatakan, (bersabarlah aku memiliki sesuatu yang lebih baik untuk mu.)" (Tausiyah Cinta)
__ADS_1