
Cuaca hari ini kurang baik, awan hitam muncul bersama kilat dan guntur. Terasa nyaman dengan suasana hati. Secara perlahan air menetes dengan begitu banyak, menghantam atap rumah dengan keras. “Tuhan apakah kau tau perasaanku?” batinku, hatiku menangis seperti hujan ini yang tak berhenti menentes. Aku baru memulai kisah namun hancur berantakan.
Aku seperti orang gila yang hanya duduk diam menunggu uluran tangan seseorang. Aku tak memiliki akal lagi, semua hilang dan hilang ditelan bumi. Sakit itu masih terasa, tangisan itu belum berhenti juga, aku resah pada keadaan seperti ini. Aku ingin keluar dari penjara ini. Tolong siapapun itu, aku ingin ditolong. Aku bisa gila jika terus begini. Aku tak lagi fokus pada ujian sebab hati menghancurkan segalanya. Hatiku tak dapat kujaga dengan baik.
__ADS_1
Angin bawa terbang pikiran ini. Aku ingin mendapatkan kecelakaan agar semua terlupakan. Di sini hanya aku yang tersakiti. Dia tidak. Walau hanya sesaat, sangat berarti bagiku. Aku jijik pada diriku sendiri. Mengapa sampai begini diperbudak oleh hati?. Hati yang memegang kendali dari tubuh sepenuhnya, jika hati tak suka maka jangan lakukan dan jika hati suka perbuat semuanya.
Setelah menguatkan hati, aku kembali fokus ke ujian. Hari terakhir ujian sangat menentukan sebenarnya tidak terlalu ketat karena guru membantu kami soal menyontek. Aku tak pernah menyontek hanya saja teman-temanku yang selalu melakukannya dengan yang lain. Mungkin karena aku suka kejujuran jadi semua kulakukan dengan senang hati, jika ada soal yang aku tak mengerti pasti isi saja yang penting ada jawaban. Aku tak pintar dan tak bodoh bisa dikata tengahnya.
__ADS_1
Kami semua lulus. Semua terlihat bahagia dan menangis karena perpisahan. Beberapa bulan, pendaftaran SMA telah dibuka. Ayahku meminta aku memilih antara SMA Negeri 1 Raha atau SMA Negeri 2 Raha, keputusanku jatuh pada SMA Negeri 2 Raha karena bagiku sangat dekat dan bisa berjalan kaki kalau ke sekolah. Awal pendaftaran aku ditemani sama ayah. Aku seakan terkesan dengan sekolah itu, begitu bersih dan sangat luas.
Aku melihat banyak sekali yang mendaftar bahkan sampai ribuan tapi teman-temanku saat SMP tak mendaftar di sini. Mungkin jalan kami telah berbeda tapi aku yakin pertemanan tak pernah putus. Ayahku begitu sibuk sekali mondar-mandir tak karuan. Aku hanya mengisi formulir yang diberikan tapi ada yang kurang, aku lupa membawa foto dan kami balik lagi ke rumah untuk mengambilnya setelah itu pergi lagi ke sekolah untuk menyerahkan dokumen yang telah lengkap diisi.
__ADS_1
Hari pertama belum selesai lanjut lagi ke hari kedua, masih sama melakukan hal seperti itu. Entah apa yang harus dipertanyakan lagi karena semua telah terjawab di formulir kemarin yang aku isi. Di hari kedua, aku mendapatkan teman. Teman yang membantuku dalam menyerahkan formulir kedua ini. Hari kedua telah usai pada pukul 16:00 wita. Tinggal tunggu esok hari, di mana nama-nama yang lulus pada pendaftaran pertama akan ditempel di dinding sekolah dan kami harus mencarinya sendiri.