
"Kalian berdua, jangan coba-coba main main sama saya ya.. Aina, saya tak menyangka kamu berani juga."
Langkah mereka pun terhenti, Aina mencari asal sumber suara, tapi ia tak melihat siapapun di sana. Hani yang tak sengaja menoleh ke arah atas, ia melihat bohlam lampu yang bentuknya mencurigakan. Hani langsung teringat dulu ia pernah melihat bohlam yang serupa saat seorang salesman datang ke kantor mempromosikan barang tersebut.
"Tante, sepertinya asal suara tadi berasal dari bohlam lampu itu, itu adalah kamera cctv." Ujar Hani pada Aina sambil menunjuk bohlam lampu yang berada tepat di atas kepala mereka.
Hani masih mengingat bagaimana salesman itu menerangkan fungsi kerja cctv tersebut. Cctv tersebut bisa terhubung dengan smartphone pengguna via jaringan wireless. Sehingga pengguna bisa lebih mudah memantau dari luar rumah atau dari jarak yang jauh. Hebatnya pengguna bisa merekam suaranya dan mengirimnya langsung ke cctv berbentuk bohlam lampu tersebut.
"Kalau gitu kita harus gerak cepat Hani. Setidaknya kita harus keluar dulu dari Komplek ini baru kita cari taksi, ayo Han!" Ucap Aina sambil membantu mendorong kereta bayi Trio Baby. Hani menganggukkan kepalanya. Hani mengikuti langkah Aina dengan ikut memegang bagian kanan kereta bayi tersebut.
Sampai diluar gerbang komplek, ia melihat Satpam yang sedang berjaga di dalam Pos. Beruntung Satpam itu sedang sibuk dengan ponselnya.
"Tante, bagaimana ini? Satpam itu bisa curiga pada kita."
"Tenang Han saya akan mencoba mengelabui Satpam itu. Kalian bersembunyi dulu." Ucap Aina sambil memerintah Hani sembunyi di balik pos jaga itu.
Aina berjalan mundur, setelah memastikan posisi nya pas, ia mengambil sebuah batu yang cukup besar lalu melemparnya. Batu itu tepat mengenai kaca jendela sebuah rumah. Aina pun segera bersembunyi di balik pohon depan rumah itu.
"Yes." Ujar Aina senang, ia melihat Satpam tadi berjalan ke arah rumah yang kacanya pecah itu. Dan Aina segera mengambil ancang-ancang untuk lari saat Satpam itu fokus mengecek keadaan rumah tersebut.
"Ayo Han." Ucap Aina pada Hani yang ternyata udah siap untuk lari.
"Waaah Tante pintar juga... Tapi kasian juga tu orang yang punya rumah Tan."
"Simpan dulu pujiannya Han, perjalanan kita masih panjang. Urusan yang punya rumah belakangan Han."
"I-iya Tante.."
Mereka pun sampai di jalan raya.
"Yaaah taksinya pada kemana ya?"
"Mungkin terlalu pagi Tante, jadi belum ada yang narik."
"Biasanya kalau Kota Besar taksi nonstop Hani.."
"Ya udah kita tunggu sebentar lagi Tante..."
"Han, sebaiknya kita tetap jalan, saya khawatir Dila segera pulang, lalu melihat kita."
"Baik Tan."
Aina menuntun jalan, mereka terus berjalan menjauh mengambil arah berlawanan dari arah biasanya yang dilalui Dila sambil melihat lihat kalau kalau ada taksi yang lewat.
Tiba-tiba sebuah mobil bak terbuka berhenti tepat di depan mereka menghalangi jalan mereka. Mereka melihat seorang pemuda turun.
__ADS_1
"Bang Alfian..?"
"Ya Hani, kenapa kalian ada disini tengah malam seperti ini?" Tanya Alfian yang tak menyangka takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali. Setelah beberapa kali usahanya gagal menemui mantan istrinya itu. Ia yang baru saja pulang dari usaha jualan nasi goreng malamnya yang dirintis bersama Aldi.
"Bukan urusanmu bang, biarkan kami pergi."
"Waaw, kamu makin berani ya Han, apalagi makin cantik begini, aku semakin takut kehilanganmu.." Ucap Alfian sambil memegang tangan Hani.
"Lepaskan bang."
"Hai anak muda, lepaskan tangannya!"
"Tante, tante jangan ikut campur deh.."
"Dasar kau ya, kau tak pernah berubah ya Alfian."
"Apa? Tante tahu nama saya... Ah ya.. saya ingat, Tante yang dulu juga marah-marahin saya, yang suka ikut campur urusan orang."
"Terserah kau lah Alfian, saya tak peduli.. Sekarang biarkan kami pergi, Hani juga bukan istri kau lagi kan, jadi saya berhak ikut campur sekarang."
"Nggak boleh, kalian harus ikut aku."
"Kenapa kami harus ikut kamu bang?"
"Tapi aku tak percaya sama kamu lagi bang, jadi biarkan kami pergi."
"Hani, aku ingin kamu kembali padaku. Kita akan membesarkan anak-anak kita bersama."
"Hani nggak mau lagi bang, sudah cukup Hani merasakan rasa sakit itu."
"Aku janji Han, aku tidak akan mengulanginya lagi. Sekarang aku sudah punya banyak uang Han, usaha aku sukses, aku menabung untuk kalian."
"Tidak bang, sekali tidak tetap tidak, karena kepercayaan Hani sudah hilang pada abang."
"Han, jika kamu tak mau kembali jangan salahkan saya jika salah satu dari mereka akan saya bawa. Saya mempunyai hak untuk itu." Ancam Alfian yang mulai emosi. Ia hendak mendekat pada kereta bayi yang dibawa Aina menjauh dari mereka.
"Bang jangan...! Apakah abang tega memisahkannya dari saudaranya, dari ibunya sedangkan ia masih butuh ASI?" Ucap Hani lantang sambil menghalangi jalan Alfian.
"Minggir, saya tak peduli, ia juga anak saya, itu sebagai ganti karena kamu tak mau balik pada saya." Ucap Alfian sambil mendorong tubuh Hani, Hani pun jatuh terduduk.
"Tolong..." Aina tak sengaja langsung berteriak saat Alfian mendekati mereka.
Dari kejauhan seorang laki-laki yang awalnya hanya memperhatikan dari dalam mobil, langsung turun dari mobil kemudian berlari mendekati mereka.
"Kau memang laki-laki tak berguna Alfian." Teriaknya sambil berlari.
__ADS_1
Bugh, bugh, bugh. Pukulan demi pukulan mengenai perut Alfian.
"Beni? Kau udah seperti Jelangkung saja, datang tak diundang pergi tak diantar." Ucap Alfian sambil meringis kesakitan.
Beni, sang Preman Taubat yang diberi gelar Preto oleh Papa Hani itu memang begitu patuh dengan perintah Pak Tetuanya itu.
Flashback On.
"Assalamu'alaikum Preto, maaf saya mengganggu kamu malam malam begini." Ucap Martias di balik telepon. Beni yang biasa tidur agak larut malam itu dengan cepat mengangkat panggilan telpon dari Pak Tetuanya.
"Wa'alaikumussalam Pak Tetua, tidak apa Pak, saya juga belum tidur."
"Preto, saya nggak bisa tidur, saya kepikiran terus dengan Hani beserta ketiga cucu saya."
"Memangnya mereka dimana Pak? Bukankah mereka sudah pulang ke rumah? Karena tadi siang Anas bilang ia yang akan menggantikan saya menjemput mereka." Sahut Beni yang merasa aneh dengan Pak Tetuanya itu.
"Tidak Preto, kalau mereka di rumah saya tak akan gelisah seperti ini."
"Lalu, apa ada yang bisa saya bantu Pak Tetua?" Sahut Beni yang yakin Pak Tetuanya itu pasti sedang butuh bantuannya.
"Iya Preto, kamu nggak keberatan kan berangkat ke Ibukota sekarang?"
"Sekarang juga Pak." Sahut Beni kaget karena hari memang sudah menunjukkan pukul 12 malam.
"Iya Preto... Saya khawatir terjadi apa-apa dengan mereka di sana. Hati saya tak tenang begini."
"Kalau gitu baik Pak, saya akan berangkat sekarang juga."
"Terimakasih Preto... Kamu memang sangat bisa diandalkan. Kamu kesini dulu jemput mobil, saya tak tega membiarkan kamu ke Ibukota dengan motor malam-malam begini. Nanti saya akan beri tahu alamatnya di rumah ya."
"Siap Pak Tetua."
Akhirnya Beni sampai si Ibukota jam setengah dua malam, karena kondisi malam seperti itu Beni jadi kesulitan menemukan alamat yang diberikan Pak Tetuanya itu. Ia sampai tersesat berulang kali. Panduan Map dari aplikasi di HPnya ternyata tak membantu. Sampai Beni mengira alamat yang diberikan Pak Tetuanya itu alamat yang salah. Hingga akhirnya ia melihat bayangan Hani dari kejauhan, Beni tambah yakin bahwa itu Hani karena Beni mengenal betul bentuk kereta bayi yang biasa Hani gunakan untuk membawa bayi-bayinya.
Flashback Off
"Apa.. apa kau mau kembali merasakan kepalan tanganku ini?" Ujar Beni sambil menunjukkan kepalan tangannya itu.
"Awas kau ya Beni, saya akan balas." Ucap Alfian sambil memegang perutnya yang kembali terasa nyeri melihat kepalan tangan Beni. Alfian akhirnya pergi dari situ.
"Bang Beni, tolong Hani bang..."
Bersambung...
"Percaya atau tidak, api kemarahan todak akan membakar orang yang membuatmu marah, akan tetapi api itu hanya akan menghanguskan dirimu sendiri, maka padamkanlah dengan keikhlasan." (Tausiyah Cinta)
__ADS_1