
Semenjak ditinggal Hani, Alfian mulai menjual barang perabotan rumahnya satu persatu. Karena ia tak memiliki uang sepeser pun. Selama ini semua kebutuhannya Hani yang sediakan bahkan belanja untuk ibu dan adik-adiknya Alfian pun minta pada Hani.
Alfian benar benar tak pernah memberikan nafkah lahir buat Hani sepersen pun. Yang ada ia malah membuat uang Hani habis sehabis-habisnya. Akibatnya Hani tak bisa menerima gaji bulanannya lagi karena langsung terpotong untuk angsuran sana sini untuk beberapa tahun ke depan.
Uang dari perabotan yang Alfian jual, setidaknya bisa membuatnya bertahan sampai ia nanti menikah dengan Dokter Dila. Begitu yang ada dalam pikiran Alfian.
Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan. Sudah 4 bulan Hani tidak pernah bertemu Alfian lagi, Usia kandungan Hani pun sudah memasuki 9 bulan. Kehadiran Ibu Anas yang hampir tiap hari itu seperti membawa berkah dalam kehidupan Hani. Hani memiliki semangat hidup kembali. Ibu Anas itu selalu memberi motivasi serta nasehat pada Hani. Ia sudah menganggap Hani sebagai putrinya sendiri. Ibu Anas merawat Hani dengan penuh kasih sayang.
Hani benar-benar tidak masuk kerja selama hamilnya itu. Papa Hani mengurusnya langsung ke Rumah Sakit, ia menceritakan kondisi putrinya tersebut dibantu oleh seorang Dokter Psikiater kenalan Papa Hani. Proses perceraian Hani pun tidak begitu sulit berkat bantuan Anas dan temannya. Sungguh Allah benar-benar memberi kemudahan.
Anas pun jadi sering bertemu dengan Hani, walau hanya sebentar disaat ia akan menjemput atau mengantar Ibunya. Namun Anas tetap membatasi dirinya agar tak terlalu berharap bahwa ia sebenarnya sudah jatuh hati pada putri sahabatnya itu. Ia tetap meyakinkan dirinya bahwa ia hanya prihatin dan kasihan pada Hani. Di usia yang masih muda sudah jadi janda dengan anak kembar tiga yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.
Anas juga merasa kasihan dengan anak-anak yang ada dalam kandungan Hani, kelak mereka lahir mereka tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah. Semakin Anas ingin meyakinkan dirinya bahwa perasaan yang ada di hatinya hanya sebatas kasihan namun semakin keras juga hatinya berkata bahwa ia ingin melindungi dan menjaga Hani beserta anak-anaknya kelak.
***
Suasana subuh yang begitu syahdu. Walau udara terasa begitu dingin ciri khas dari daerah yang berada di ketinggian, namun tidak menyurutkan langkah hamba-hamba Nya dalam menjalankan ibadah subuh berjamaah di Mesjid. Mereka yang tahu akan keutamaan sholat subuh berjamaah di Mesjid maka walau dengan merangkak sekali pun akan mereka usahakan.
Anas beriringan berjalan dengan Ibunya sepulang dari Mesjid menuju rumahnya. Anas terlihat menggandeng tangan Ibunya.
"Nas, hari ini kamu bisa antar ibu ke rumah Martias lagi kan?"
"Iya bu, insyaallah bisa."
"Alhamdulillah... Oya Nas, Hani itu anaknya begitu kuat ya, ia tak pernah sedikitpun mengeluh, udah baik hati, taat ibadah, murah senyum, cantik, lembut... apalagi ya... pokoknya paket komplit itu si Hani Nas. Ibu jadi ingin memiliki Hani seutuhnya."
"Maksud ibu?" Tanya Anas penasaran dengan kata-kata terakhir yang diucapkan ibunya. "Memiliki Hani seutuhnya, kok jadi aneh ya kedengarannya." Gumam Anas dalam hati.
"Biar Hani bisa selalu bersama ibu, ibu jadi nggak sabar ingin merawat anak-anak Hani juga." Jawab ibu dengan hati yang berbunga-bunga.
"Oooh begitu ya bu, semoga Allah selalu beri ibu kesehatan agar ibu bisa ikutan merawat anak-anaknya Hani ntar."
"Aamiin, tapi itu kamu kok nggak peka sih Nas? Masa' kamu nggak ngerti maksud perkataan ibu tadi itu apa."
__ADS_1
"Ngerti bu, ibu mau angkat Hani jadi anak angkat ibu begitu? Jadi adiknya Anas berarti dong?"
"Ya Allah Anas... ya udah, nggak usah dipikirin, semoga aja doa ibu Allah kabulkan."
"Lho, emang ibu doanya apa sih bu...? Tebakan Anas salah ya.."
"Salah besar, pokoknya kamu Amin kan saja doa ibu, ok!"
"Ya ampun ibu... doanya aja Anas nggak tahu masa main Amin kan saja."
"Ibu bilang tolong Amin kan Amin kan saja, ok!"
"Iya, iya... Aamiin Ya Allah... Semoga doa ibu baik untuk Anas ya Allah..." Jawab Anas sambil menengadahkan kedua tangannya.
"Kamu itu ya, sejak kapan ibu doakan yang buruk untuk kamu." Sahut ibu Anas sambil mencubit lengan anak satu-satunya itu.
"Ampun bu, ampun..." Ucap Anas sambil bergelayut manja pada ibunya itu. Anas tiba-tiba merasakan detak jantungnya mulai tak karuan. "Jangan bilang ibu mau Hani jadi mantunya?" Batin Anas mencoba menebak maksud perkataan ibunya itu.
"Allah... aku kenapa? Jantungku tiba-tiba tak sehat begini." Gumam Anas sambil meraba bagian dadanya.
"Wa'alaikumussalam bu Dewi..." Jawab Anas dan ibu serentak.
"Masyaallah anak dan ibu luar biasa, kompak gitu jawabnya hehehe. Kalau gitu saya permisi dulu ya bu, Anas.." Puji Bu Dewi sambil tertawa renyah.
"Iya bu Dewi, nggak mampir dulu." Jawab Ibu Anas sedangkan Anas membalas dengan anggukan sambil tersenyum lebar.
"Makasih ibunya Anas." Ucap Bu Dewi sambil lalu.
"Oya bu, kemarin Anas mendapatkan surat dari kantor, bahwa Anas akan di mutasikan ke Kantor Wilayah Kementerian Agama di Ibukota mulai minggu depan bu, Alhamdulillah Anas dapat kenaikan jabatan." Ucap Anas sambil membukakan pagar dan memberi jalan agar ibunya masuk duluan.
"Alhamdulillah... Ya Allah... ini namanya rezeki datang di waktu yang tepat. Kebetulan sekali Nas, ibu senang mendengarnya."
"Kebetulan apa nya ibu...? Ibu mulai deh bikin Anas penasaran lagi."
__ADS_1
"Ada deh pokoknya..." Sahut ibu dengan riang sambil masuk ke dalam rumah.
"Ya Allah ibu.. pakai rahasia-rahasia segala.." Ucap Anas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pun mengikuti langkah ibunya masuk ke dalam rumah.
***
Di sebuah rumah mewah milik Dokter Dila.
Dila sudah berangkat kerja, ia lebih memilih berangkat lebih awal, karena malas meladeni sang suami.
Alfian menatap kosong langit-langit kamar yang luasnya hampir dua kali lipat dari kamar yang pernah ia tempati bersama Hani sebelumnya. Alfian merasakan dunianya terasa hampa setelah menikah dengan Dokter Dila. Sang istri dengan berbagai alasan termasuk kesibukan akan karirnya sebagai Dokter terkenal membuat Alfian belum pernah sekalipun menyentuh istri keduanya itu. Mereka pun tidur pisah kamar.
Dan banyaknya aturan yang harus dipatuhi Alfian, salah satunya tidak boleh ada asap rokok sedikitpun dirumahnya. Dila yang super protect mengatur semuanya agar selalu hidup bersih dan sehat. Tentunya membuat Alfian tersiksa mengingat kebiasaan merokok nya yang tak terkendali itu.
Walau dari segi materi Alfian bisa mendapatkan segalanya termasuk mobil mewah yang dibelikan Dila untuk dirinya. Sedangkan mobil yang dibelikan Hani sudah diambil alih oleh orang tua Alfian di Desa.
Dila seperti seorang ibu bagi Alfian yang aturannya tidak bisa dibantah sedikit pun, jika membantah Dila akan mengancam menarik semua fasilitas yang telah diberikan Dila padanya.
"Kamu itu harus sadar diri ya Alfian, modal ganteng doang berani menikahi anak orang." Ucap Dila ketus saat Alfian mencoba merayu Dila karena tak tahan lagi ingin menyalurkan hajatnya sebagai laki-laki normal. Padahal saat itu waktu Dila sedang longgar.
Sehingga setiap kali Alfian ingin hajatnya disalurkan, ia hanya bisa menyalurkannya dengan membayangkan masa-masa pengantin barunya bersama Hani.
Se brengksek-brengseknya Alfian, namun Alfian masih takut akan dosa bila ia menyalurkan hajatnya pada wanita yang belum halal baginya. Hingga terbersit di hati dan pikirannya bahwa ia akan berusaha untuk membuat Hani kembali padanya.
Alfian bangkit dari tidurnya, lalu ia melihat dirinya dari pantulan kaca. "Hani, maafkan aku, aku memang bodoh, benar-benar bodoh... Aku laki-laki nggak berguna... Aaargh..." Maki Alfian pada dirinya sendiri.
"Prank..." Kaca pun retak akibat kepalan tangan Alfian yang keras menghantam. Darah segar pun mengalir dari jari-jari nya yang terluka.
"Hani, aku janji aku akan perbaiki diri, aku akan lakukan apapun hingga kamu mau kembali lagi padaku." Teriak Alfian sambil memperhatikan dirinya dari pantulan kaca yang sudah retak itu. Alfian bertekad dalam hatinya, ia akan berubah.
Ia menyesali perbuatannya yang benar-benar tak pandai bersyukur itu. Sekarang ia seolah mendapatkan hukumannya karena telah menyakiti Hani. Apalah artinya harta tapi kebahagiaan sesungguhnya menjadi seorang laki-laki tak lagi ia dapatkan dari istri keduanya itu. Hidupnya pun bagaikan boneka yang dengan mudah dikendalikan oleh seorang wanita.
Namun akankah hati yang telah terluka mampu menerima dan mencintainya kembali. Seperti kaca yang retak walau dikasih lem secanggih apapun tetap saja tak akan bisa kembali sempurna sediakala.
__ADS_1
***
"Karena ada yang lebih perih dari sebuah kehilangan, yaitu memiliki tapi tak mampu mensyukuri." (Tausiyah Cinta)