
Disaat Hani terbangun jam 4 pagi, ia langsung mendirikan sholat malamnya, mengambil kesempatan selagi Trio Baby nya masih tidur.
Setelah sholat, Hani pun berdoa dengan khusyuk pad Rabb-Nya agar selalu diberikan kekuatan dan kesabaran menjalani hidupnya bersama ketiga putrinya itu. Kemudian Hani menyusun rencana saat ia akan masuk kerja esok. Ia pun berniat menemui Dokter Dila.
"Ya, aku harus menemui Dokter Dila esok, bagaimana pun juga aku harus berterima kasih padanya." Gumam Hani dalam hatinya, Hani sudah mendapatkan info dari salah satu temannya yang bekerja di bagian Administrasi RSUD tempat ia melahirkan bahwa yang membantu membayar biaya diluar tanggungan BPJS Hani itu semua Dokter Dila yang lunasi.
Tok tok tok. Suara ketukan terdengar dari pintu kamar Hani.
"Han, kamu udah bangun nak...?" Sahut bu Mala dari luar kamar Hani.
"Iya Ma, udah..." Hani segera bangkit dari tempat sholatnya. Lalu membukakan pintu untuk Mamanya.
"Han, Mama Papa mau ke rumah Ibunya Anas sekarang ya. Kamu nggak apa-apa kan kami tinggal?" Ucap Mama Hani ketika pintu terbuka.
"Sepagi ini Ma, ada apa?" Sahut Hani kaget.
"Iya Han, barusan Anas memberi tahu kalau Ayahnya telah meninggal sekitar satu jam yang lalu." Ucap Ibu Mala sendu.
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Iya Ma, Hani titip salam buat Ibu ya Ma... Ya Allah... tempatkan lah Ayah bang Anas ditempat yang terbaik disisi-Mu, Aamiin." Ujar Hani sekaligus mendoakan Ayahnya Anas.
"Aamiin, kami berangkat ya Han. Papa mu sudah menunggu Mama dalam mobil.
"Iya Ma, hati-hati di jalan ya..."
"Iya sayang, kamu juga hati-hati di rumah, Mama sudah menelpon Tante mu agar bisa menemani mu nanti."
"Iya Ma, makasih... sebenarnya Hani nggak apa-apa sendiri."
"Mama tahu, tapi Mama khawatir kamu akan repot mengasuh ketiga bayimu nanti." Ucap Bu Mala yang sebenarnya lebih khawatir jika tiba-tiba mantan suami putrinya itu datang menemui Hani bila ia tahu Hani sendirian di rumah.
Bu Mala pun sudah menceritakan semuanya pada Adik laki-laki nya dan istrinya tentang Hani dengan mantan suaminya, karena bagaimanapun juga mereka wajib tahu apa yang telah menimpa keponakannya itu. Walau Om Hani itu sempat marah saat pertama kali diberi tahu, tapi lama-lama ia bisa memahami berkat bantuan istrinya yang menasehati suaminya bahwa semua itu sudah kehendak dari Allah Ta'ala.
__ADS_1
Dan Bu Mala diberi tahu oleh Pak Martias bahwa ia mendapatkan kabar dari Petro tentang Alfian yang berniat meminta rujuk kembali dengan Hani. Dan itu tentu tidak akan dibiarkan terjadi oleh Papa Hani. Ia sudah tak sudi lagi menerima Alfian kembali menjadi mantunya.
Hani hanya membalas ucapan mamanya itu dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu mengikuti langkah mama nya keluar rumah sampai pagar.
"Han, setelah masuk kunci langsung pintunya ya."
"Siap Ma.." Ucap Hani lalu ia melambaikan satu tangannya ketika Papanya membunyikan klakson mobilnya sebagai bentuk ungkapan pamit pada putrinya itu.
***
Di kediaman keluarga Anas, para pelayat sudah banyak yang hadir. Anas yang memberi tahu sendiri lewat Mikrofon yang ada di Mesjid.
Ayah Anas adalah salah satu dari pengurus Mesjid, banyak yang bersaksi bahwa almarhum adalah orang yang taat, baik, dan dermawan. Kebiasaan almarhum setiap selesai sholat Subuh jamaah di Mesjid, almarhum tidak langsung pulang, almarhum menghabiskan waktu subuh dengan berdzikir berdiam diri dulu dalam Mesjid sampai tiba waktu syuruq. Lalu sholat sunnah syuruq dua rakaat baru pulang.
Almarhum juga memiliki kebiasaan sedekah subuh setiap hari, baik itu disedekahkan melalui kotak amal di Mesjid atau sesekali almarhum langsung mendatangi rumah warga memberi santunan secara diam-diam.
Para pengurus kongsi kematian pun ikut bersaksi atas segala perbuatan baik Ayahnya Anas tersebut. Mereka sangat antusias membicarakan kebaikan semasa hidup almarhum sambil membantu mendirikan sebuah tenda dan menyusun kursi-kursi di depan rumah Anas.
Bagaimana pun juga hubungan dengan mertua itu adalah selamanya, karena dalam islam tidak ada istilah mantan mertua. Seseorang bisa saja cerai dengan suaminya atau istrinya akan tetapi hubungan mahram dengan mertuanya tetap ada.
Aina sampai di rumah duka setelah semua proses selesai dilakukan. Proses pemakaman Ayah Anas memang disegerakan karena tidak ada alasan mereka untuk menundanya.
Aina menghampiri ibunya Anas yang sedang duduk bersebelahan dengan saudara-saudara lainnya. Termasuk bu Mala yang tepat berada di samping ibu Anas.
"Bu... maafin Aina baru datang, karena Aina baru dapat kabar langsung kesini." Ucap Aina sambil meraih tangan ibu mantan suaminya itu lalu menciumnya. Aina bersimpuh di depan ibu mertua nya itu.
"Iya nggak apa, maafin Ayah ya kalau semasa hidup beliau ada kesalahan dan kekhilafan yang telah menyakiti hati nak Aina."
"Tidak bu, Ayah tidak ada pernah salah, justru Aina lah yang banyak salah pada Ayah dan ibu, maafin Aina bu..., hik hik hik. Aina pun belum sempat meminta maaf pada Ayah..., hik hik."Ucap Aina sambil terisak-isak, ia tak kuasa menahan tangisnya.
"Insyaallah Ayah sudah memaafkan nak Aina, ibu juga sudah memaafkan nak Aina jauh sebelum nak Aina meminta maaf. Karena ibu tahu semua itu adalah kehendak dari Yang Maha Kuasa. Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Jodoh Maut Rezeki kita sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh sebelum kita lahir ke dunia. Jadi takdir jodohnya Anas bersama Aina sudah digariskan hanya sampai disitu oleh Allah. Kami pun insyaallah ikhlas karenanya." Ucap Ibu Anas sambil mengusap kepala Aina lembut.
__ADS_1
Tangis Aina pun semakin menjadi-jadi, ia tak kuasa mengangkat kepalanya. Ia malu sekaligus sangat menyesal sudah meninggalkan keluarga yang begitu sayang padanya dan tentunya mengerti ilmu agama.
Bu Mala yang melihat mantan istri Anas itu meminta maaf pada Ibu Anas, perasaan Bu Mala jadi tak karuan. Ia khawatir sang mantan meminta balik pada Anas, jika itu terjadi pupus lah harapan Bu Mala menjodohkan Hani dengan Anas. Kekhawatiran Bu Mala pun wajar karena ia tidak tahu setelah bercerai dengan Anas, setahun kemudian Aina sudah menikah lagi.
Disaat Aina hendak pamit pulang, Aina meminta izin agar bisa berbicara sebentar dengan Anas pada ibunya.
"Bu, Aina pamit ya, Aina juga mau minta izin sama ibu, bolehkan Aina bicara sebentar dengan Mas Anas?"
"Iya nak silahkan, Anas ada diluar." Sahut ibu Anas. Ibu Mala yang mendengarnya berusaha untuk tersenyum, pikiran nya sudah melalang buana kesana kemari. Ingin rasanya Bu Mala mendengar apa yang akan disampaikan Aina pada mantan suaminya itu.
Aina pamit undur diri pada semua keluarga yang hadir di sana, Aina menyalami mereka satu persatu. Walau ada sebagian tatapan tak suka yang didapat Aina. Aina pun keluar mencari sosok Anas, sang mantan suami.
"Mas.." Sapa Aina yang kebetulan melihat Anas duduk menyendiri di luar. Aina pun duduk di kursi sebelah Anas.
"Mmmh.. iya Ai.." Ucap Anas seketika, ia tahu yang menyapanya adalah Aina mantan istrinya. Anas masih begitu mengingat suara mantan istrinya itu. Namun Anas begitu kaget ketika ia menoleh, ia melihat perubahan fisik Aina yang begitu kentara, Aina tampak lebih kurus dan tidak terawat. Anas memang belum pernah bertemu lagi dengan Aina walau Aina sudah ingin bertemu dengannya dulu.
"Aina minta maaf ya mas.." Ucap Aina sendu, ia tak berani menatap wajah mantan suaminya itu.
"Iya, aku sudah maafkan kamu kok." Jawab Anas yang sudah memalingkan pandangannya kembali.
"A-aku, aku sudah pisah mas dengan Ridho." Ujar Aina lemah dam terbata.
"Apa? Astaghfirullah.." Ucap Anas kembali menatap Aina. Ada perasaan iba sekaligus bertanya-tanya di hati Anas. Bukankah Aina dan Ridho saling mencintai. Namun Anas tak ingin bertanya, mulutnya seolah terkunci. Ia pun membiarkan Aina bercerita panjang lebar akan apa yang telah mantan istrinya itu alami bersama Ridho. Dan Anas pun meneteskan air matanya ketika mendengar penuturan terakhir Aina.
"Aku sudah tak punya apa-apa lagi mas, semuanya sudah diambil oleh Ridho, termasuk meninggalkan hutang yang banyak padaku, hik hik. Jadi aku terpaksa menjual rumah yang kau berikan itu mas, untuk menutupi hutang-hutang itu. Mungkinkah ini azab untuk ku mas...?"
"Maafkan aku Ai, aku tidak bisa membantu mu." Sahut Anas dengan berat setelah mendengar penuturan dari Aina, mantan istrinya itu. Pikiran Anas pun seolah melayang pada Hani, nasib Aina pun tak jauh beda dari nasib Hani.
***
"Apa yang perlu ku takuti jika jodoh ku bukan dia ataupun kamu... Aku hanya sedang menikmati kesendirian ku dan akan jatuh cinta untuk terakhir kalinya kepada Jodoh Pilihan Allah." (Tausiyah Cinta)
__ADS_1