Takdir Mempertemukan Kita

Takdir Mempertemukan Kita
33. Kerepotan Hani


__ADS_3

Hari Senin pun tiba dimana sebagian orang membencinya, lantas ada apakah dibalik hari senin?


Ada sebuah penelitian di Negara paman Sam, Amerika menyatakan bahwa detak jantung manusia semakin meningkat terjadi dihari senin dan itu bisa mempengaruhi kesehatan manusia. Salah satu penyebabnya dihari itu sebagian pekerja/karyawan memulai aktifitas lagi sehabis liburan. Mereka merasakan stres. Karena bisa jadi banyak uang yang dihabiskan pada hari liburnya. Atau akan kembali pada aktivitas yang cukup melelehkan itu.


Namun dalam pandangan Islam, hari senin adalah hari yang baik dan memiliki keutamaan. Seperti Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam Lahir Dan Meninggal, Serta Mendapat Wahyu di hari tersebut.


Di hari senin juga amalan manusia akan diangkat. Maka dari itu, Rasulullah menganjurkan puasa sunnah, yaitu puasa senin dan kamis.


Kerepotan pun sangat dirasakan Hani saat ia mulai masuk kerja di hari Senin itu, hari pertama setelah dari cuti panjangnya. Bagaimana tidak, biasanya Hani hanya menyiapkan untuk dirinya sendiri dan sekarang ia akan menyiapkan untuk empat orang sekaligus.


Selepas sholat subuh, Hani langsung memandikan bayi-bayinya.


Pagi ini semua terlihat sibuk di rumah Pak Martias. Bu Mala sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Biasanya Hani akan melakukan puasa Sunnah nya di hari Senin ataupun Kamis, tapi karena kondisinya yang sedang menyusui itu membuatnya menangguhkan kebiasaannya itu dulu. Ia takut tak bisa memberikan ASI yang maksimal untuk ketiga bayinya.


Pagi itu, Papa Hani pun akhirnya terlibat dalam memandikan cucu-cucu nya, karena tak tega melihat putrinya itu yang kerepotan menyiapkan segalanya. Mulai dari menyiapkan air panas buat mandi, pakaian mereka, pakaian ganti, dan keperluan Trio Baby lainnya yang akan dititipkan di Tempat Penitipan Anak.


Beruntung nya dari Kepala Rumah Sakit memberikan keringanan bagi pegawainya yang sedang menyusui, jadi Hani bisa menyusui bayi-bayinya disaat jam istirahat yang biasanya dapat sekali untuk Ishoma (Istirahat Sholat Makan) siang, tapi khusus untuk ibu menyusui diberi jatah istirahat dua kali, asalkan pekerjaan mereka tetap diselesaikan dengan baik tiap harinya. Namun Hani tetap menyiapkan susu formula beserta botol minumnya sebagai cadangan tambahan.


"Ya Allah, seperti nya harus disiapkan dari semalam biar paginya nggak ribet begini." Gumam Hani sambil menyeka keringatnya yang bercucuran, walaupun udara pagi di Pedesaan yang dingin tetap membuat tubuh Hani keringatan efek bolak balik menyiapkan segalanya.


"Huuuft, Bismillah... bagus jugalah aku jadi nggak perlu olahraga lagi, buat nurunin berat badan kan..." Hani tersenyum di depan cermin sebentar terus lanjut mengambil Tas bayi yang cukup besar, kemudian Hani memasukkan semua perlengkapan bayi-bayinya itu ke dalam tas itu.


"Bunda, kami sudah siap..." Ucap Papa Hani sambil menirukan suara anak kecil.


"Ya ampun Papa..."


Hani tertawa melihat penampilan papanya yang berantakan. Lalu tersenyum manis setelah melihat Trio Baby yang ternyata sudah rapi di dalam kereta bayi mereka.


Pakaian yang digunakan Pak Martias selain basah juga penuh dengan percikan bedak tabur bayi. Celana yang digunakan Pak Martias satu tergulung di atas lutut satu lagi menjuntai kebawah.


"Kalau gitu Opa mandi dulu ya cucu-cucu Opa yang cantik. Jangan rewel ya..." Ucap Pak Martias yang tak menghiraukan ledekan putrinya itu.

__ADS_1


"Iya Opa, maaf sudah merepotkan..." Sahut Hani kemudian seolah memberikan contoh yang baik pada ketiga putrinya.


"Oya Pa, Hani jadi diantar sama Beni kan Pa?"


"Iya jadi, tuh Petro udah ada didepan."


"Ooh, syukurlah Pa... Hani nggak tahu bagaimana caranya membalas budi Papa dan Mama, maafkan Hani ya Pa."


"Kamu itu putri Papa... Hana, Hafshah juga Humaira adalah cucu-cucu Papa, jadi nggak perlu minta maaf segala, Ok!"


"Iya Pa, terimakasih banyak."


"Nanti Hani belajar nyetir lagi deh biar nggak ngerepotin lagi."


"Untuk sekarang jangan dulu ya... Yang ada Papa yang khawatir karena nya. Dua bulan lagi Papa pensiun, Papa yang akan mengantar kalian atau biar papa yang menjaga mereka di rumah."


Hani berusaha tersenyum membalas ucapan Papa nya itu. Dalam hati Hani, ia berjanji tidak akan membuat repot kedua orang tuanya itu lagi. Sekarang dari segi biaya hidup Hani bersama ketiga putrinya itu yang benar-benar diluar dugaan dan kemampuan Hani, Papa Mamanya lah yang selalu turut meringankannya. Termasuk menggaji Beni atau Preto sebagai supir pribadi Hani untuk sementara. Sesekali Darma, adik Hani juga memberi uang untuk membantu keperluan ketiga ponakannya itu.


"Apa nggak sarapan dulu disini Petro?" Tanya Pak Martias pada Beni.


"Mmmh, terima kasih Pak."


"Baik, jadi kamu tahu kan apa saja tugasmu?"


"Iya Pak Tetua, saya masih ingat apa saja yang Bapak sampaikan pada saya beberapa hari yang lalu. Apalagi itu menyangkut sepupu saya, saya sangat senang bisa ikut andil." Sahut Beni sambil tersenyum.


"Baik Petro, selamat bertugas ya... Saya percayakan padamu." Ucap Pak Martias sambil menepuk pelan bahu Beni.


"Siap Pak, insyaallah."


Hani pun bersama ketiga bayinya diantar Beni sampai Rumah Sakit di Ibukota dalam waktu lebih dari satu jam. Karena Beni membawa mobil Pak Martias itu dengan begitu hati-hati, bagaimana pun yang ia bawa adalah para bayi yang masih usia hitungan bulan.

__ADS_1


"Ya Allah, bang Beni saya jadi terlambat ini bang." Ucap Hani yang buru-buru turun dari mobil. Beni hanya bisa tersenyum simpul sambil meminta maaf.


"Maaf.." Ucapnya di balik kemudi. Ia hanya diam memperhatikan Hani yang repot sendirian menurunkan ketiga bayinya itu dari mobil bergantian memasukkan satu persatu ke dalam kereta bayinya.


"Maafin aku Han, aku bukannya nggak mau membantu, tapi..." Gumam Beni dalam hatinya.


Hani pun buru-buru mendorong kereta itu masuk ke pekarangan tempat Penitipan Anak yang berada tepat di depan Rumah Sakit tempat Hani bekerja itu. Ia pun disambut dengan ramah.


"Assalamu'alaikum Ibu, Masyaallah ada tiga putri cantik, Assalamu'alaikum putri-putri sholeha..." Sapa seorang wanita dengan sangat ramah.


"Wa'alaikumussalam ustadzah.."


"Ada yang bisa kami bantu ibu?"


"Iya ustadzah, saya ingin menitipkan ketiga bayi saya disini. Tapi saya minta maaf untuk urusan administrasi nya nanti pas jam istirahat saya kesini lagi. Saya udah telat soalnya, saya bekerja di Rumah Sakit depan. Ini saya tinggalkan KTP dan kartu nama saya dulu."


"Ooh baik Ibu, nggak apa, kami dengan senang hati membantu." Jawab wanita yang dipanggil ustadzah oleh Hani itu.


Selain Yayasan Tempat Penitipan Anak yang bernama Yayasan Cahaya Iman itu menampung anak-anak yang akan dititipkan di usia belum sekolah, Yayasan itu juga memberikan fasilitas bagi Pendidikan Anak Usia Dini yang berbasis Islami. Visi misinya adalah menciptakan generasi yang mengenal Rabb-Nya dari dini melalui Al-Qur'an. Jadi anak-anak di biasakan diperdengarkan ayat ayat suci Al-Qur'an yang diputar melalui speaker Qur'an setiap harinya. Tiap Hari bergantian dari juz 1 sampai juz 30, yaitu satu juz setiap harinya.


Hani menjadi tenang meninggalkan ketiga putrinya di sana, lantunan ayat suci Al-Qur'an yang ia dengar dari speaker itu membuat hatinya terenyuh , karena sudah lama ia tak memegang dan membaca kitab suci umat islam itu. Semenjak ia melahirkan, Hani tak sempat lagi membacanya. Hani pun segera berlari menyebrangi jalan kemudian memasuki perkarangan Rumah Sakit. Saking buru-buru nya, ia sampai lupa mengucapkan terimakasih pada Beni yang ternyata masih setia menunggu dalam mobil.


Hani masuk gedung Rumah Sakit sambil terengah-engah. Ia nggak tahu bahwa seseorang telah memperhatikan gerak-gerik Hani mulai dari ia turun dari mobil. Hani mengambil absen kemudian melirik jam ditangannya. "Ya ampun aku sampai lupa makai jam tangan." Hani sampai melupakan kebiasaannya sendiri.


"Ya Allah telat setengah jam lagi." Gumam Hani melirik jam yang ada di dinding sambil mengatur napasnya.


"Kalau begini terus, tunjangan aku kan habis terpotong." Desahnya dalam hati, lalu Hani segera berjalan memasuki ruang kerjanya.


***


"Cinta pada Dunia, Dunia akan pergi. Cinta pada Manusia, Manusia pun akan mati. Cintalah hanya Pada Allah karena Dia lah yang Kekal Abadi." (Tausiyah Cinta)

__ADS_1


__ADS_2