Takdir Mempertemukan Kita

Takdir Mempertemukan Kita
35. Rencana


__ADS_3

"Han, nanti sore aku yang jemput ya." Ucap Anas setelah selesai menurunkan ketiga bayi Hani, Bayi-bayi Hani pun langsung disambut oleh para ustadzah disana.


"Tapi bang Beni nanti....? Sela Hani.


"Urusan Beni saya yang urus, tenang aja.." Ujar Anas meyakinkan Hani, lalu ia masuk kedalam mobilnya.


Hani hanya menganggukkan kepalanya sambil memaksakan diri untuk tersenyum. Sebenarnya Hani tak mau merepotkan Anas lebih jauh, ia takut tak bisa membalas kebaikan Anas kelak. Apalagi membalas dengan rasa cinta juga. Anas sendiri pun belum pernah mengutarakan perasaannya pada Hani.


Hani jadi kepikiran akan tawaran Dokter Dila kembali, disaat ia bertemu dengan Dokter Dila waktu hari pertama ia masuk kerja. Saat itu Hani baru kembali dari menyusui ketiga bayinya di Tempat Penitipan Anak.


Flashback On


"Dokter Dila, boleh saya bicara sebentar?" Sapa Hani ketika ia tak sengaja berpas-pasan jalan di koridor Rumah Sakit.


"Hani? Boleh... sebaiknya kita bicara di ruangan saya saja." Jawab Dokter Dila cepat, ia tak menyangka Hani mau menemuinya.


"Baik Dok.." Sahut Hani sambil mengikuti langkah Dokter Dila masuk ke dalam ruangannya.


"Silahkan duduk Han..!" Dokter Dila mempersilahkan Hani duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu, lalu ia pun ikut duduk di sebelah nya.


"Terimakasih Dok."


"Kamu dan Trio Baby apa kabar?" Basa basi Dokter Dila memulai percakapan. Dokter Dila begitu bahagia bisa melihat wajah Hani langsung, setelah sekian lama ia memendam rindu. Ingin rasanya ia memeluk tubuh Hani, yang tampak semakin cantik itu. Karena porsi tubuh Hani begitu cepat kembali normal. Namun ia berusaha untuk tampak seperti biasa saja, ia khawatir Hani malah berpikiran yang aneh-aneh. Namun matanya tak pernah lepas dari memandang Hani.


Hani yang ditatap seperti itu oleh Dokter Dila merasa agak risih. Lalu Hani segera mengutarakan niatnya.


"Saya sebelumnya mengucapkan banyak terimakasih Dokter, atas segala perhatian Dokter pada saya dan anak-anak saya. Terutama itu pelunasan biaya Rumah Sakit, saya jadi berhutang pada Dokter."


"Sssst, kamu nggak usah merasa berhutang gitu sama saya. Saya yang seharusnya meminta maaf padamu Han, anggap saja semua itu adalah bentuk permintaan maaf saya." Sahut Dokter Dila sambil meraba bibir Hani dengan jari telunjuk nya, matanya menatap lekat wajah Hani.


"Tapi itu kenapa Dokter melakukan nya semua pada saya? Mulai dari menerima Alfian menjadi suami Dokter, sedangkan Dokter tahu saya itu dulu adalah istri Alfian. Tapi tenang Dok, saya tidak marah kok, saya malah bersyukur bisa terbebas dari Alfian."


"Okey... saya akan menjelaskan nya semua padamu. Awalnya saya memang menyukai mantan suami kamu itu, dan itu pun karena terpaksa. Karena saya selalu didesak orang tua agar bisa segera menikah. Kebetulan dulu sebelum kamu menikah dengan Alfian, kami sudah terlebih dahulu dijodohkan oleh Mama saya dengan Ibu Alfian, tapi saya menolak. Dan perjodohan itu pun kembali berlanjut setelah kamu menikah dengannya. Saya nggak tahu apa yang ada dipikiran Mama saya sehingga masih mau menerima Alfian menjadi menantunya, padahal jelas-jelas Alfian sudah punya istri." Terang Dokter Dila sambil merapikan jas dokter yang ia pakai. Gaya rambut Dokter Dila yang dipotong pendek, sekilas membuat Dokter Dila terlihat maskulin, namun kecantikan wajahnya masih begitu terpancar sempurna.


"Setelah saya mengenal karakter Alfian, akhirnya saya menerima perjodohan itu, saya merasa bisa hidup dengannya tanpa merusak tujuan hidup saya sendiri. Dan awalnya saya mau kita itu bisa hidup bersama Han, ibaratnya saya hanya menginginkan Alfian menjadi suami hanya untuk sebuah status saja. Dan kamu sebagai istri yang akan melayani segala kebutuhan biologis nya. Kamu tahu Hani, sampai sekarang saya masih virgin."

__ADS_1


"Apa?" Sahut Hani tak percaya.


"Iya Han, saya nggak berselera dengan suamimu itu, ia hanya seorang laki-laki yang tak berguna."


"Benar Dok, bang Alfian memang laki-laki yang tak...." Hani tak mampu melanjutkan ucapannya. Seketika hatinya kembali sakit teringat segala perlakuan yang ia dapat dari mantan suaminya itu.


"Makanya Han, saya sangat senang ketika Alfian mendapatkan surat cerai darimu. Ia memang tak pantas buatmu Han." Ujar Dokter Dila, tangannya pun mulai merangkul bahu Hani.


Hani membiarkan dirinya dirangkul oleh Dokter Dila, karena ia pikir itu hanya semacam bentuk perhatian sesama wanita.


"Han, izinkan saya membantu kamu."


"Maksud Dokter?"


"Kamu bisa tinggal di rumah saya, tapi kamu tenang rumah itu bukan rumah yang ditempati Alfian. Jadi kamu tak perlu repot-repot lagi bolak-balik dari Desa ke Kota. Apalagi membawa Trio Baby begitu, kasian juga kan mereka."


"Mmmmmh, terimakasih Dokter, saya nggak bisa menerimanya."


"Hani, please... izinkan saya untuk menebus kesalahan saya yang pernah membuat mu dan keluarga mu terluka karena menikah dengan Alfian." Ucap Dokter Dila dengan suara memelas.


"Terima kasih Hani, justru karena itu Han, anggap saja ini bentuk ungkapan terimakasih saya karena kebaikan hatimu dan keluargamu."


"Saya akan pikirkan dulu Dokter." Ucap Hani sambil melepaskan rangkulan tangan Dokter Dila dari bahunya.


"Baiklah, saya harap kamu menerima nya.." Ucap Dokter Dila dengan nada kembali Profesional seperti saat ia bekerja.


Hani bangkit dari duduknya, "Saya permisi Dokter, terimakasih sekali lagi atas segala nya."


Hani menghela napasnya yang terasa begitu berat setelah berada di luar ruangan Dokter Dila. Otaknya masih belum bisa mencerna semuanya sekaligus.


"Hani..." Sapa seseorang dari kejauhan. Sosok itu pun mendekati Hani.


"Kamu ngapain disini?" Ucapnya mengagetkan Hani.


"Riana, please deh bikin jantungan aja."

__ADS_1


"Maaf... Tapi ini kamu baru keluar dari ruangan Dokter Dila kah?


"I-iya, aku, aku barusan ketemu Dokter Dila." Ucap Hani tergagap.


"What? Kamu serius?"


"Iya Riana..."


"Waaah kamu hebat Han, saya jadi penasaran deh, kamu berhasil melabrak dia kan?"


"Riana, jangan ngaco deh, yang ada aku malah harus banyak mengucapkan terimakasih padanya."


"Tunggu, aku jadi bingung nih..."


"Udah ah, nggak usah dipikirkan, ok! Aku mau lanjut kerja dulu, kerjaan ku pasti sudah menumpuk." Elak Hani, ia nggak mau persoalan Rumah Tangganya dulu diketahui banyak orang walau itu sahabat nya sendiri.


"Yaaah, ok deh kalau gitu.. Bye Hani..."


"Bye..."


Flashback Off


"Astaghfirullah, jangan sampai aku telat lagi." Hani tersadar dari lamunannya. Ia segera berlari menyebrang jalan setelah memastikan tidak ada kendaraan yang lewat.


Seseorang yang selalu menguntit Hani tiap pagi itu sedang mendengus kesal.


"Sial... Dasar si Tua itu ternyata nggak nyerah juga, Aku bisa-bisa nggak ada kesempatan lagi untuk balik dengan Hani. Aku harus merencanakan sesuatu." Ucapnya setelah melihat Anas yang turun dari mobil saat mengantarkan Hani serta anak-anaknya, ia semakin dibuat cemburu melihat perlakuan manis Anas pada mantan istrinya itu.


Kemarin-kemarin Alfian masih merasa tenang karena ia kenal dengan Beni. Beni sang mantan Preman tak mungkin bisa mendekati putri Martias. Palingan Beni hanya suruhan Martias begitu pikiran Alfian, mantan suami Hani itu.


Disaat Alfian tahu kalau Anas, seseorang yang menjadi Penghulu mereka dulu itu menyukai Hani, ia pun mengirim ancaman melalui pesan elektronik. "Kau jangan harap bisa memiliki Hani Pak Tua, ingat umur, Hani tak pantas untukmu. Awas jika kau berani mendekati nya aku tak segan segan berbuat nekad baik itu padamu atau pada Hani." Isi pesan yang dikirim Alfian pada Anas saat itu.


***


"Akan tetapi sehebat apapun kita merencanakan sesuatu. Tetap rencana Allah adalah sebaik-baik rancangan." (Tausiyah Cinta)

__ADS_1


Termasuk rancangan author ini ya sobat readers... Sebaik apapun author merancang akan sebuah kisah ini namun itu tak sebaik rancangan Allah. Jadi ini kisah hanya pandangan author semata diambil dari berbagai kisah nyata yang terjadi di ramu dalam bentuk tulisan, berharap bernilai guna bagi pembaca. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian ya sobat... Maafkan author yang belum sempurna dalam penyampaian cerita, karena kesempurnaan hanya milik Allah semata...🙏


__ADS_2