Takdir Mempertemukan Kita

Takdir Mempertemukan Kita
38. Tiba-tiba Ingat Anas


__ADS_3

"Astaghfirullah... Dila, aku pikir kamu sudah bertaubat, apalagi disaat kamu akhirnya mau menikah juga." Ucap Aina geram.


"Ssssstt, pelankan suaramu Aina, jangan sampai ia mendengarnya."


"Nggak Dila, ini nggak boleh terjadi. Kasihan ia, ia wanita baik-baik. Jika aku tahu tujuanmu membawa ia kesini untuk itu, aku pasti sudah mencegahnya menerima tawaranmu itu." Tekan Aina pada Dokter Dila, yang Aina tahu niat Dila hanya semata-mata ingin meminta maaf pada Hani dan ingin menebus kesalahannya dengan membantu Hani.


"Tau darimana kamu Ai, aku yakin ia anti sama laki-laki setelah cerai dari Alfian, suamiku yang tak berguna itu. Atau... kamu cemburu ya padanya?" Ucap Dokter Dila pelan namun tajam.


"No Dila, aku tak mau mengulangi kesalahan masa laluku lagi.." Ucap Aina dengan tegas.


Aina memang sempat melakukan hubungan yang menyimpang itu seperti kaumnya Nabi Luth bersama Dila saat ia kecewa Pada Ridho yang lebih memilih menikah dengan Rania. Saat itu Aina hampir saja bunuh diri jika Dila tak datang tepat waktu.


Dila, sang sahabat sewaktu kecil hadir kembali sebagai sosok yang membuat Aina merasa nyaman didekatnya. Lama kelamaan rasa itu tumbuh diantara mereka. Mereka pun layaknya seorang kekasih yang ingin memberikan kepuasan satu sama lain. Mereguk kenikmatan surga dalam memenuhi kebutuhan biologis mereka, walau dengan cara yang salah.


Aina akhirnya menyadari kesalahannya, bahwa ia sudah melakukan Dosa besar setelah bertemu Anas dan ia mencoba membuka hati disaat Anas datang melamarnya. Aina tidak mau terlalu jauh terjerumus dalam kesesatan itu. Dila awalnya begitu marah pada Aina namun akhirnya Dila mengikhlaskan sahabatnya itu. Dan mereka akhirnya tetap bisa berteman dengan baik.


"Jangan munafik Ai, kamu bercerai dari Ridho lalu datang menemui ku, untuk apa lagi kalau bukan karena kamu mau kita kembali seperti dulu, iya kan?"


Belum sempat Aina menjawab, namun Dila sudah melanjutkan ucapannya kembali.


"Tapi maaf Ai aku sudah tak tertarik lagi padamu. Aku hanya kasihan padamu karena kamu sahabatku. Jadi aku memberimu tempat tinggal. Nanti kamu yang akan melayani segala kebutuhan Hani dan anak-anaknya disini."


"Astaghfirullah.. Dila.. terserah apa yang kamu pikirkan tentang ku, aku hanya mencoba mengingatkanmu. Ingat Dosa Dil." Sahut Aina, lalu ia berdiri dari duduknya hendak beranjak dari situ. Aina malas meladeni Dila.

__ADS_1


"Hei lady... jangan bawa bawa dosa deh... Aku mau kamu melakukan apa yang aku mau. Jangan sampai mereka keluar dari rumah ini. Aku tak akan mengizinkan ia keluar walau untuk pergi kerja sekalipun." Pesan Dila sambil mencengkram tangan Aina yang hendak pergi.


Aina menghentakkan tangannya hingga cengkraman tangan Dila terlepas dari tangannya, lalu Aina berjalan menuju kamarnya yang terletak di bagian belakang.


Dila tak sadar bahwa Hani telah menguping pembicaraan mereka. Hani bisa mendengar dengan jelas atas apa yang mereka perbincangkan. Seketika tubuh Hani menjadi lemas, Hani tak menyangka ternyata Dokter Dila berbuat baik padanya karena punya maksud tertentu. Dokter Dila sudah seperti seorang suami yang begitu posesif terhadap istrinya. Hani pun bergidik ngeri.


"Astaghfirullahal'adzim, aku memang masih punya rasa trauma dengan namanya laki-laki Dokter, tapi bukan berarti aku mau menjadi tempat berlabuhnya nafsu sesatmu itu." Gumam Hani dalam hatinya.


Hani yang tadinya ingin tidur karena lelah tapi tiba-tiba ia merasakan haus. Ia hendak keluar kamar mencari minum, tapi langkahnya terhenti tepat didepan pintu yang baru ia buka sedikit. Karena ia mendengar suara Dokter Dila berbicara dengan seorang wanita, dan ternyata itu menyangkut dirinya.


Hani segera menutup pintu kamar itu kembali ketika mendengar langkah gerak kaki seseorang yang sedang berjalan. Hani pun segera mengunci pintu kamar itu, ia khawatir Dokter Dila lah yang berjalan menuju kamarnya. Hani menjadi takut bertemu Dokter Dila.


"Ya Allah... kenapa Engkau uji aku seperti ini...?" Keluh Hani pada Rabb nya, tubuhnya merosot di balik pintu. Hani tak tahu bahwa rencana Allah sungguh adalah yang terbaik untuknya.


Salah satu bayi Hani pun terbangun, suara rengekan khas Humaira menyadarkan Hani bahwa ada ketiga putrinya yang akan ia jaga. Hani harus kuat, ia akan pergi dari rumah itu. Ia tak mau terlalu jauh masuk dalam perangkap Dokter Dila. Hani bersyukur, Allah membukakan rahasia itu di awal.


"Ssssstt sayang bunda tenang ya... maafkan bunda... ASI nya nggak cukup ya."


Ternyata pengaruh hormon dalam tubuh Hani yang sedang haid bisa menekan produksi ASI sehingga produksinya lebih sedikit daripada saat tidak haid. Ditambah kondisi pikiran Hani yang sedang mengalami banyak tekanan. Stress juga dapat menghambat produksi ASI dan perasaan stress ibu juga bisa dirasakan bayi.


Tok tok tok, suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar. Hani pun jadi panik, ia melihat handel pintu itu bergerak gerak. Hani khawatir belum mengunci pintu itu dengan benar.


"Sial pintunya malah dikunci dari dalam." Umpat Dila kesal.

__ADS_1


"Han, kamu belum tidur kan? Anakmu nangis tuh." Sahut Dila dari depan kamar.


"I-iya Dok.." Jawab Hani tergagap.


"Han, kamu butuh bantuan nggak? Saya siap membantu mu nih." Sahut Dila kembali, Dila ingin Hani membukakan pintu untuknya sehingga ia bisa masuk.


"Tidak Dok, saya bisa sendiri Dok, karena Humaira memang suka rewel tiap malam." Jawab Hani dengan suara kencang memberi alasan agar Dokter Dila tidak memaksakan diri untuk bisa masuk.


"Baiklah kalau gitu, saya istirahat dulu ya Han, kalau kamu butuh bantuan bangunkan saja saya." Ucap Dila kemudian mendengus kesal. Ia kecewa malam ini tidak bisa melanjutkan aksinya, yaitu bisa tidur bersama Hani.


"Iya Dok, terimakasih." Sahut Hani.


Hani kembali bisa bernapas lega setelah tak mendengar suara Dokter Dila lagi.


"Ya Rabb, bantu kami keluar dari rumah ini.." Doa Hani penuh harap.


"Sayang... maafkan Bunda yang terlalu gegabah dalam mengambil keputusan, pagi-pagi sekali kita akan keluar dari rumah ini, sekarang kita istirahat dulu ya... Kalian anak-anak hebat bukan? Kembali bantu Bunda ya sayang... Kita akan berpetualang esok, karena Bunda nggak tahu harus kemana, rumah ini dimana lokasinya Bunda juga nggak tahu, Bunda juga nggak mau Opa Oma kalian tahu... Bunda Malu, Bunda sudah banyak sekali merepotkan mereka... huuuft, Ma Pa maafkan Hani..." Ucap Hani sambil mengusap-usap masing-masing kepala Trio Baby nya yang ikutan bangun karena suara tangis Humaira. Humaira yang tadinya rewel sudah kembali terlelap. Humaira seakan mengerti apa yang diucapkan Bundanya itu.


"Hana, Hafshah dan Humaira, kelak ini akan menjadi cerita saat kalian dewasa. Semoga kehidupan kalian nanti jauh lebih baik dari Bunda, mendapatkan pasangan hidup yang Sholeh, bertanggung jawab, selalu berlaku lembut pada kalian tidak seperti Papa kalian. Yang jelas bisa membimbing kalian menjadi wanita ahli surga. Aamiin ya Rabb." Doa Hani disaat ia merebahkan badannya di atas kasur berukuran jumbo itu.


Hani tiba-tiba ingat pada Anas. "Ya Allah... kenapa aku jadi rindu sama bang Anas." Gumam Hani mengadu pada Rabb nya, namun tak lama Hani pun akhirnya terlelap.


Lanjut Next Part ya...

__ADS_1


***


"Setiap manusia pasti banyak berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang sering bertaubat." (H.R Tirmidzi)


__ADS_2