
"Bro, cepat kesini! Kalau nggak... kamu akan menyesal, jangan sampai saya menikahi keduanya nanti." Ucap Beni saat sambungan telponnya diangkat Anas, tanpa basa basi Beni langsung melontarkan kalimat perintah bernada ancaman, kemudian mematikan teleponnya. Anas yang baru saja kembali dari Mesjid habis menunaikan sholat subuh mendapatkan telepon dari Beni sepupunya itu.
"Halo Ben, halo, maksud kamu apa nih? Halo Ben.."
Tak lama ada pesan masuk di ponsel Anas, Anas segera membukanya.
("Hai Bro, maaf saya lupa kasih alamat, kamu langsung saja ke RSUD pagi ini, ok!")
"Kebiasaan kamu Ben, belakangan ini sering kali bercanda sambil ngancam." Gumam Anas kesal. Ia tidak membalas pesan Beni.
"Eh bentar, maksudnya itu aku harus ke Rumah Sakit, Jangan-jangan Hani yang sakit." Anas bermonolog namun hatinya tiba-tiba gelisah kalau-kalau Hani yang sakit.
"Tapi Beni bilang keduanya, selain Hani siapa lagi? Dasar Beni bikin susah mikir saja." Anas pun kembali bermonolog.
Anas segera mengganti pakaian sholatnya dengan pakaian kerjanya langsung. Jadi nanti ia dari RSUD bisa langsung berangkat dinas ke Ibukota. Beruntung Anas selalu mandi sebelum subuh jadi ia bisa langsung mengganti pakaiannya dan berangkat. Karena hatinya tiba-tiba menjadi tak tenang.
Anas pun pamit sama ibunya. Namun Anas tak bicara perihal Hani, ia hanya mengatakan ada teman yang sedang dirawat di RSUD, Anas takut ibunya khawatir bila ia menyebut Hani berada di Rumah Sakit. Anas mau memastikan dulu keadaan Hani.
Jadilah Anas yang sekarang duduk di samping Hani yang sedang tertidur lelap. Saat kepala Hani rebah di bahunya. Anas pun langsung mendehem.
"Ehem, ehem."
Sebenarnya Anas tak tega membangunkan Hani dengan suara dehemannya itu, karena Anas melihat raut wajah Hani seperti begitu kelelahan. Tapi bagaimana pun juga Anas harus menjaga adabnya sebagai muslim sejati karena Hani bukanlah mahramnya.
Hani langsung terbangun mendengar deheman Anas, Hani segera mengangkat kepalanya yang tadinya merasa nyaman berada di bahu laki-laki itu yang ternyata bahunya Anas. Hani pun jadi gelagapan. Ia merasa malu pada Anas.
"Maaf Han, saya membangunkan mu."
"Bang Anas, Hani yang seharusnya minta maaf ya bang, Hani nggak tahu."
"Ya iya lah Han, namanya orang tidur mana bisa tahu, kalau tahu mah itu sengaja namanya, sengaja nyari kesempatan, hehehe." Ledek Beni yang baru saja datang dari mushalla RSUD itu, ia yang baru bisa sholat subuh setelah Anas datang. Karena Beni juga nggak tega membangunkan Hani yang tampak begitu lelah.
__ADS_1
"Bang Beni bisa aja becandanya... Ngomong ngomong bang Anas kapan datang?" Ucap Hani yang lagi salah tingkah.
"Belum lama... Hani nggak sholat subuh?" Tanya Anas yang berusaha mengatur nada bicaranya, karena Anas tiba-tiba susah mengatur detak jantungnya yang masih berdetak kencang karena Hani menyandarkan kepalanya barusan di bahunya.
"Lagi nggak bang." Ucap Hani malu, Hani seperti seorang istri yang lagi diingatkan suaminya untuk sholat. Seperti harapan Hani waktu bersuamikan Alfian, tapi Hani sama sekali tak menemukan perhatian seperti itu dari mantan suaminya itu. Tiba-tiba darah Hani berdesir, ia sangat merindukan sosok yang bisa mengingatkan ia dalam kebaikan. Dan sosok itu ia temukan dalam diri Anas.
"Astaghfirullah, ya Allah kenapa dengan diriku, kenapa aku jadi tiba-tiba merasakan panas dingin seperti ini?" Batin Hani sambil mengipas ngipas wajahnya dengan tangannya.
"Hani, kamu baik-baik saja kan?" Ucap Anas heran kenapa Hani tiba-tiba jadi keringatan seperti itu, padahal hawa di sana begitu dingin dirasakan Anas.
"Iya Han, are you Ok?" Sahut Beni yang ikutan khawatir melihat perubahan wajah Hani menjadi merah padam seperti itu.
"Haaa, aku.. aku Ok bang." Jawab Hani gelagapan.
Tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruang ICU.
"Bu Hani, kondisi pasien sudah stabil, jadi sebentar lagi kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat." Lapor perawat yang baru saja keluar dari ruang ICU tersebut.
"Suster, tolong letakkan di kamar VIP saja, nanti saya yang akan menanggung biayanya." Ucap Anas dengan mantap.
Hani langsung menoleh pada Anas seakan tak percaya, Hani belum tahu bahwa Aina adalah mantan istrinya Anas.
"Yang benar bang Anas?" Tanya Hani kemudian lalu dibalas anggukan oleh Anas.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak bang Anas, Hani selalu saja merepotkan bang Anas."
"Nggak apa-apa Han. Ini juga tanggung jawab saya."
"Maksud bang Anas?" Tanya Hani heran.
"Tanggung jawab saya sebagai sesama muslim Han." Jawab Anas pada akhirnya ia nggak mau Hani salah sangka.
__ADS_1
"Oooh, iya bang, sekali lagi terimakasih. Hani tadinya juga bingung mau nyari biaya Rumah Sakit Tante Aina nanti darimana. Tapi.. bentar, kata Papa bang Beni sama bang Anas saudara sepupuan, lalu tadi bang Beni sepertinya sudah sangat mengenal Tante Aina lalu nyebut Tante Aina dengan panggilan Kakak. Apakah itu berarti Tante Aina ada hubungan dengan bang Anas atau bang Beni?"
"Benar Hani, Aina adalah mantan istri abang." Ucap Anas dengan jujur, ia tak mau menutupinya dari Hani, bagaimana pun juga Hani berhak tahu siapa sebenarnya Aina.
Hani pun kaget mendengar penuturan Anas. Tiba-tiba hatinya menjadi panas, "Pantas saja bang Anas mau menanggung biaya Rumah Sakit Tante Aina, mana minta tempat terbaik pula." Gumam Hani dalam hatinya seperti anak kecil yang lagi cemburu pada saudaranya ketika saudaranya dapat perhatian lebih dari orang tua mereka.
"Berarti bang Anas masih mencintai mantan istrinya itu. Ya Allah.... kenapa aku jadi cemburu seperti ini? Nggak, nggak, aku nggak boleh cemburu, aku kan nggak mau sama bang Anas, udah tua gitu... Tapi... Aaaah pusing..." Monolog Hani dalam hatinya kembali, ia sibuk berspekulasi sendiri dengan pikirannya.
Sementara Hani sibuk dengan spekulasinya sendiri, Anas dan Beni udah duluan jalan mengikuti para perawat yang memindahkan Aina menuju Ruang Rawat VIP sesuai permintaan Anas.
Tak lama Hani pun tersadar bahwa ia sudah tertinggal. Hani pun segera menyusul.
Di dalam ruang rawat, setelah para perawat pergi.
"Mas.." Sapa Aina pada Anas mantan suaminya itu dengan nada lemah.
"Iya Ai." Jawab Anas kemudian sedikit memajukan dirinya lebih mendekati ranjang pasien yang ditempati Aina.
"Beni, terimakasih ya kamu sudah menolong kami, boleh tinggalkan kami berdua dulu.." Ucap Aina kemudian pada Beni, dan langsung dibalas anggukan oleh Beni.
Hani yang hampir masuk ke dalam ruangan, seketika menghentikan langkahnya ketika mendengar Aina menyuruh Beni meninggalkan mereka berdua. Hani pun langsung melangkah mundur.
"Tunggu Beni, saya tadi melihat Hani juga ada disini, boleh minta tolong kamu panggilkan Ben?" Ucap Aina meminta tolong pada Beni. Karena saat Aina dipindahkan ke ruang rawat ia mendengar suara Hani, lalu ia menangkap sosok Hani yang sedang berdiri di depan Anas sambil mengucapkan terimakasih pada Anas.
"Baik kak, sebentar." Sahut Beni, ia segera keluar mencari Hani.
"Han, tunggu, kamu mau kemana?" Teriak Beni saat melihat Hani yang berjalan sedikit berlari menjauh dari ruangan itu.
Bersambung...
"Wanita mampu menyembunyikan rasa cintanya bahkan sampai 40 tahun, tapi ia tak mampu menahan rasa cemburunya walau sesaat." (Tausiyah Cinta)
__ADS_1