Takdir Mempertemukan Kita

Takdir Mempertemukan Kita
39. Keyakinan Aina


__ADS_3

Hani yang sudah terbiasa bangun tengah malam karena memberi ASI pada bayi-bayinya mendengar bunyi suara seseorang dari luar kamar nya.


"Astaghfirullah... Dokter Dila apa nggak tidur-tidur ya." Ucap Hani dengan sendu karena ia tahu itu adalah suara Dokter Dila.


Hani pun jadi gelisah karena rencananya untuk keluar dari rumah itu bisa saja gagal. Hani mendekatkan kupingnya di daun pintu.


"Aina, saya harus ke Rumah Sakit dulu."


Baru saja Hani merasa tenang mendengar Dila yang akan pergi ke Rumah Sakit berarti memberikan peluang bagi Hani bisa keluar dari rumah itu, tapi kemudian Hani kembali gelisah.


"Kamu jaga mereka baik-baik, halangi Hani untuk berangkat kerja. Kamu harus atur sendiri bagaimana caranya. Jika kamu berani macam-macam, saya tak akan segan segan menghancurkan hidupmu... Okey sayang..." Ucap Dila sambil mengancam Aina. Dokter Dila mendapatkan panggilan dari Rumah Sakit bahwa ada pasien ibu hamil darurat yang harus segera ditangani. Dokter penggantinya tiba-tiba izin pulang karena istrinya sakit.


Dokter Dila seperti bukan Dila yang sesungguhnya. Ia sudah menjelma menjadi seperti seorang Psikopat. Begitulah ketika nafsu akan kesenangan dunia lebih mendominasi, bisa membuat seseorang jadi lupa diri. Seakan lupa bahwa dunia hanya tempat sementara.


"Astaghfirullah... Ya Allah bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini. Dokter Dila tampaknya nggak main-main dengan ancamannya." Ucap Hani gusar, ia seperti kehilangan kekuatan. Dokter Dila ternyata lebih menakutkan dari Alfian. Jika Hani keluar maka ia menjadi tak tega dengan wanita itu.


"Ya Allah bantu aku... dengan perginya Dokter Dila, ini kesempatan baik untuk kami keluar dari sini. Tapi bagaimana nasib wanita itu nanti.. Ya Rabb... Tiada daya dan kekuatan selain atas pertolongan Mu."


Hani berjalan mondar mandir, satu sisi ia nggak mau terlalu jauh masuk ke dalam dunia Dokter Dila, lebih cepat lebih baik. Tapi di sisi lain ia khawatir wanita itu yang akan jadi korban kegilaan Dokter Dila.


Akhirnya Hani memutuskan untuk tetap keluar dari rumah itu saat itu juga. Urusan wanita itu nanti, ia akan meminta bantuan Darma adiknya setelah ia berhasil keluar dari rumah itu. Hani melirik jam yang ada di dinding. Waktu sedang menunjukkan pukul 3 pagi. Hani dengan sigap memindahkan Trio Baby ke dalam kereta bayi hadiah Dokter Dila yang ternyata banyak membantunya itu dalam membawa Trio Baby.


"Dokter, sebenarnya Hani tak sudi lagi memakai barang pemberian Dokter ini, tapi Hani sangat membutuhkannya sekarang." Gumam Hani dalam hatinya. Hani terpaksa menaruh tas tas yang berisi pakaian mereka di salah satu bagian kereta kembar tiga itu. Hana dan Hafsah terpaksa ia taruh berdempetan dalam satu kereta.


Hani mengambil tas kecilnya, ia tampak mencari cari sesuatu.


"Astaghfirullah, Hp aku mana?" Ucap Hani kaget, ia memang belum memegang HP nya sama sekali semenjak sampai di rumah Dila.

__ADS_1


Hani mencoba mengingat-ingat tapi akhirnya ia menyerah karena ia memang benar-benar nggak tahu tuh HP tinggal atau tercecer dimana.


"Ya Allah... Bagaimana ini, bagaimana aku bisa menghubungi Darma nanti..."


Tapi kemudian Hani tetap tak menyurutkan langkahnya, ia yakin Allah akan menolong mereka nanti.


"Bismillah ya Allah, ridhoi langkahku, lindungi kami, jauhkan kami dari orang-orang yang dzalim, Aamiin."


Hani pun berjalan dengan mantap, ia keluar dari kamar itu sambil mendorong kereta Trio Baby. Baru saja Hani ingin memegang handel pintu utama rumah itu, geraknya terhenti karena mendengar seseorang memanggil namanya.


"Han.."


Hani pun kaget mendengar suara yang memanggil namanya itu. Ia langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Tante..?" Sebut Hani pada wanita yang memanggilnya. Seketika Hani ingat ia pernah bertemu dengan wanita itu saat periksa kandungan di Tempat Praktek Dokter Dila.


"Tante, saya minta maaf saya harus keluar dari sini, biarkan kami pergi."


"Tapi Han.."


"Tante, saya sudah tahu semuanya, sebenarnya saya juga nggak tega, jika kami keluar... tante yang akan jadi korban kemarahan Dokter Dila."


"Bukan itu maksud saya Hani, saya akan membantu kalian keluar dari sini. Tapi, saya juga akan ikut bersama kalian."


Hani termangu mendengar ucapan Aina.


"Saya juga tahu kamu pasti sudah mendengar pembicaraan kami semalam karena saya melihat kamu yang sedang menguping di balik pintu dari pantulan kaca itu, makanya saya sengaja berbicara dengan suara agak keras berharap kamu bisa mendengar dengan jelas." Ucap Aina kembali sambil menunjuk sebuah cermin besar di sana. Mata Hani langsung terfokus pada cermin yang ditunjuk Aina itu.

__ADS_1


Memang semalam saat Aina melihat pintu kamar Hani terbuka walau sedikit, Aina bisa tahu kalau Hani berdiri dibalik pintu itu, karena posisi duduk Aina memang menghadap ke arah cermin. Sedangkan Dila menghadap ke arah Aina.


"Benarkah Tante?" Tanya Hani seakan tak percaya atas apa yang disampaikan Aina bahwa ia akan membantu mereka.


"Iya Han, saya akan membantu kamu. Saya juga nggak mau lagi tinggal disini walau nanti saya nggak tahu harus tinggal dimana lagi." Ucap Aina dengan sendu.


"Tante, Hani juga nggak tahu harus kemana, awalnya Hani ingin meminta tolong sama Darma adik Hani yang bertugas di kota ini, tapi Hani kehilangan HP Tan. Hani juga belum pernah ke rumah kosnya Darma. Sedangkan Hani juga malu untuk kembali ke rumah Papa dan Mama di Desa, Ini salah Hani jadi Hani harus menanggungnya sendiri."


"Han, aku tak memiliki saudara disini tapi aku tahu kita harus kemana." Ucap Aina akhirnya dengan mantap. Tak ada salahnya ia mencoba lagi, kemarin ia masih bisa mengerti kenapa ditolak, tapi sekarang Aina yakin ia akan diterima di rumah itu. Aina seolah merencanakan sesuatu.


"Alhamdulillah... terimakasih Tan." Sahut Hani penuh syukur.


"Oh ya, sebentar, saya mengemas pakaian saya dulu." Ucap Aina yang hanya dibalas anggukan oleh Hani. Hani begitu senang, ia yakin ini adalah salah satu bentuk pertolongan dari Allah.


Entah kenapa Aina sangat ingin membantu Hani terlepas dari Dila, Hani memang anak dari sahabat mantan suaminya Anas, namun Aina tidak pernah bertemu sama sekali dengan anak-anaknya sahabat mantan suaminya itu.


Aina awalnya sangat senang ketika Dila mengatakan padanya lewat telpon bahwa ia akan membawa Hani dan anak-anaknya malam itu juga tinggal di rumah Dila yang sudah ditempati Aina selama beberapa bulan itu. Dila pun sudah banyak berbicara tentang Hani pada Aina.


Aina yang sempat merasa kesepian tinggal di rumah itu sendirian begitu semangat menyambut Hani dan anak-anaknya. Aina seolah lupa akan rasa kecewanya saat ditolak Anas ketika ia menyampaikan niatnya untuk meminta izin pada Anas agar ia bisa menumpang tinggal bersama ibunya Anas saat itu. Karena Aina merasakan tubuhnya semakin lama semakin melemah. Ia takut Allah tiba-tiba mengambil nyawanya sedangkan ia hanya tinggal seorang diri. Ia berharap bisa tinggal dengan Ibu Anas karena Aina ingin kembali mempelajari ilmu agama dengan ibu Mertua nya itu.


Aina memang belum memeriksa kesehatannya kembali setelah ia konsultasi tentang penyakitnya saat itu dengan Dokter Dila. Pertengkaran hebat dengan Ridho saat itu tak bisa ia hindari saat Aina menyampaikan penyakit yang ia derita pada Ridho mantan suaminya itu. Ridho malah menuduh Aina perempuan yang nggak benar sehingga bisa terjangkit penyakit itu. Tentunya Aina tidak terima dituduh seperti itu.


Akan tetapi setelah Aina tahu tujuan sebenarnya Dila, Aina jadi ingin membantu Hani, walau nanti nyawanya bisa jadi taruhan. Ia bertekad akan menebus dosa masa lalunya dengan memperbanyak berbuat kebaikan.


Aina sangat mengenal Dila, Dila bisa begitu baik dan royal pada orang lain tapi ia juga bisa bertindak diluar batas bila seseorang menghalangi tujuannya.


***

__ADS_1


"Taubat tak menunggu usia karena syarat mati tidaklah harus tua dan belajar juga tak mengenal usia." (Tausiyah Cinta?


__ADS_2