Takdir Mempertemukan Kita

Takdir Mempertemukan Kita
48. Kebahagiaan Ibu Anas


__ADS_3

"Han, bolehkah kami masuk?" Dila meminta izin pada Hani karena Hani hanya diam menatap mereka. Dila merasa tenang karena Hani dalam keadaan sehat dan kembali tinggal bersama orangtuanya.


Sedangkan Hani terpana melihat perubahan pakaian yang dipakai Dokter Dila. Dila telah menutupi kepalanya dengan hijab.


Hani yang awalnya takut namun Hani segera sadar bahwa mereka pasti tak akan berani macam-macam karena di rumah sedang dalam keadaan ramai.


"Si-silahkan!" Sahut Hani tergagap, kemudian menyuruh mereka duduk. Alfian mengalihkan pandangannya dari Hani, ia tak berani menatap wajah mantan istrinya itu.


"Han, aku mau bicara berdua denganmu tapi sepertinya kondisi rumah lagi ramai ya Han?" Ucap Dila memulai percakapan diantara mereka. Karena Hani dan Alfian hanya diam.


"Iya Dok, nanti malam ada acara lamaran Dok."


"Kalau boleh tahu, acara lamaran siapa ya Han?"


"Hani Dokter, insyaallah bang Anas akan melamar Hani." Ucap Hani sengaja bicara jelas dan jujur karena Hani berharap setelah ini mereka tidak mengganggu dirinya lagi.


Dila dan Alfian saling pandang, lalu Alfian memberi kode.


"Han, kalau gitu kami pamit pulang ya, sebenarnya kedatangan kami kesini hanya meminta maaf. Selamat ya Han, semoga kalian selalu bahagia. Kami harap kamu tak menjauhi kami. Dan tentunya Alfian juga berhak terhadap anaknya. Izinkan ia sesekali bertemu dengan mereka." Ucap Dila penuh harap pada Hani. Mereka berdua berdiri dari tempat duduk diikuti Hani yang juga ikut berdiri. Dila menggenggam erat jari-jari tangan Alfian, jari-jari mereka saling bertautan mereka pun keluar dengan tangan bergandengan dan itu terlihat jelas oleh Hani.


"I-iya, terimakasih Dok." Sahut Hani tergagap.


"Ya Allah, ada apa ini? Begitu banyak rahasia yang tersimpan di balik kejadian demi kejadian yang menimpa hamba-Mu ini. Tapi aku percaya pada-Mu ya Rabb, akan ada hikmah di setiap kejadian. Sungguh rencana-Mu adalah yang terbaik untuk kami."


***


Di saat lepas Maghrib di rumah Ibunya Anas.


Anas sedang terlihat mematut-matut diri di depan cermin.


"Han, kamu tenang ya, aku belum terlalu tua kok, lihat wajahku masih segar dan ganteng seperti ini." Monolog Anas sambil berkaca. Ia pun senyum-senyum sendiri.


Kemudian Anas mengeluarkan beberapa pakaian dari dalam lemari, ia mencoba pakaian itu satu persatu sambil terus mematut-matut diri di depan cermin. Anas tak tahu kalau ibunya sedang memperhatikan tingkahnya itu dari balik pintu.


"Ya ampun Anas... sampai kapan kamu gonta ganti baju seperti itu?"


"Eh ibu... gimana bu, ini cocok nggak?"


"Cocok..."

__ADS_1


"Tapi ini aku jadi terlihat tua bu, aku ganti lagi ya..."


"Ya Allah Nas... terserah kamu lah.."


"Yaaah ibu.."


Baru saja Ibu Anas ingin beranjak dari kamar Anas. Anas kembali meminta pendapat ibunya.


"Bu bentar coba lihat yang ini."


"Bagusan yang tadi.." Ucap Ibu Anas singkat kemudian berlalu dari situ.


"Ya udah deh, makasih ya bu.."


Anas sudah seperti anak muda saja yang akan pergi kencan dengan pasangannya.


"Oya Nas, ibu sampai lupa, ibunya Beni mencari kamu. Ibu suruh masuk sini aja nggak apa kan.. Sepertinya ibu Beni mau bicara penting, takut kedengaran sama saudara yang lain agaknya." Ucap Ibu Anas yang tiba-tiba sudah berada di balik pintu kembali.


"Baik bu.."


Tak lama Ibu Beni pun mengetuk pintu kamar Anas.


"Iya Nas.." Jawab Ibu Beni kemudian mengambil posisi duduk di pinggir ranjang Anas karena di dalam kamar Anas tidak ada sofa.


"Begini Nas, ibu mau minta pendapat padamu, menurut mu apa ibu salah bila melarang Beni menikahi Aina Nas?" Tanya Ibu Beni langsung pada Anas tanpa basa basi, Memang kebiasaan ibu Beni dari dulu, karena Anas adalah seorang Penghulu, jadi apapun menyangkut urusan pernikahan putra putrinya, ia selalu meminta pendapat Anas putra dari kakaknya itu.


"Bu, Anas tahu ini pasti berat bagi Ibu karena wanita yang akan dinikahi Beni ternyata adalah Aina. Tapi apa ibu sudah bertanya kepada Beni, apa alasan ia ingin menikahi Aina bu?"


"Sudah Nas, ia ternyata sudah menyukai Aina sebelum Aina nikah sama kamu dulu Nas."


"Lho, kok Anas nggak tahu ya bu..."


"Ya jelas kamu nggak tahu Nas, Beni mundur teratur saat tahu kamu mau menikahi Aina, jadi ia memang belum sempat menyampaikan isi hatinya itu pada Aina."


"Oooh gitu, pantasan ia ngotot bilang mau nikahi Aina kemarin bu.."


"Ya itulah Nas, ibu sendiri jadi bingung... jika dilarang, ibu khawatir Beni akan membujang selamanya. Jika disetujui ibu belum bisa menerima Aina Nas..."


"Bu, kali ini Anas minta maaf ya... Anas tidak mungkin ikut campur dalam hal ini. Mungkin alangkah baiknya ibu mengadukannya pada Allah Sang Pemilik Kehidupan ini bu, karena Anas sendiri juga gagal dalam pernikahan Anas. Tapi tetap itu semua adalah caranya Allah agar manusia senantiasa kembali pada-Nya. Karena Dia lah Pencipta skenario kehidupan yang tidak ada tandingannya di dunia ini."

__ADS_1


"Iya Nas, kalau gitu ibu keluar dulu ya... Kamu udah siap kan?"


"Insyaallah bu, doakan Anas ya bu, semoga pernikahan Anas nanti bersama Hani langgeng hingga ke Surganya."


"Aamiin, insyaallah Nas, doa terbaik untukmu."


"Terimakasih bu." Ucap Anas seraya mengambil tangan ibu Beni kemudian menciumnya. Anas menghormati ibu Beni sama dengan ia menghormati ibunya sendiri.


***


Acara lamaran Hani berjalan dengan lancar, karena pada dasarnya para orang tua mereka lah yang menjodoh-jodohkan mereka. Dan Hani sendiri pun sudah memberi kode pada Anas bahwa ia menerima niat baik Anas tersebut.


Hari pernikahan pun telah ditetapkan, Ibu Anas meminta pernikahan dilakukan secepatnya. Bu Mala dan Pak Martias tak mempermasalahkannya, menurut mereka lebih cepat lebih baik sehingga hari pernikahan ditentukan dua hari kemudian. Hani meminta pernikahan mereka diselenggarakan secara sederhana saja, cukup mengundang karib kerabat dan tetangga terdekat saja.


Dua hari terasa begitu cepat berlalu, Hani dan Anas resmi menikah. Semua orang tengah berbahagia dan mendoakan kebahagiaan Anas dan Hani serta Trio Baby. Orang-orang menilai, Trio Baby beruntung mendapatkan Ayah sambung seperti Anas. Mereka melihat Anas begitu perhatian dan menyayangi mereka, begitu juga dengan Ibunya Anas. Walau bukan cucu yang lahir dari darah daging Putranya sendiri namun Ibu Anas sangat menyayangi Hana, Hafshah dan Humaira layaknya cucu sendiri.


Setelah acara pernikahan sederhana itu selesai, pihak keluarga Anas pun sudah pada pamit pulang dari rumah Martias. Sedangkan Ibu Anas masih mau tinggal lebih lama lagi, rasanya ibu Anas berat untuk meninggalkan mereka. Walau jarak rumah mereka tidak terlalu jauh. Anas dan Hani bisa sering-sering mengunjunginya. Namun entah kenapa ibu Anas ingin berlama-lama dengan mereka saat itu.


Di kamar pengantin, Ibu Anas tampak memangku Humaira, sedangkan Hafshah dan Hana berada di dalam box mereka. Hani sedang duduk berhadapan dengan Ibunya Anas duduk di atas kasur pengantin tersebut.


"Han, ibu bahagia sekali, akhirnya ibu bisa melihat Anas kembali menemukan jodohnya dan jodohnya itu kamu Han.."


"Masyaallah ibu... Alhamdulillah Hani juga bahagia bu, Hani mendapatkan Ibu Mertua tapi sudah seperti Ibu kandung Hani sendiri. Terimakasih ya bu sudah menyayangi kami."


"Iya sayang.. Humaira juga sayang nenek kan ya." Ucap Ibu Anas sambil menciumi pipi gembul Humaira. Dari diantara ketiga bayi Hani, Humaira lah yang pipinya paling gembul. Pipi Humaira pun berubah kemerah-merahan sesuai namanya yang berarti kemerahan. Humaira pun tampak begitu ceria.


"Han, sebenarnya ibu pingin lebih lama lagi disini, tapi ibu tak mungkin meninggalkan rumah, rumah itu begitu banyak kenangan ibu bersama Ayah, jadi rasanya ibu tak kuasa meninggalkannya walau hanya semalam."


"Ibu tenang aja, insyaallah kami akan sering mengunjungi ibu, kami juga nanti bisa nginap di rumah ibu.."


Ibu Anas hanya membalas dengan anggukan serta senyuman.


"Kalau gitu ibu pamit pulang ya Han... Cucu-cucu nenek, nenek pulang dulu ya sayang..." Ibu Anas meletakkan Humaira kembali pada box nya namun tiba-tiba Humaira menangis, jilbab Ibu Anas pun ternyata sudah berada di genggamannya. Humaira seperti tak mau lepas dari Ibu Anas.


"Aira... nenek pulang dulu ya..." Ucap Ibu Anas kembali sambil melepaskan genggaman tangan Humaira di jilbabnya dengan lembut.


Anas yang mendengar suara tangis Aira dari luar, ia pun masuk ke dalam kamar.


"Ada Apa Han?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2