Takdir Mempertemukan Kita

Takdir Mempertemukan Kita
49. Firasat dari Humaira


__ADS_3

"Ada Apa Han?"


"Ini bang, Aira seperti tak mau lepas dari Nenek, lihat tuh bang tangannya, genggamannya kuat di jilbab Ibu..." Ucap Hani sambil tersenyum manis, Anas pun pangling melihat senyuman Hani yang sudah sah jadi istrinya tersebut. Rasanya Anas mau melahap Hani segera namun ia sadar hari masih sore dan ibunya ada disana. Anas segera mengalihkan perhatiannya dari senyuman istrinya yang menggoda imannya itu.


"Aira.. sini sama Abi ya.." Ucap Anas yang menyebut dirinya Abi pada anak-anak Hani sambil mengangkat Humaira dari boxnya. Namun tangan Humaira masih saja menggenggam erat jilbab Neneknya.


"Bu, kata Beni Ibu bareng Beni balik ke rumah ya bu?" Tanya Anas sambil membujuk Humaira agar mau melepaskan genggaman tangan di jilbab Neneknya itu. Walau sudah di gendong Anas, Humaira masih saja rewel.


"Iya Nas, Ibu bareng Beni, Ibu mau ke Rumah Sakit dulu tengokin Aina, kapan perlu malam ini Ibu nginap disana karena kasihan Beni tiap malam sendirian jagain Aina, Ibu juga khawatir Beni khilaf. Insyaallah esok Aina sudah boleh pulang."


"Alhamdulillah, tapi apa nggak apa-apa Ibu naik motor? Hani khawatir aja ibu kenapa-kenapa nanti..." Ucap Hani yang tiba-tiba khawatir. Selama ini Ibu Anas tak pernah ia lihat naik motor roda dua tersebut, karena Anas selalu membawa Ibunya dengan mobil.


"Insyaallah Han, nggak apa-apa? Oh ya Nas, Aina nanti untuk sementara tinggal sama ibu, nggak apa kan?"


"Iya bu, sebaiknya begitu bu, nanti ibu bisa ada teman juga kan di rumah." Sahut Anas merasa sedikit lega, bagaimana pun juga Anas khawatir bila di rumah ibunya hanya sendirian. Dan Aina juga bisa punya tempat tinggal. Karena Beni masih belum bisa menikahi Aina karena Ibu Beni masih belum bisa menerima Aina.


"Howeeek howeek howeeek." Suara tangis Humaira malah bertambah kencang saat tangannya berhasil dilepaskan Anas dari jilbab Nenek nya itu.


"Ssssst sssst Aira... sayang diam ya, esok kita main ke rumah nenek ya, sekalian kita tengokin Tante Aina..." Ucap Hani menenangkan Aira di gendongan suaminya itu. Semenjak hari itu Hani memang belum bertemu Aina lagi. Hani yang awalnya memanggil Aina Tante sekarang panggilan Tante itu ia ajarkan pada anaknya. Hani pun berubah memanggil Aina dengan sebutan kakak.


"Bu, salam buat kak Aina ya bu.."


"Insyaallah Han.. Ibu Pamit ya... Assalamu'alaikum." Ucap Ibu dengan mata berkaca-kaca, karena hatinya iba melihat Humaira menangis tak mau lepas darinya seperti itu.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati ya bu.." Ucap Hani dan Anas berbarengan. Mereka tiba-tiba saling pandang dan saling tersenyum karena kenapa bisa kompak seperti itu. Lama pandangan mereka beradu. Hampir saja bibir mereka bertemu, Namun Humaira kembali menangis, tangannya menepuk-nepuk wajah Anas.


"Ehem ehem, Aira maafin Abi ya... sssst ssst diam ya, Anas membawa Aira keluar dari kamar pengantin mereka. Hani hanya bisa tersenyum melihat suaminya yang salah tingkah.


"Sabar ya Anas... nanti malam okey...!" Gumam Anas sambil berlalu dari kamar itu.


Hani hendak mengambil segelas air hangat dari dispenser di dapur, namun tiba-tiba gelas yang belum sempat terisi meluncur begitu saja dari genggamannya.


Prank..


"Astaghfirullahal'adzim.. Ya Allah.. Ada apa ini, kenapa hati ini menjadi tak tenang. Astaghfirullah.."

__ADS_1


"Allahumma Inni audzubika minal hammi wal huzni wal ajzi wal kasali wal bukhli wal jubni wal dholaid daini wa gholabatir rijali."


"Ya Tuhanku, aku berlindung kepadaMu dari rasa sedih serta duka cita ataupun kecemasan, dari rasa lemah serta kelemahan, dari kebakhilan serta sifat pengecut, dan beban hutang serta tekanan orang-orang jahat."


Hani pun membaca doa tersebut, agar mendapatkan ketenangan di hatinya.


"Ma, Mama... Han, Mama mana ya?" Tanya Papa Hani yang seperti orang panik memanggil Bu Mala lalu bertanya pada Hani.


"Tadi Hani lihat Mama di depan Pa, karena ibunya bang Anas pamit pulang."


"Iya Han, tadi Papa juga dari depan, tapi Mama mu udah nggak ada."


"Mungkin di belakang Pa, emangnya kenapa ya Pa?"


"Han, Beni dan Ibu Anas mengalami kecelakaan tunggal, dan sekarang sudah dibawa ke Rumah Sakit."


"Innalillahi, Papa tahu darimana?"


"Beni nelpon Papa, Beni tak apa-apa hanya saja Ibu Anas tak sadarkan diri Han.."


"Ya Allah... Bang Anas apa udah tahu Pa?"


"Pa, ada apa?" Tanya Bu Mala yang barusan keluar dari arah belakang.


"Ibu Anas kecelakaan Ma, jadi kami mau ke rumah sakit, Mama ikut atau bagaimana?"


"Innalillahi, kalau gitu kalian pergi saja, biar Mama di rumah. Mama hanya bisa bantu doa dari sini Han."


Hani menganggukkan kepalanya lalu berlalu dari situ mencari suaminya. Hani melihat Anas duduk di tepi ranjang dalam keadaan tertunduk. Bahu Anas berguncang hebat, pertanda ia menangis. Saat Ayahnya meninggal Anas tampak begitu tegar namun disaat mendengar ibunya tak sadarkan diri seperti itu Anas langsung rapuh. Hana Hafshah dan Humaira pun tiba-tiba menangis.


"Bang..." Hani mengusap lembut bahu Anas.


"Kita ke Rumah Sakit sekarang ya.." Ucap Hani.


"Tapi anak-anak gimana Han?"

__ADS_1


"Anak-anak tinggal sama Mama bang, Mama titip doa buat Ibu."


Anas menganggukkan kepalanya, air matanya tak hentinya mengalir.


"Nas, biar Papa yang nyetir." Ucap Pak Martias saat mereka hendak masuk ke dalam mobil.


***


Di Rumah Sakit


"Ben, ibu dimana?" Ucap Anas seketika melihat Beni di depan ruang IGD, ia setengah berlari mendekati Beni. Anas melihat Beni dalam keadaan kacau.


"Nas, kamu yang sabar ya... Ibu nggak bisa di selamat kan." Ucap Beni dengan raut wajah penuh kesedihan. Dan perasaan bersalah juga menyelimuti hatinya. Jika ia bisa lebih berhati-hati, mungkin mereka tak akan celaka seperti itu. Beni lupa bahwa semua adalah takdir dari Allah yang barang sedikit pun tidak bisa ditunda atau dimajukan.


"Innalilahi wa inna ilaihi Raji'un.." Ucap Anas, Hani dan Pak Martias serentak.


Hani segera memeluk suaminya itu, berharap bisa memberikan ketenangan dan kesabaran. Walau Hani sendiri merasa begitu terguncang, hatinya terasa begitu pilu. Anas langsung membalas pelukan istrinya yang baru saja ia nikahi itu.


Anas membawa Hani masuk ke dalam ruangan, mereka melihat tubuh sang Ibu sudah terbujur kaku berselimutkan kain putih.


"Ibu... Hani belum sempat membalas budi Ibu... Kenapa Ibu udah pergi aja.. hik hik hik." Hani menangis memeluk tubuh kaku sang ibu mertua yang sudah seperti ibu kandungnya sendiri itu.


"Bu, maafin Anas, Anas juga belum sempat membahagiakan ibu... Bukankah ibu mau melihat Hani melahirkan cucu lagi untuk ibu..." Ucap Anas yang terduduk di lantai tangannya menggapai kaki sang ibu.


"Nas, Hani, kalian yang sabar ya.. lihat wajah Ibu kalian, rautnya seperti memancarkan kebahagiaan, bibirnya tersenyum. Masyaallah Ibu kalian pasti sudah bahagia... Jangan bebani almarhum dengan ratapan kalian." Ucap Papa Hani menenangkan mereka sambil membantu Anas untuk bangkit.


"Bu, berbahagialah ibu di sana bersama Ayah. Insyaallah tempat terbaik di Sisi Allah untuk mu Ayah dan Ibu..." Anas mencium kaki ibunya, lalu beranjak ke wajah ibunya. Ia menciumi seluruh titik wajah ibunya itu. Hati Anas begitu syahdu melihat wajah ibunya yang tampak begitu tenang.


Hani juga ikut menciumi wajah ibu mertuanya itu, bagi Hani Ibu Anas seperti Malaikat yang dikirim Allah disaat ia terpuruk. Ibu Anas begitu baik dan menyayangi mereka. Baru saja Hani merasakan kebahagiaan ia memiliki mertua seperti Ibu Anas namun Allah sudah duluan mengambil Ibu Anas kembali ke sisi-Nya.


Hari itu adalah hari bahagia buat Hani dan Anas namun ujian hidup tetap harus mereka lalui. Karena mereka yakin selagi mereka hidup di dunia maka ujian demi ujian akan selalu datang silih berganti. Karena dengan ujian tersebut lah manusia bisa menjadi lebih baik dari hari ke hari, dengan ada musibah maka bisa penyebab terhapusnya dosa serta diangkatnya derajat, jika mereka bisa melewatinya dengan hati lapang.


--------TAMAT-------


Salam terimakasih dari Author buat readers semua yang udah setia membaca kisah ini, mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau penyampaian cerita yang kurang mengena.

__ADS_1


Semoga dari kisah ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa manusia hanya bisa berencana namun tetap Allah yang Maha Kuasa atas segalanya. Awalnya author ingin membuat kisah ini lebih panjang namun karena feelnya nggak dapat lagi hingga akhirnya kisah ini cukup dibuat sampai sini saja...


Jazakumullah Khairan Katsiran. Terimakasih Semoga Allah membalas segala kebaikan pembaca yang sudah mendukung penuh karya ini dengan balasan Rahmat dan hidayah-Nya serta rezeki yang berkah serta melimpah.. Aamiin Allahumma Aamiin... Salam santun dari Author Gadih Hazar untuk semua...🙏🤗🥰*


__ADS_2