
Hari ini adalah hari terakhir Anas berada di Kantor KUA Kecamatan. Acara perpisahan kecil kecilan pun digelar oleh pegawai Kantor KUA tersebut. Banyak yang memberi selamat dan mendoakan Anas.
"Selamat ya Pak Anas, doakan saya juga bisa naik jabatan seperti Pak Anas." Ucap salah satu pegawai yang sedang menyalami Anas diujung acara. Anas pun bersiap-siap untuk pulang.
"Aamiin, terimakasih ucapan selamatnya Pak." Balas Anas pada pegawai itu. Lalu Anas melirik arloji nya, hari masih siang. Anas berencana singgah di Rumah Sakit terlebih dahulu sebelum pulang. Semenjak Hani melahirkan Anas belum pernah bertemu Hani kembali. Anas hanya menjemput dan mengantar ibunya sampai gerbang Rumah Sakit. Menurut kabar dari Ibunya semalam Hani sudah diperbolehkan pulang siang ini.
Tapi Anas tampak berpikir kembali, apa alasannya kalau ia tiba-tiba datang. "Pakai alasan apa ya nantinya...? Nggak lucu juga kan kalau aku tiba-tiba menawarkan diri untuk membantu membawa Hani dan anak-anaknya pulang. Emangnya aku siapanya Hani?" Monolog Anas dalam hatinya.
Pikiran Anas teralihkan karena ia mendengar ponselnya berdering.
"Aina?"
Anas tampak ragu mengangkat telpon dari mantan istrinya itu. Namun ia tak tega untuk menolaknya.
"Assalamu'alaikum." Ucap Anas menjawab panggilan telpon dari Aina mantan istrinya itu.
"Wa'alaikumussalam Mas, maaf... Aina mengganggu waktunya nggak?" Balas Aina dari seberang telpon dengan suara lembut.
"Ng-nggak.. Kamu apa kabar?" Ucap Anas sedikit canggung.
"Mas, selamat ya.. Aku denger kamu dipindahkan ke Kantor Wilayah Kementerian Agama di Ibukota ya mas... Aku ikut senang mendengarnya." Sahut Aina berbasa-basi.
"Mmmh iya, Alhamdulillah Ai.. Akhirnya aku bisa naik jabatan juga." Ucap Anas yang memang dari dulu sangat berharap bisa segera naik jabatan.
"Mas, jika kamu punya waktu aku mau bertemu denganmu mas.."
"Bertemu? Tanya Anas yang kaget mendengar ucapan Aina yang tiba-tiba ingin bertemu dengannya."
"Iya mas, aku butuh bantuan mu mas."
"Bantuan? Maksudmu bantuan seperti apa Ai?"
"Mas aku nggak bisa bicara lewat telpon, aku benar-benar ingin bertemu denganmu, kamu tahu kan mas aku tidak punya keluarga disini, aku juga sangat rindu pada ibu..." Ucap Aina dengan suara memelas.
Anas merasakan sesuatu yang berat telah menimpa mantan istrinya itu. Tak biasanya mantan istrinya itu tampak selemah itu. Yang ia tahu Aina adalah sosok pribadi yang mandiri dan memiliki ego yang tinggi, karena tak jarang dulunya Aina tak mau kalah dalam banyak hal dengan Anas. Aina juga selalu mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Maaf Ai, untuk sementara waktu aku belum bisa." Ujar Anas yang memang belum siap bertemu mantan istrinya itu.
__ADS_1
"Baik mas, aku tunggu kesiapan mu mas, aku minta maaf karena telah menyakiti hatimu dan ibumu dulu, sekarang aku sangat menyesal. Maafin aku.."
Tut tut tut...
Telpon dari Aina pun terputus.
"Halo, halo, Ai..."
"Ia kenapa ya?"
Satu sisi Anas tak mau lagi ada urusan dengan mantan istrinya itu, tapi disisi lain jiwa kemanusiaannya seolah memanggil dirinya untuk menerima ajakan mantan istrinya itu untuk bertemu. Karena Anas tahu Aina tidak memiliki keluarga lagi selain Paman dan Tantenya yang tinggal di pulau seberang. Ayah dan Ibu Aina sudah lama meninggal dunia.
***
Dokter Dila sedang memantau status dari seseorang yang akhir akhir ini membuat pikirannya jadi tak waras. Saat-saat santai tak ada pasien seperti itu, Dokter Dila selalu saja kepikiran akan seseorang yang membuat dunianya bisa menjadi seperti syurga.
"Hana, Hafshah, Humaira. Nama-nama yang sangat indah." Gumam Dokter Dila sambil tersenyum merindu.
Dila membayangkan jika ia hidup bersama Hani maka ia akan menjadi sosok yang sempurna. Dikelilingi bidadari-bidadari kecil yang bisa membuat hidupnya lebih berwana. Ia tak perlu lagi repot-repot melayani suami dan melahirkan seorang anak.
Bersama Hani ia berpikir akan merasakan kenikmatan syurga dunia itu, tanpa menggangu karirnya sedikit pun. Ia akan terus meningkatkan karir nya demi impian dirinya hidup bahagia bersama Hani dan anak-anak nya nanti.
"Kalian imut-imut sekali nak, Mama jadi nggak sabaran bisa bermain bersama kalian. Kalian panggil mama atau... Ah sementara mama saja dulu agar orang-orang tak curiga... Ampun Tuhan, aku benar-benar dibuat gila oleh makhluk-Mu bernama Hani." Monolog Dokter Dila kembali sambil tersenyum dan kadang tertawa sendiri. Jika ada seseorang melihat ia seperti itu. Mereka bisa menganggap Dokter Dila sudah tidak waras.
***
Anas ternyata memberanikan diri juga mampir di Rumah Sakit, sampai di depan pintu kamar Hani dirawat yang kebetulan terbuka. Anas melihat Hani sedang berdiri membelakanginya menghadap box bayi. Ruangan rawat Hani pun jadi terasa sempit karena banyaknya tumpukan bingkisan hadiah buat trio baby.
Deg, deg, deg
Jantung Anas berdetak lebih cepat. Ia memperhatikan sekeliling, ia tak melihat Ibunya disana.
"Ibu kemana ya?" Gumam Anas dalam hatinya.
"Ya Allah, ini aku kenapa jadi tak bisa bergerak seperti ini, jantung ini kenapa juga coba?"
__ADS_1
Dulu Anas memang pernah jatuh cinta pada seseorang yaitu pada Aina mantan istrinya, tapi ia tak pernah merasakan perasaan seperti sekarang yang membuat ia seperti seorang pria pengecut.
Pada Aina dulu ia dengan mudah dan berani mengutarakan isi hatinya bahwa ia ingin menikahi Aina. Tapi pada Hani, ia seperti tak memiliki nyali untuk itu. Sekuat mungkin ia selalu berusaha menolak perasaan itu.
Hani tiba-tiba membalikkan badannya.
"Bang Anas, kapan sampainya?" Sapa Hani kaget, beruntung Hani sudah membetulkan pakaian bagian atasnya yang terbuka akibat menyusui sebelum membalikkan badannya. Hani tampak membetulkan hijabnya yang ia rasa berantakan itu.
Hani pun sudah terbiasa memanggil Anas dengan sebutan abang, yang dulunya ketika pertama kali ia bertemu dengan Anas saat Anas menjemput ibunya di rumah Pak Martias. Hani memanggil Anas dengan sebutan Bapak, karena yang ia tahu Anas adalah sahabat Papanya, sekaligus Penghulunya saat ia menikah dulu.
Namun ibu Anas lah yang menyuruh Hani memanggil Anas dengan sebutan abang. Walau Hani merasa canggung yang pada awalnya ia panggil bapak, kemudian Om, namun akhirnya terbiasa memangil dengan panggilan abang.
"Mm-maaf Han, aku sudah membuat mu kaget. A-aku baru saja sampai, ya baru saja Han.." Sahut Anas dengan kikuk, tapi tetap memaksakan diri untuk tersenyum.
"Ooooh, silahkan masuk bang."
"Boleh ya?"
"Ya boleh lah bang, masa nggak.."
"Ibu mana Han?" Tanya Anas yang berusaha menetralkan rasa canggung nya.
"Ada kok, di dalam kamar mandi."
"Siapa yang datang Han." Sahut ibu dari dalam kamar mandi.
"Bang ---" Belum selesai Hani menjawab namun sudah ditimpali dengan jawaban Anas.
"Anas bu.." Jawab Anas menimpali jawaban Hani.
Mereka berdua pun seketika terpaku, karena pandangan mereka yang bertemu. Namun Hani segera tersadar dan membalikkan badannya kembali menghadap bayi-bayinya.
"Oooh Anas... Udah balik dari kantor saja dirimu nak?" Tanya ibu yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Nas, hei.." Ibu menepuk bahu Anas.
"Eh iya bu, ibu bicara dengan Anas kah?" Anas pun jadi salah tingkah.
__ADS_1
***
"Bersabarlah, Allah mampu mengubah situasi paling terpuruk menjadi momen terbaik untukmu." (Tausiyah Cinta)