
Anas memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Martias,
"Makasih ya Nas, nanti sore jangan lupa Ibu dijemput lagi ya..." Ucap Ibu yang memang ingin sekali Anas yang antar jemput. Ada udang di balik batu lah ceritanya.
"Iya bu, insyaallah."
Baru saja Ibu Anas turun dari mobil, ibu Anas mendengar suara ribut dari dalam rumah Martias.
"Ya Allah itu kenapa kok ribut sekali, jangan-jangan Hani udah mau melahirkan Nas." Ucap Ibu Anas tampak khawatir.
Benar saja, bu Mala keluar rumah sambil menenteng sebuah tas besar, sedangkan Pak Martias membimbing Hani yang tampak meringis menahan rasa sakit.
"Nas, kamu turun dulu gih, siapa tahu mereka membutuhkanmu."
"Iya bu." Sahut Anas lalu keluar mobil begitu juga dengan ibunya kemudian berjalan cepat mendekati mereka.
"Nas, kebetulan sekali kamu datang, bantu bawa kami ke Rumah Sakit ya Nas." Ucap Martias yang tampak sangat panik. Martias seperti tak memiliki kekuatan menyetir mobil sendiri.
"Baik bang, kalau gitu naik mobil saya saja bang." Anas melihat wajah Hani sekilas, ia pun tampak mengkhawatirkan kondisi putri sahabatnya itu. Ingin Anas membantu menggendong Hani naik ke mobilnya namun ia sadar Hani bukanlah siapa-siapanya yang pastinya tidak halal baginya bila ia sentuh.
Mereka pun membawa Hani ke Rumah Sakit yang ada di Desa tempat tinggal mereka tersebut. Dengan riwayat hamil pertama kembar itu, Hani memang tidak dianjurkan melahirkan bersama Bidan. Karena memiliki risiko tinggi bila dipaksakan melahirkan secara normal apalagi anak yang akan dilahirkannya ada tiga. Bidan setempat tak mau mengambil resiko tersebut.
Namun Hani bersikeras ingin melahirkan secara normal. Dari saran Dokter kandungan saat terakhir ia kontrol di RSUD Desa mereka itu, Hani diperbolehkan melahirkan secara normal apabila kondisi kesehatan ibu hamil mendukung serta posisi salah satu bayinya kepalanya sudah berada di bawah. Tapi apabila tidak memungkinkan maka tindakan operasi cesar harus segera dilakukan. Selain itu, melahirkan bayi kembar berisiko menyebabkan komplikasi bagi ibu hamil. Makanya Hani harus melahirkan di Rumah Sakit, karena terdapat peralatan dan nakes yang memadai dan siap menangani keadaan darurat.
Kandungan Hani memang baru saja masuk minggu ke 37. Namun Hani sudah merasakan rasa sakit seperti mau melahirkan. Prediksi itu memang disebut Dokter jauh hari, anak kembar memang berisiko tinggi lahir lebih cepat dan berat lahir rendah yang tentunya nanti membutuhkan perawatan intensif pascapersalinan.
Di ruang tunggu di depan ruang bersalin. Bu Mala dan Pak Martias tampak gelisah. Hani berjuang sendirian melahirkan tanpa ada suami disampingnya. Menurut seorang perawat yang kebetulan keluar dari ruang bersalin itu. Ia melaporkan bahwa Hani sudah mengalami pembukaan yang lengkap dengan posisi bayi yang memungkinkan Hani untuk lanjut melahirkan secara normal.
"Bu Mala, saya yakin Hani bisa melaluinya, saya tahu Hani itu anak yang kuat bu." Ucap Ibu Anas memberi ketenangan pada Mama Hani sambil mengusap usap bahunya. Mama Hani hanya mampu mengangguk-anggukan kepalanya dengan mulut yang tak henti hentinya berdoa.
Pak Martias sedang menelpon seseorang sambil berdiri mondar mandir karena gelisah.
__ADS_1
"Darma, kakakmu sudah mau melahirkan, kamu bisa nggak pulang sekarang?"
"Baik Pa, Darma coba minta izin dulu sama komandan Pa semoga diberi izin nantinya." Sahut Darma di balik Telpon. Darma memang pernah memberitahu Papanya sebelumnya, bila kakaknya melahirkan ia harus segera diberitahu. Darma memang lebih memilih tinggal ngekos di Ibukota. Agar ia bisa maksimal dalam melaksanakan tugasnya sebagai polisi forensik di Ibukota itu.
"Kalau gitu kamu jemput mobil di rumah dulu baru kesini." Titah Pak Martias pada putranya itu sambil menutup telpon.
Sedangkan Anas hanya bisa mengantarkan mereka sampai rumah sakit. Setelah itu Anas pamit untuk berangkat kerja pada mereka. Sebenarnya Anas ingin sekali berada disana sambil menunggu kelahiran anak-anak Hani. Namun Anas tampak canggung dan tak tahu berbuat apa bila berada disana. Sepanjang perjalanan menuju kantornya, Anas tak henti-hentinya mengirimkan doa pada Hani, agar diberi kemudahan serta keselamatan bagi Hani dan anak-anaknya.
Satu jam kemudian...
"Oweeek, oweek, oweek." Mereka
mendengar suara tangisan bayi dari ruang bersalin.
"Alhamdulillah ya Allah..." Ucap mereka serentak.
Namun suasana kembali mencekam, menunggu detik detik kelahiran bayi kedua Hani.
"Bu Hani, masih kuat kan?" Ucap sang Dokter memastikan kondisi Hani. Ia harus siap siaga memantau kondisi Hani.
"Insyaallah Dok, saya masih kuat." Ucap Hani tegas, ia seperti mendapatkan kekuatan berlipat-lipat seiring keinginan nya yang kuat untuk melahirkan secara normal itu. Melihat Hani yang begitu semangat dan kuat, sang Dokter pun juga ikutan semangat.
"La Haula Wala Quwwata Illa Billah. Tiada Daya dan Upaya kecuali dengan kekuatan Allah." Hani pun melafazkan dzikir itu berulang kali.
"Ayo Bu Hani, tarik napas kemudian dorong bu."
"Allah... Allah... bantu Hani ya Rabb... Aaaaaak."
"Masyaallah, kepalanya sudah tampak, sedikit lagi bu Hani, kembali atur nafasnya, kemudian kembali dorong yang kuat ya bu." Ujar sang dokter memberi arahan dengan semangat.
"Huufffffh, huuffft, huufffft, mmmmmhhhhh, aaaaaaaak." Hani mencoba mendorong sekuat tenaganya...
__ADS_1
"Oweeeek, oweeeek, oweeeek." Bayi kedua Hani pun lahir dengan usaha yang jauh lebih ringan dari bayi yang pertama.
"Alhamdulillah, selamat bu Hani, bayi keduanya juga perempuan, cantik, masyaallah."
"Hani tersenyum bahagia, sekaligus haru. Kalian kelak jadi wanita kuat nak, karena kalian tak pernah menyusahkan bunda selama hamil bahkan untuk lahir pun kalian seolah mau bekerjasama dengan ibu." Ucap Hani penuh haru, Hani memang belum tahu jenis kelamin anak-anak mereka sebelumnya, setiap di USG keadaan mereka saling menutupi satu sama lain seolah olah mereka malu menunjukkan diri mereka.
"Ibu Hani yang rileks dulu ya, insyaallah yang ketiga ini akan jauh lebih mudah nantinya bu."
"Iya dok... dok, ini saya tiba-tiba merasakan sakit lagi dok."
"Huuuuft mmmmmmhh" Hani mangatur napasnya kembali.
"Baik Bu Hani seperti tadi ya, tarik napasnya yang dalam kemudian dorong, ok!" Ucap Dokter kembali memberi arahan pada Hani.
"Huuuuuffffft, mmmmmmhhhhh, aaaaaaaak"
"Oweeek, oweeek, oweeeek."
"Alhamdulillah... putri ketiga anda juga cantik bu Hani... Anda sungguh wanita yang luar biasa bu." Puji sang Dokter sambil mengangkat bayi itu memperlihatkannya pada Hani. Bayi ketiga itu langsung ditangani oleh sang perawat. Setelah dibersihkan, bayi itu segera dimasukkan ke dalam inkubator seperti bayi pertama dan kedua. Karena kondisi lahir mereka yang prematur serta berat yang tak sampai 2 kg.
"Masyaallah walhamdulillah ya Allah.." Ucap Hani bahagia namun ia tiba-tiba merasakan tubuhnya seperti melayang ke udara. Hani tertidur dengan sebuah senyuman yang terukir indah di wajahnya.
"Bu Hani dok, darahnya seperti nya tak berhenti mengalir." Ucap salah satu perawat.
"Segera suntikan obat penghenti darah melalui kantong infus nya sus." Titah Dokter.
"Baik dok." Para Suster pun bergerak cepat menjalankan tugas masing-masing termasuk memantau detak jantung Hani.
***
"Ibu, untuk semua doa, cinta dan pengorbanan mu, semoga Allah karuniakan surga terbaik untukmu." (Tausiyah Cinta)
__ADS_1