Takdir Mempertemukan Kita

Takdir Mempertemukan Kita
41. Suara Deheman


__ADS_3

"Tante, tante kenapa?" Ucap Hani yang shock melihat tubuh Aina yang tiba-tiba oleng, beruntung Hani cepat memeganginya. Hani pun berteriak memanggil Beni. Bayi bayi Hani yang terbangun karena mendengar keributan mereka pun serentak menangis.


"Bang Beni, tolong Hani bang.."


Beni yang mendengar teriakan Hani langsung segera menghampiri Hani.


"Bang, Tante Aina pingsan bang." Ucap Hani sambil memangku tubuh Aina yang terasa begitu dingin.


"Kak Aina?" Ucap Beni yang tadinya tak sadar bahwa wanita yang sedang bersama Hani adalah mantan istri Anas saudara sepupunya itu.


"Kakak? Bang Beni mengenalnya kah?Tapi bagaimana abang bisa kenal dengan Tante Aina?"


"Simpan dulu pertanyaan mu Hani, sebaiknya kita bawa kak Aina secepatnya ke Rumah Sakit."


"Jangan bang, jangan bawa ke Rumah Sakit."


"Lho, kenapa?"


"Bang, pokoknya jangan... kita balik ke Desa saja ya.. Abang bawa mobil kan?" Ucap Hani yakin Beni membawa mobil karena ia melihat mobil Papanya yang sedang terparkir tak jauh dari situ.


"Baik Han, kamu tunggu disini, abang jemput mobilnya dulu." Ujar Beni sambil berlari menuju mobil."


"Sayang-sayangnya Bunda... diam ya... Kita akan pulang ke rumah Opa Oma nak..." Ucap Hani, satu tangannya mencoba meraih kereta bayi berharap bayinya diam karena tahu Bundanya ada untuk mereka.


Hani memutuskan untuk kembali ke rumah Mama Papanya, karena Hani tak tahu harus kemana lagi. Aina yang akan mengajak nya pergi malah tak sadarkan diri. Kejadian demi kejadian yang telah menimpanya membuat Hani takut. Ia harus pulang ke Rumah Orang Tuanya karena itulah tempat yang teraman bagi mereka.


Disaat Mobil yang dibawa Beni berhenti tepat di depan mereka, Beni turun lalu membantu mengangkat Aina masuk ke dalam mobil.


"Bang, Tante Aina taruh di kursi depan saja, biar Hani dan anak-anak di bangku tengah. Jangan lupa tolong pasangkan seat belt nya sekalian bang."


"Baik." Ucap Beni singkat, Beni tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar kencang ketika menggendong Aina apalagi disaat ia yang harus memasangkan seat belt nya juga. Semenjak taubat, baru kali ini posisi Beni berada begitu dekat dengan seorang wanita lagi.


Seketika hatinya iba, karena merasakan tubuh Aina begitu ringkih, Beni memperkirakan berat Aina tak lebih dari 45 kg. Sangat berbeda Beni lihat saat Aina masih bersama Anas, Aina jauh lebih tampak berisi. Beni pun khawatir takut terjadi apa-apa pada Aina.


Setelah Hani selesai menaikkan ketiga putrinya ke dalam mobil, ia pun memerintahkan Beni untuk menjalankan mobilnya.


"Tapi itu kereta bayinya bagaimana Han?" Ucap Beni melihat Hani menutup pintu mobil sedangkan kereta Trio Baby masih diluar.


"Biarkan saja bang, Hani sudah tak membutuhkannya lagi."


"Han, kamu marah ya? Karena saya selama ini terlihat acuh padamu, saya yang selalu tega membiarkan kamu repot sendirian."


"Haaa, maksudnya?" Sahut Hani yang bingung menghadapi pertanyaan Beni."


"Lupakan Han." Ucap Beni sambil menghidupkan mesin mobil lalu melajukan mobilnya. "Ternyata firasat Papa mu itu betul ya Han." Ucapnya kembali saat mobil sudah berjalan.


"Berarti Papa yang suruh bang Beni, Hani juga heran kenapa bang Beni tiba-tiba ada disekitar sini." Sahut Aina yang dibalas anggukan oleh Beni.

__ADS_1


"Tapi ngomong-ngomong kamu kenapa bisa bersama kak Aina di jalanan malam malam begini?" Tanya Beni kemudian, ia penasaran atas apa yang terjadi pada putri Pak Tetuanya itu. Lalu melirik sekilas ke arah Aina. Aina masih saja belum menunjukkan tanda dirinya bangun dari pingsannya.


"Ceritanya panjang bang.. Hani lelah bang.."


"Baik Han, kamu istirahat lah dulu, nanti saya bangunkan apabila dah sampai."


"Tapi jalan mobilnya bisa agak kencang kan sekarang bang? Kasihan Tante Aina, kita nggak tahu Tante Aina kenapa bisa pingsan begitu."


"Siap Han."


Beni benar-benar membawa mobil itu dengan kecepatan melebihi biasanya sewaktu ia mengantar jemput Hani. Beni juga tampak begitu mengkhawatirkan Aina.


Sesampai di rumah Martias, Beni langsung membunyikan klakson. Hani pun terbangun karenanya.


"Bang, bagaimana kondisi Tante Aina?" Tanya Aina pada Beni yang disaat bangunnya langsung ingat dengan kondisi Aina.


"Masih belum sadar Han..."


"Kalau gitu kita bawa ke RSUD saja bang, Hani titip anak-anak dulu sama Papa dan Mama."


"Sebaiknya begitu Han."


Pak Martias muncul di balik pintu.


"Hani, kalian baik saja-saja nak?" Ucap Pak Martias kaget melihat Hani turun dari mobil menggendong satu bayinya.


"Rumah Sakit, maksudnya siapa yang sakit Hani?" Sahut Pak Martias yang segera menolehkan kepalanya ke dalam mobil sambil menggendong Hana.


"Tante Aina Pa, tante Aina pingsan saat kami melarikan diri dari rumah Dokter Dila."


"Pak Tetua, izin saya membawa Kak Aina dulu ke RSUD pak." Sahut Beni kemudian.


Masih banyak pertanyaan yang akan dilontarkan Pak Martias pada Hani atau Beni namun saat melihat kondisi wanita yang dipanggil kak Aina oleh Beni itu, Papa Hani akhirnya mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ia pun ikut menyarankan segera membawa Aina ke Rumah Sakit.


Pak Martias tak melihat jelas wajah Aina namun ia rasa kenal dengan nama itu. Pak Martias pun seketika ingat setelah Beni memanggilnya kakak. "Mungkinkah Aina mantan istrinya Anas? Beni kan saudara sepupunya Anas." Gumam Martias dalam hatinya.


"Kalau gitu kalian segera bawa ke Rumah Sakit, biar Papa dan Mama nanti yang akan jagain anak-anakmu Han." Ucap Martias kemudian dan tentunya dibalas anggukan dengan cepat oleh Beni dan Hani.


"Papa, Hani, ada apa ini?" Tanya bu Mala yang baru keluar dari rumah. Bu Mala tak tahu menahu rencana suaminya yang menyuruh Beni menyusul Hani ke Ibukota, ia jadi kaget melihat putrinya itu kembali.


"Ma, kita bawa Hana, Hafshah dan Humaira ke dalam dulu ya, biarkan mereka membawa Aina ke Rumah Sakit dulu." Ucap Martias sambil menggendong Hana.


"Aina? Mantan istrinya Anas ya Pa? Tapi ia kenapa Pa, kenapa bisa sama Hani?"


"Ma, tenang dulu ya, kita tunggu Hani kembali dari Rumah Sakit nanti kita bisa dengar cerita dari Hani."


"Iya Pa." Ucap Bu Mala sambil menyambut Humaira dari tangan Hani. Kemudian Hani kembali menurunkan Hafshah dari mobil dan langsung membawanya ke dalam rumah.

__ADS_1


"Pa, Ma Hani pamit dulu ya.. Susu anak-anak di dalam tas ma, nanti minta tolong ya ma mereka dibuatin susu dulu soalnya dari semalam mereka belum puas menyusu karena ASI Hani sedikit." Ucap Hani setelah menaruh Hafsah di dalam box bayi nya yang ada di dalam kamar Hani. Diikuti Bu Mala dan Pak Martias yang juga meletakkan Humaira dan Hana.


"Pak, ini tas tas Hani saya taruh disini ya." Sahut Beni dari luar kamar Hani.


"Iya Ben, taruh disitu dulu, makasih Beni. Kalian cepat berangkat kasihan Aina.."


Akhirnya Aina yang masih belum sadarkan diri itu dibawa Beni dan Hani ke RSUD tempat Hani melahirkan dulu.


Setelah sampai, Aina segera ditangani oleh perawat dan Dokter yang sedang dinas di ruang UGD.


"Bu Hani, boleh saya bicara sebentar bu?" Ucap Dokter yang baru keluar dari ruang penanganan darurat itu. Dokter itu pun mengenali Hani semenjak berita heboh Hani yang melahirkan kembar tiga secara normal di di RSUD tersebut.


"Iya Dokter."


"Apakah Bapak ini suami pasien?" Tanya Dokter sambil melihat ke arah Beni, karena Dokter itu melihat rasa kekhawatiran yang terpancar dari wajah Beni.


"Bukan Dok, saya cuma membantu mengantarkan saja."


"Ooh kalau gitu, mari kita bicara di ruangan saya Bu Hani."


"Baik Dok." Sahut Hani sambil mengikuti langkah Dokter itu masuk ke ruangan nya.


"Bagaimana kondisinya Dok?" Tanya Hani setelah dipersilahkan duduk oleh Dokter.


"Kondisi pasien sangat lemah bu Hani, sampai sekarang masih belum sadarkan diri, kami akan memantau terus perkembangan jantungnya. Jadi mungkin butuh perawatan dulu untuk beberapa hari sambil kita menunggu hasil tes darahnya. Sehingga kita bisa tahu apa penyebab pasien tak sadarkan diri begitu lama seperti itu."


"Baik Dok, kalau gitu tolong lakukan yang terbaik buatnya ya dok."


"Insyaallah Bu Hani."


"Jika nggak ada lagi yang perlu Dokter sampaikan, saya izin keluar dulu."


"Tidak ada Bu Hani, silahkan." Sahut Dokter sambil tersenyum menyilakan Hani keluar dari ruangannya.


"Bagaimana Han, apa kata Dokter?" Cerca beni langsung pada Hani setelah melihat Hani keluar dari rungan Dokter.


"Tante Aina butuh dirawat dulu disini bang, kita masih belum tahu apa yang menyebabkan Tante Aina seperti itu, nanti kita tunggu keluar hasil pemeriksaan darahnya dulu." Sahut Hani lemah.


"Han, kamu pasti butuh istirahat, kamu ingin saya hantarkan pulang atau gimana?"


"Nggak usah bang, Hani biar tungguin Tante Aina disini, Hani tak akan tenang bila di rumah, Tante Aina begitu baik pada Hani bang... Tante Aina begini mungkin karena menolong Hani juga."


"Kalau gitu kamu istirahat dulu Han, biar saya yang berjaga."


Hani menyandarkan dirinya di kursi tunggu depan ruang ICU itu. Aina memang belum dipindahkan ke ruang rawat karena masih dalam pantauan Dokter. Akhirnya tak lama Hani terlelap dengan posisi duduk menyandar tersebut.


Hani terbangun ketika mendengar suara deheman dari seorang laki-laki yang duduk disampingnya. Hani segera mengangkat kepalanya yang tadinya merasa nyaman berada di bahu laki-laki itu. Hani pun jadi gelagapan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2