Takdir Mempertemukan Kita

Takdir Mempertemukan Kita
31. Kematian yang Indah


__ADS_3

Hani masih belum bisa memejamkan matanya sama sekali, sedangkan hari sudah menunjukkan pukul 12 malam. Hani masih kepikiran akan isi dari suratnya ibu Anas.


Flashback On


Hani masuk ke dalam kamarnya setelah ia berbicara dengan Papanya di ruang tengah. Ia mendapati Trio Baby sudah terlelap.


"Mereka udah tidur ya Ma." Tanya Hani ketika memasuki kamar.


"Iya nih Han, habis minum susu langsung tidur nih mereka."


"Alhamdulillah, makasih ya Ma..."


"Iya Han, lebih baik kamu segera istirahat juga ya."


"Iya Ma, terimakasih."


"Mama keluar dulu Han, Mama juga udah ngantuk, jika butuh bantuan jangan segan-segan untuk bangunin Mama, ok!"


"Hehehe iya Ma.."


"Cucu-cucu Oma pada baik laku atau Bunda nya yang cekatan ya?"


"Iiih Mama bisa aja, Alhamdulillah Hani masih bisa tangani sendiri ma, jadi Omanya tetap bisa istirahat dengan tenang kan..."


"Baiklah kalau gitu, semoga Allah selalu beri kesehatan dak kekuatan untuk mu nak, Mama bangga padamu."


"Aamiin, terimakasih banyak Ma. Hani sudah banyak merepotkan Mama dan Papa."


"Dah, dah, jangan terlalu dipikirkan... langsung istirahat ok!"


"Siap Ma."


"Kamu itu udah seperti Darma, siap.. siap. Tapi ngomong-ngomong itu adik mu udah dua minggu nggak pulang ya Han?"


"Iya ya Ma, mungkin Darma sedang sibuk."


"Bisa jadi sih, tapi sesibuk-sibuknya masa' untuk nelpon aja juga nggak sempat."


"Mmmh, seperti Oma juga kan karena sibuk dengan Hana, Hafshah dan Humaira juga sampai lupa bahwa anak sendiri belum ngabarin selama dua minggu, hehehe."


"Iya juga ya... hehehe. Dah Han mama tidur dulu."

__ADS_1


"Bye Oma..." Sahut Hani menirukan suara anak kecil, lalu mencium pipi mamanya itu.


Setelah Bu Mala keluar dari kamar Hani, Hani hendak merebahkan dirinya di atas kasur. Namun ia tiba-tiba teringat dengan pesan ibu Anas tadi sore saat ibu Anas itu pamit untuk pulang.


"Han, ibu ada titip sesuatu, ibu taruh di laci meja riasnya tadi ya Han, jangan lupa nanti dilihat." Begitu pesan dari ibu Anas saat itu.


Hani segera bangkit, ia pun membuka laci meja rias nya itu. Hani menemukan sebuah amplop putih panjang di sana. Hani segera membuka isinya. Ternyata isinya secarik kertas berisikan tulisan tangan dari Ibu Anas.


Hani sayang...


Ibu sangat berterimakasih dan sangat bersyukur karena sudah diberi kesempatan merawat Hani, Hana, Hafshah dan Humaira.


Beberapa hari terakhir disaat ibu tahu Hani akan masuk kerja, ibu jadi gelisah. Ibu jadi nggak bisa tidur memikirkannya.


Hani...


Ibu seperti tak rela berpisah dengan Hana, Hafshah dan Humaira... Ibu sangat menyayangi mereka. Dan tentunya ibu juga sangat menyayangi mu Han.


Tapi apalah daya ibu, ibu bukan siapa-siapa Hani. Walau ibu sempat berharap Hani bisa jadi mantu ibu. Tapi itu tetap Allah yang punya Kuasa. Ibu ingin juga merasakan bagaimana rasanya punya cucu sendiri dari Anas bila beristrikan kamu Hani, hik hik hik.


Han, maafkan ibu yang telah berani berharap ya... Ibu akan tetap menyayangi Hani dan anak-anak Hani sampai kapanpun. Walau sekarang ibu tak bisa lagi bertemu Hani, Hana, Hafshah dan Humaira tiap hari lagi. Insyaallah ibu akan sempatkan datang tiap minggunya menjenguk kalian.


Maafkan ibu Han...


"Bu, maafkan Hani yang tak tahu akan balas budi ini." Gumam Hani sambil menghela napasnya yang tiba-tiba terasa sesak.


Flashback Off.


"Allah... beri hamba petunjuk-Mu." Do'a Hani dalam hatinya. Ia mencoba memejamkan matanya kembali. Baru saja Hani merasakan lelap, Hani harus terbangun lagi karena merasakan gerakan dari tangan mungil salah satu bayinya yang terjaga mengenai lengannya.


"Mmmmh, huwaaaa, Ya Allah, Hana sayang kenapa bangun..?" Ucap Hani sambil menguap dan mengucek-ngucek matanya mengajak sang bayi bicara.


Hana membalikkan badannya, lalu ia menempelkan kepalanya di dada sang Bunda sambil mencari-cari sumber kehidupannya itu.


"Oooh Hana haus ya... bentar ya.." Hani pun membuka kancing bajunya, lalu menyusu kan Hana dengan posisi berbaring miring.


Hani pun tak tahu bahwa sebenarnya yang sedang menyusu dengannya itu adalah Hafshah. Sedang terjaga saja Hani masih saja suka salah memanggil nama mereka. Apalagi dalam keadaan mengantuk seperti itu. Padahal Hani sudah mewanti-wanti bahwa Hana memiliki tanda lahir di lengan kirinya, Hafshah di paha kirinya. Sedangkan Humaira terlihat beda sendiri, karena ada perpaduan wajah Alfian diwajahnya.


Mereka pun sama-sama terlelap kembali. Hani tak tahu kapan bayinya itu melepaskan hisapan ASI nya, hingga Hani terbangun lagi ketika terdengar suara rengekan dari sang bayi. Kali ini Humaira yang bangun. Humaira memang sedikit manja dari yang lainnya. Humaira lebih suka merengek ketika ingin sesuatu, walau rengekannya tak terlalu berlebihan.


Tak lama setelah itu Bayi satunya lagi pun ikut bangun, mereka pun bergantian menghisap sumber kehidupan mereka itu. Tak terbayangkan betapa lelahnya Hani dalam meng-ASI-i tiga bayinya itu. Namun semuanya Hani lalui dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

__ADS_1


Walaupun begitu, Hani lebih bahagia bersama anak-anak nya seperti itu daripada dulu bersama Alfian yang menyisakan trauma untuk menerima hadirnya laki-laki di kehidupannya lagi.


***


Di rumah Ibunya Anas,


Tok tok tok


"Nas, cepat bangun nak..."


Ibu Anas mengetuk pintu kamar Anas cukup keras karena panik.


"Iya bu... bentar..." Anas yang mendengar suara ketukan yang cukup keras itu segera terbangun dari tidurnya.


Ia melirik jam yang tergantung di dinding. "Masih jam 3 pagi." Gumam Anas sambil berjalan ke arah pintu.


"Nas... Ayahmu, ayahmu nak..." Ucap ibu segera ketika pintu terbuka.


"Ayah kenapa bu?" Sahut Anas kaget.


"Ibu nggak tahu pas ibu bangun, ibu lihat ayah sedang sujud di atas sajadah, tapi kok sujud nya sangat lama.. Ibu tunggu-tunggu karena nggak bangkit-bangkit, pas ibu pegang, badan Ayahmu rebah sendiri ke lantai. Ya Allah Nas... bantu bawa Ayahmu ke Rumah Sakit segera."


"Astaghfirullah, i-iya bu, bentar bu biar Anas lihat kondisi Ayah dulu."


Anas segera berlari ke kamar orang tuanya itu. Ia mendekati tubuh Ayahnya lalu meraba bagian hidung serta mengecek denyut nadinya.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Ayah sudah meninggalkan kita bu...hik hik hik." Ucap Anas kemudian sambil menangis, ia tak kuasa menahan rasa keterkejutannya yang tiba-tiba. Namun Anas merasakan rasa haru dan iri sekaligus pada Ayahnya, sungguh kematian yang indah.


"Nas, apa benar nak...?"


"Iya bu... insyaallah Ayah meninggal dalam keadaan yang sebaik-baiknya." Ucap Anas dengan nada yang dibuat setegar mungkin. Ia tak boleh menangis lagi, seharusnya ia bahagia Ayah nya kembali pada Sang Pencipta dalam keadaan sedang sujud pada Rabb-Nya.


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un." Ibu Anas merebahkan badannya dekat suaminya itu. Ibu Anas menggapai tangan suaminya yang terasa begitu dingin, lalu menciuminya berkali-kali.


"Tunggu Ibu disana ya Yah..." Gumam ibu Anas dalam hatinya dan berusaha untuk tegar mengingat apa yang telah disampaikan putranya itu bahwa suaminya meninggal dalam keadaan yang dirindukan banyak umat muslim lainnya. Keadaan terbaik yang bisa membuat umat muslim lainnya iri, berharap bisa dipanggil dalam keadaan terbaik seperti itu juga bila waktu nya sudah tiba. Karena semua makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan kematian terlebih dahulu sebelum memasuki alam akhirat kelak.


Anas segera memeluk ibunya untuk memberikan kekuatan.


"Ibu, sungguh Allah sangat sayang pada Ayah bu.." Bisik Anas pada ibunya, bisikan itu mampu membuat ibu Anas tersenyum.q


***

__ADS_1


"Entah Allah memanggil ku kapan, tapi aku berharap saat itu aku sedang dalam ketaatan." (Tausiyah Cinta)


__ADS_2