
"Kak Ai, kamu kenapa?" Tanya Beni yang seketika cemas dengan Aina yang tiba-tiba meringis.
Hani yang melihat Aina kesakitan segera memencet tombol merah yang ada di dekat kasur Aina.
Tak lama perawat jaga pun datang, "Apa ada yang bisa saya bantu bu Hani?" Ucap perawat itu.
"Sus, pasien tiba-tiba merasakan sakit di area dada bagian kirinya sus." Ucap Hani pada perawat itu.
"Bentar ya bu, saya panggilkan Dokter dulu."
"Baik Sus.."
Beberapa saat kemudian, Dokter pun masuk, dari laporan perawat serta hasil dari pemeriksaan darah Aina, Dokter segera mengambil tindakan, ia membantu menegakkan posisi tubuh Aina sebagai pertolongan pertama. Lalu Dokter menyuntikkan obat pereda nyeri dalam saluran infus Aina. Setelah obat penghilang nyeri bekerja, Aina kembali tenang, tak lama Aina pun terlelap karena pengaruh obat tersebut.
"Bu Hani, menurut hasil pemeriksaan darah bu Aina yang baru saja keluar. Bu Aina ternyata mengidap penyakit infeksi jantung. Jadi untuk memastikan apa penyebab infeksi tersebut kami perlu mengambil beberapa sampel dari cairan tubuh pasien agar kami bisa memberikan obat yang tepat untuk kesembuhan pasien nantinya." Terang Dokter kemudian.
"Lakukan saja yang terbaik Dokter." Sahut Beni yang begitu mencemaskan kondisi Aina tersebut.
Hani melirik Anas, Hani melihat ada guratan kecemasan di balik wajah Anas namun Anas begitu pintar menyembunyikannya. Bagaimanapun juga Aina adalah wanita yang pernah Anas cintai dan hidup bersamanya selama 10 tahun. Walaupun Aina akhirnya menyakiti hatinya namun Anas tak menyimpan dendam sedikit pun pada Aina.
"Iya Dok, lakukan saja yang terbaik." Anas pun ikut bersuara.
"Baik pak bu, saya permisi dulu." Sahut Dokter kemudian.
"Han, saya pamit berangkat kantor dulu. Kamu mau saya hantarkan sekalian? Soal Aina, biar Beni yang menjaganya disini." Ucap Anas kembali sembari melirik Hani.
"Iya Han, kamu pulang saja, biar saya disini." Ucap Beni meyakinkan.
"Baik kalau gitu bang, Hani ikut bang Anas saja." Ucap Hani yang memang melihat Anas sudah rapi dengan pakaian kantornya itu.
"Ben, kau jaga baik-baik ya, ingat kau belum halal dengannya. Jadi jangan macam-macam."
"Tenang aja bro, aku tahu akan batas itu, jika Aina mau aku akan menghalalkannya sekarang juga."
"Sabar Ben, kau tampaknya sudah begitu yakin, tapi kau perlu memberi tahu ibumu dulu sekalian minta ridho padanya, jangan lupakan itu." Ucap Anas lalu keluar dari ruangan itu, diikuti oleh Hani dibelakangnya. Walaupun begitu, Anas masih heran, ada apa dengan Beni? Kenapa ia mau menikahi Aina, malah ngotot ingin segera menikahinya?.
Di dalam mobil Anas.
Hani tampak gelisah, ia nggak tahu harus mengutarakan isi hatinya yang udah berhasil direbut Anas itu atau malah terus memendamnya. Hani yang awalnya cemburu pada Aina tapi ternyata malah Aina sendiri yang ingin dirinya bisa menikah dengan Anas. Hani tiba-tiba merasa bersalah karena kemarin ia meninggalkan Anas begitu saja setelah Anas mengungkapkan perasaannya itu padanya. Mungkin karena itu juga Anas mendiamkannya sekarang. Hani jadi takut Anas marah padanya.
__ADS_1
Namun dari sisi Anas, Anas diam begitu karena ia tak tahu lagi bagaimana ia bisa meyakinkan Hani bahwa ia serius mau menikahi Hani. Pandangan Anas hanya fokus kedepan, ia jadi diam seribu bahasa. Mulutnya seakan terkunci. Perasaan berdebar-debar Anas masih belum lenyap dari dalam dirinya, karena Hani belum memberi jawabannya.
"Bang Anas... bang, maaf, abang belum menarik kata-kata abang yang kemarin kan?" Ucap Hani pada akhirnya memecah kecanggungan yang tercipta diantara mereka.
"Kenapa memangnya Han?" Ucap Anas yang malah kembali bertanya. Anas langsung nyambung dengan pertanyaan Hani, karena pikirannya hanya fokus pada jawaban Hani atas ajakannya kemarin menjadikan Hani makmumnya, apalagi ternyata Aina juga membantu dirinya merebut hati Hani.
"Mmmmmh, jika abang serius dengan ucapan abang kemarin, abang bisa temui langsung Papa Hani." Ucap Hani kemudian sambil menundukkan kepalanya. Ia sangat malu setelah mengucapkan kata-katanya itu.
"Alhamdulillah... saya sangat serius Hani, saat ini juga saya akan menemui Papamu." Ucap Anas dengan mantap, ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Walau ia harus rela akan terlambat ke kantor. Karena ini menyangkut masa depan yang didambakannya, termasuk impian ibunya.
Hani pun terharu melihat keseriusan Anas, ia pun berdoa pada Rabbnya.
"Ya Rabb, aku tahu aku lemah dalam hal ini, jika memang bang Anas jodohku, maka permudahlah segalanya, jadikanlah ia jodoh dunia akhiratku dan bimbinglah kami agar bisa sama-sama ke Surgamu." Doa Hani penuh harap pada Tuhannya, ia yang tadinya ingin berdoa dalam hati tak sengaja suara dari lantunan doanya malah bisa didengar oleh Anas.
"Aamiin." Sahut Anas yang mendengar lantunan doa Hani itu, lalu ia ikut mengaminkan. Tak bisa digambarkan lagi dengan kata-kata atas apa yang dirasakan Anas saat itu, ia begitu bahagia.
Hani melirik Anas sekilas yang ternyata mendengar doanya, pandangan mereka pun beradu. Namun sesaat kemudian mereka pun jadi sama-sama salah tingkah. Hani segera mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela, ia malu karena takut ketahuan akan perubahan pipinya yang pastinya sudah kemerah-merahan.
Perasaan yang dirasakan Hani sekarang begitu berbeda saat ia ingin dilamar Alfian dulu, dulu Papa Mamanya sempat menentang keinginannya itu, dan sekarang walau dalam agama seorang janda ia lebih berhak atas dirinya daripada walinya, namun Hani tetap menghargai kedua orang tua nya terutama Papanya. Hani juga takut akan gagal untuk kedua kalinya. Jadi ia tetap ingin Papa nya yang memutuskan hidupnya, apa Anas benar benar layak nanti menjadi suaminya. Dan Hani sadar bahwa Ridho dari kedua orang tua sangat berpengaruh pada perjalanan hidupnya nanti. Ia ingin hidupnya bersama Anas nanti benar-benar mendapatkan penuh keridhoan dari Rabbnya melalui ridho dari orang tuanya itu.
***
Dua jam kemudian...
"Beni, aku ini tak pantas bagimu, kamu tahu kan aku janda dua kali, sedangkan kamu masih bujangan. Apalagi kondisi aku sekarang Ben. Kamu lihat Beni aku udah tak secantik dulu lagi, aku penyakitan Beni, aku pun juga tak memiliki apa-apa lagi. Biarkan aku pergi..."
"Kak, jangan bicara seperti itu, Aku serius kak, aku mau menikahi mu, hiduplah bersamaku... Aku tak peduli akan masa lalu mu... Dan aku tak peduli kamu mau bilang apa..."
"Kamu itu jangan bodoh Beni, diluar sana masih banyak gadis yang tentunya lebih baik dariku. Jadi... biarkan aku pergi Beni, selamat tinggal..."
"Kak Aina, percayalah padaku kak, aku akan berusaha jadi imam yang terbaik untukmu kak, jangan tinggalkan aku kak."
Prank...
Sebuah gelas kaca terjun bebas ke lantai dari meja kecil yang ada di samping Aina, gelas itu pun pecah hingga menimbulkan bunyi yang membuat Beni langsung terbangun dari tidurnya.
"Kak Aina?" Teriak Beni seketika duduk dari posisi berbaringnya itu. Beni tampak mengatur napasnya yang tiba-tiba sesak, hingga nyawanya kembali sepenuhnya.
"Beni... aku haus.. aku tak sengaja menjatuhkan gelas itu." Ucap Aina yang gemetar karena kaget mendengar bunyi gelas pecah sekaligus teriakan Beni itu.
__ADS_1
"I-iya kak." Sahut Beni setelah sadar bahwa Aina masih ada disana.
"Syukur lah.." Gumam Beni dalam hatinya. Ia pun bersyukur bahwa barusan yang ia alami hanyalah mimpi.
Beni pun bergegas keluar ruangan, tak lama ia membawa gelas yang baru untuk Aina.
"Terimakasih Ben.." Ujar Aina saat Beni menyodorkan gelas yang sudah berisi air padanya.
"Sama-sama kak, oh ya gimana kondisinya sekarang?" Tanya Beni sambil mengumpulkan pecahan kaca yang berserakan di lantai itu.
"Alhamdulillah udah mendingan."
"Ben.."
"Ya.."
"Maafkan aku karena telah merepotkanmu."
"Nggak kok kak, aku nggak repot karenanya."
Beni memasukkan pecahan kaca dalam kantong plastik bening lalu menyeka lantai dengan tisu untuk membersihkan sisa belingnya. Kemudian memasukkannya ke dalam tong sampah.
"Ben.."
"Mmmmh" Sahut Beni yang kembali duduk di sofa.
"Aku nggak salah dengar kan saat kamu mengucapkan mau menikahi ku?"
"Nggak kak, itu benar.." Jawab Beni dengan mantap sambil menatap mata Aina yang sedang duduk setengah berbaring di atas ranjang pasien. Namun setelah itu Beni cepat menundukkan pandangannya.
"Ben, apa kamu yakin?"
"Yakin sekali kak." Ucap Beni dengan lugas sambari kembali mengangkat kepalanya. Namun matanya tak sanggup menatap Aina.
"Tapi aku tak layak kamu jadikan istri Beni."
Bersambung...
“Perempuan yang telah janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya dan perempuan yang masih perawan diminta izin dari dirinya dan izinnya ialah diamnya.” (HR Tirmidzi, Ahmad, Muslim).
__ADS_1