
"Alfian... a- aku... aku..." Sahut Dila terbata-bata..
"Ya Dila, kamu mau ngomong apa, aku akan mendengarkanmu..." Ucap Alfian begitu lembut sembari tangannya menangkup pipi Dila. Pandangan mata mereka pun beradu.
Alfian sendiri pun heran dengan perubahan sikap yang tiba-tiba muncul dalam dirinya itu. Bersama Hani dulu walaupun ia mencintai Hani namun tak sekalipun ia bisa berlaku lembut pada Hani. Tak pernah sekalipun ia ingin mendengar keluhan Hani, malah ia yang justru terus minta dipahami.
Sekarang jiwa Alfian seolah terpanggil untuk memperbaiki diri, bahwa ia sebenarnya bisa menjadi laki-laki yang berguna.
Dila bisa melihat kesungguhan dimata Alfian, ia seperti dejavu. Namun dulu Dila berada di posisi Alfian sedangkan dirinya adalah Aina. Dila berhasil menenangkan Aina yang lagi frustasi karena ditinggal nikah oleh Ridho kekasihnya. Perlakuan lembut Dila pada Aina berhasil membuat Aina nyaman padanya, lalu timbul rasa cinta, rasa ingin memiliki dan rasa lainnya yang tak seharusnya berlabuh.
Sekarang Dila merasakan dirinya seperti Aina, ia merasa nyaman diperlakukan seperti itu oleh Alfian suaminya itu. Suami yang semenjak nikah sama sekali tak pernah ia sentuh. Suami yang dianggapnya tak berguna.
Mata mereka masih terus saling tatap. Alfian merasakan desiran aneh dalam hatinya. Dila yang mandiri, keras kepala dan tinggi hati ternyata memiliki sisi lemahnya juga. Jiwa Alfian seolah terpanggil untuk melindungi.
"Alfian... maukah kamu menerima ku menjadi istri yang sesungguhnya?" Ucap Dila kemudian dengan lancar, setelah meyakinkan hatinya bahwa apa yang dikatakan Aina dulu itu adalah benar, Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan dan tentunya memiliki tujuan yang kadang tak bisa dimengerti manusia yang hanya mementingkan nafsu dunia. Laki-laki dan wanita adalah sosok yang berbeda, yang diciptakan untuk saling melengkapi. Semua sudah tercipta sempurna sesuai kodratnya masing-masing.
Alfian terdiam mendengar ucapan istrinya itu. Cukup lama mereka saling diam. Namun sesaat kemudian Dila pun angkat bicara.
"Kenapa Alfian, apa karena kau masih mencintai Hani? Atau karena kau memang tak pernah mencintaiku."
"Bu-bukan Dila, bukan itu yang aku pikirkan, aku hanya heran kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran? Sedangkan aku, aku merasa tak pantas untuk menjadi suami yang sesungguhnya untukmu."
"Alfian, aku terlalu banyak melupakan-Nya, Sholat pun aku tak tahu kapan terakhir aku lakukan. Aku mau bertaubat Alfian, aku mau belajar jadi istri yang baik untukmu."
Alfian mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang dilontarkan Dila. Kalimat itu seperti menusuk ke dalam jiwa Alfian. Ia tak jauh beda dari Dila, pisah dari Hani tak membuat ia ingat pada Allah, perubahan yang ia ciptakan agar bisa merebut hati Hani kembali semata-mata hanya menurut pandangan dunia saja.
Ia yang dulunya malas bekerja jadi giat mengais rezeki dan menabung untuk menggapai impiannya bisa hidup bersama kembali dengan Hani dan anak-anaknya. Namun itu tetap tak memudahkan langkahnya dalam merebut hati Hani kembali. Alfian pun tersadar bahwa ia telah melupakan Allah, Tuhan yang seharusnya ia mintai pertolongan.
__ADS_1
"Dila... semua belum terlambat kan? Aku juga mau belajar jadi suami yang baik untuk mu... Aku juga mau belajar jadi muslim sejati Dila, aku juga nggak tahu kapan aku terakhir sholat..." Buliran buliran bening kembali jatuh dari mata Alfian. Ia pun menundukkan kepalanya.
"Belum Alfian, belum..." Ucap Dila sambil menggelengkan kepalanya. Ia memberanikan diri memegang wajah suaminya itu. Ia mengangkat wajah Alfian yang tertunduk lalu ia pandangi sepuasnya wajah itu. Kemudian Dila mengusap lembut pipi Alfian yang basah.
"Alfian..."
"Mmmmh.."
"Maukah kamu pergi denganku untuk menemui Hani?"
"Tapi Dila, Hani pasti tak mau lagi bertemu denganku. Aku sudah banyak menorehkan luka padanya."
"Alfian apapun itu nanti, kita akan lewati bersama..." Ucap Dila yang ingin mengakui kesalahannya pada Hani walau Dila menyangka Hani belum tahu apa-apa tentang maksud dan tujuannya yang sebenarnya mendekati Hani, namun Dila sudah bertekad untuk berkata jujur pada Hani. Sedangkan pada Alfian, Dila memilih untuk menyimpannya rapat-rapat.
"Baiklah... Aku akan mencobanya, tapi aku pasrah, bila memang Hani benar-benar tak mau kembali lagi padaku." Ucap Alfian meneruskan prasangkanya bahwa Dila mengajaknya bertemu dengan Hani agar Hani mau kembali lagi pada padanya.
Dila mengedipkan kedua matanya sambil tersenyum, sebagai tanda untuk menyokong suaminya itu. Dila pun mengikuti apa yang ada dalam pikiran suaminya itu.
"Dil..."
"Mmmmh.."
"Bolehkah aku mencium mu?" Alfian menatap mata Dila dalam, berharap tak ada penolakan lagi dari istrinya itu.
Dila hanya mengedipkan matanya kembali. Dila seakan pasrah atas apa yang akan dilakukan suaminya itu.
Tiba-tiba Jantung Dila berdebar kencang, badannya pun terasa panas dingin, tubuhnya seperti tersengat aliran listrik saat aliran napas suaminya itu merasuk ke hidungnya. Alfian memperlakukan Dila begitu lembut. Ia tak mau terburu-buru, hingga Dila benar-benar mau menyerahkan dirinya seutuhnya padanya.
__ADS_1
Dan pagi itu adalah saksi bahwa mereka telah menepati janji bahwa mereka ingin berubah, bahwa mereka ingin menjadi suami atau istri yang sesungguhnya.
***
Esoknya, di rumah Martias, sedang sibuk menyiapkan makanan untuk menyambut keluarga dari pihak Anas yang akan datang mengkhitbah Hani yang akan diadakan pada malam harinya setelah sholat Isya. Martias dan Bu Mala tampak begitu antusias. Mereka sangat bahagia dan penuh syukur karena Allah telah mengabulkan doa dan impian mereka menjadikan Anas menantu di rumah itu.
Darma adik Hani juga memutuskan untuk izin dinas sehari itu. Darma tak mau menyia-nyiakan kesempatannya kali ini, bahwa ia dulu tak ikut dalam mengurus pernikahan kakaknya karena sedang mengikuti Pendidikan Bintara Kepolisian. Dan Hani juga belum masuk kerja dari kemarin. Hani hanya meminta izin karena ada urusan penting. Hani seperti tak memiliki keberanian untuk kembali masuk kerja. Ia khawatir akan bertemu Dila atau Alfian lagi.
"Cieeee, ada yang lagi tengah berbahagia nih ceritanya..." Ucap Darma menggoda kakaknya yang sedang sibuk membersihkan rumah. Hani memang terlihat bahagia, tangannya yang bekerja diiringi dengan mulutnya yang tak henti hentinya menyenandungkan sholawat.
"Darma... mulai deh.." Sahut Hani yang merasa malu digoda adiknya itu, Hani menyembunyikan wajahnya dari Darma.
"Yeeea pada adik sendiri masih malu... Tapi Alhamdulillah ya kak, akhirnya kakak Darma yang cantik, sholehah dan baik ini menemukan kebahagiaannya, insyaallah until Jannah nanti ya kak dengan bang Anas..."
"Aamiin... Dah dah sana, kakak nggak jadi selesai nih kerjanya kalau diganggu terus.." Sahut Hani yang masih malu apalagi adiknya itu pandai sekali dalam memujinya.
"Okey... Darma izin masuk kamarnya ya, Darma mau main sama si Trio baby dulu..." Ucap Darma sambil lalu, ia pun masuk dalam kamar Hani.
Hani hanya menggeleng-gelengkan kepalanya merasa lucu melihat tingkah adiknya itu.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." Hani yang memang berada di ruang tamu langsung menjawab salam tersebut. Sedangkan Mama dan Papanya beserta keluarga lainnya lagi sibuk di belakang.
Hani membukakan pintu, ia pun kaget melihat kedatangan dua orang yang sedang ia hindari itu.
Bersambung...
__ADS_1
***
"Sungguh Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai di kerongkongan."~HR At Tirmidzi~(Tausiyah Cinta)