Takdir Mempertemukan Kita

Takdir Mempertemukan Kita
30. Nafsu yang Sesungguhnya


__ADS_3

Tiga bulan pun berlalu, Alfian semenjak tahu anak-anaknya sudah lahir, ia semakin semangat bekerja. Ia sudah tak memedulikan lagi akan kebutuhan biologisnya. Ia bekerja siang dan malam.


Usaha yang dirintisnya bersama Aldi mengalami perkembangan yang cukup bagus. Siangnya mereka berjualan tahu bulat dengan cara berkeliling dan malamnya mereka berjualan nasi goreng menetap di satu tempat. Alfian sudah menukar mobil yang diberi Hani dengan mobil bak terbuka yang membantu memudahkan mereka berjualan.


"Di, penghasilan kita lumayan ya hari ini, aku jadi nggak sabaran, punya banyak uang lalu mengajak istri ku kembali padaku." Ucap Alfian disela kesibukan mereka melayani para pembeli.


"Iya Al, aku bantu kamu dengan doa." Sahut Aldi, Alfian memang tak banyak bercerita padanya. Yang ia tahu Alfian pernah melakukan kesalahan pada istrinya dan sekarang ingin membuktikan bahwa ia bisa mengajak istrinya rujuk kembali.


"Makasih ya, berkat kamu yang ngerti ekonomi usaha kita jadi maju. Aku berhutang budi padamu Di."


"Aku yang seharusnya berterimakasih Al, sudah mengajak aku kerjasama, kalau nggak ada kamu aku juga nggak bisa buka usaha sendiri, secara aku dapat modal dari mana kan?"


Mereka pun tertawa bersama.


"Bang, nasi goreng bungkus tiga ya." Ucap salah satu pelanggan rutin mereka.


Tempat mereka berjualan pun sangat strategis karena dekat dengan kampus. Jadi targetnya adalah mahasiswa mahasiswi yang ngekos dekat kampus.


"Iya dek, segera kami buatkan silahkan duduk dulu." Jawab Aldi dengan ramah, Aldi memiliki tampang yang bisa dibilang ganteng, jadi nggak kalah jauh bila disandingkan dengan Alfian. Jadi itu bisa jadi nilai tarik tersendiri bagi para mahasiswi, selain kualitas rasa yang mereka suguhkan.


Beruntungnya Alfian memiliki Aldi sebagai partner nya selain ahli di bidang ekonomi, Aldi juga memiliki keahlian memasak. Karena Aldi beradik kakak 7 orang laki-laki semua, dan orang tuanya pun mendidik mereka agar pandai di segala hal.


***


Di rumah Martias, Trio baby sedang asyik bermain bersama Omanya di dalam kamar, sedangkan Hani sedang duduk di ruang tengah bersama Papa nya.

__ADS_1



"Han, lusa kamu kan udah masuk kerja, apa kamu udah pikirkan bagaimana nanti anak-anakmu?" Ucap Martias memecah keheningan diantara mereka. Karena Hani sibuk dengan layar ponselnya. Selain memantau Grup kantor mengenai pekerjaan nya, Hani juga sedang mencari-cari info usaha yang bisa ia rintis dari rumah sepulang dari kantornya. Hani tak mungkin selalu merepotkan kedua orang tuanya mengingat gaji Hani yang tak bersisa lagi. Walau nanti ia sudah masuk kerja kembali, tambahan jasa-jasa lainnya dari Rumah Sakit tempat ia bekerja akan ia dapatkan, namun tentu tetap tidak akan mencukupi kebutuhan ketiga putrinya itu nantinya.


"Udah Pa, nanti Hani akan titipkan Hana, Hafshah dan Humaira di Tempat Penitipan Anak dekat kantor Pa."


"Apa kamu yakin mereka akan aman disitu?"


"Insyaallah yakin Pa, anak-anak teman Hani juga banyak dititipin disana."


"Papa hanya khawatir saja Han, takut mereka kenapa-kenapa, karena banyak juga kita mendengar ada anak yang diberikan obat tidur untuk memudahkan pekerjaan mereka, ya kan?"


"Insyaallah, yang Hani tahu belum ada kejadian atau keluhan seperti itu dari teman-teman Hani Pa."


"Mudah-mudahan ya Han... Han, kamu apa nggak ada niat lagi untuk menikah? Papa lihat Anas ada hati untuk mu Han, apalagi ia sangat perhatian sama Hana, Hafshah dan Humaira. Mereka pastinya juga membutuhkan sosok Ayah kan." Ucap Pak martias lebih serius kali ini, karena sebelum-sebelumnya, setiap mereka membahas itu Hani terus mengelak tanpa menjawab sepatah kata pun.


"Tapi apa kamu tak bisa melihat perbedaan Anas dengan Alfian Han?"


"Pa.. tapi jarak usia kami terlalu jauh Pa.. Dan Hani nggak tahu apa Hani bisa mencintai bang Anas nantinya."


"Hani, jika masalah usia kamu permasalahkan, apa kamu nggak pernah dengar kisahnya Sayyidah Khadijah istri pertama Rasulullah. Nah ini malah kebalikannya lagi Han, Rasulullah yang masih berusia 28 tahun sedangkan Sayyidah Khadijah 40 tahun. Mereka pun awalnya menikah bukan karena cinta, namun setelah menikah kisah cinta mereka sampai-sampai membuat Sayyidah Aisyah, istri Rasulullah cemburu pada Sayyidah Khadijah padahal beliau sudah tidak ada. Dan Ulama pun ada yang menyebutkan kisah cinta mereka disebut juga dengan Puncak Cinta. Dan kita tahu kesetiaan Rasulullah semasa pernikahannya dengan Sayyidah Khadijah. Dan Rasulullah pun baru menikah lagi setelah Sayyidah Khadijah meninggal."


"Tapi pa... apa kata orang-orang kalau sampai Hani menikah dengan sahabat Papa Hani sendiri."


"Hani, Hani.. sampai kapan pun hidup kita kalau tergantung apa kata orang-orang, maka kita akan tersiksa sendiri Han. Sebaiknya kamu fokus pada kebaikan dirimu saja, kebaikan untuk anak-anakmu kelak. Papa tak memaksa, hanya saja sosok Anas patut kamu pertimbangkan untuk jadi calon Ayah putri-putri mu."

__ADS_1


Hani pun terdiam mendengar penuturan Papanya itu. Hani memang belum kepikiran untuk menikah lagi. Namun jika ia pikir-pikir, Anas memang sudah banyak berbuat baik pada mereka, begitu juga dengan Ibunya Anas yang sangat menyayangi Hana, Hafshah dan Humaira. Tak jarang berbagai macam mainan Anas belikan untuk Trio Baby nya Hani.


"Pa, Hani kedalam dulu mau tengok anak-anak." Pamit Hani pada Papanya pada akhirnya.


Pak Martias hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil menghela napasnya yang terasa berat. Ia begitu menyayangi putrinya itu. Dengan Hani menikah lagi, Martias bisa hidup lebih tenang karena putri dan cucu-cucunya nya itu nantinya sudah ada yang menjaga, melindungi serta membimbing mereka. Kalaupun suatu waktu Allah memanggilnya, Martias bisa pergi dengan tenang.


"Halo, Assalamu'alaikum Preto, gimana? Apa kamu mau terima tawaran saya kemarin? Ucap Papa Hani ketika panggilan telponnya diangkat Beni atau Preto.


"Baik Pak Tetua, setelah saya timbang dan pikirkan saya siap laksanakan pak." Sahut Preto dari seberang telpon. Preto yang awalnya ragu melaksanakan perintah dari Pak Tetuanya itu meminta waktu satu hari untuk berpikir.


"Ok, Senin pagi jam setengah 7 kamu udah ada disini."


"Siap Pak Tetua."


***


"Han, aku harap kamu mau tinggal disini nantinya, aku sengaja siapkan rumah ini untukmu dan untuk anak-anak kita." Gumam seseorang sambil tersenyum bahagia. Rumah yang cukup luas dengan desain modern itu ia persiapkan buat seseorang yang membuatnya tidak bisa berpikir waras lagi beberapa bulan ini.


"Dan disini kita bisa bermain dan berenang bersama nantinya..." Tambahnya membayangkan betapa bahagianya mereka bisa bermain dan berenang bersama di kolam renang yang ada di bagian belakang rumah itu, serta taman yang cukup luas untuk tempat bermain anak-anak.


Ia pun sudah menyiapkan berbagai macam mainan, pakaian serta perlengkapan apa saja untuk Trio Baby nantinya. Rumah itupun di desain dengan nuansa perpaduan warna pink dan ungu. Sungguh terkesan cantik dan feminim untuk ditempati para bidadari cantik nantinya.


Setelah puas membayangkan hal yang indah-indah di setiap sudut rumah itu, ia pun kembali berangkat kerja. Karena ada panggilan masuk yang membuatnya harus kembali ke Rumah Sakit.


***

__ADS_1


"Hubungan cinta yang menghalalkan segala cara katanya demi memperindah cinta yang ada itulah nafsu yang sesungguhnya." (Tausiyah Cinta)


__ADS_2