
Beberapa hari kemudian...
"Bagaimana Preto, kamu menjalankan tugasmu dengan baik kan?" Ujar Martias disaat hari masih terlalu pagi, Beni sudah berada dirumahnya.
Beni memang diwanti-wanti Hani agar datang lebih cepat, supaya mereka berangkat lebih awal. Karena beberapa hari yang lalu Hani selalu saja terlambat sampai di kantor, walau Hani merasa sudah memajukan jam berangkat nya agar bisa menghindari keterlambatan namun tetap saja ia terlambat. Entah Beni yang sengaja mengemudi dengan sangat pelan, entah Hani yang memang tak memperhatikan jam lagi disaat ia yang selalu saja kerepotan dalam mempersiapkan Trio Baby. Hani hampir saja dibuat stress karenanya.
"Insyaallah Pak Tetua, saya menjalankan sesuai arahan Bapak."
"Bagus, terimakasih Preto, sekarang lanjutkan tugas kamu berikutnya!"
"Sama-sama Pak Tetua, siap laksanakan." Sahut Beni cepat, lalu ia mengambil ponselnya, ia tampak seperti sedang mengetik sesuatu.
Di kediaman Ibu Anas, Anas mondar mandir di dalam kamarnya. Ia merasakan suhu tubuhnya panas dan dingin.
"Itu kenapa juga Beni bisa tiap hari antar Hani ke kantor? Astaghfirullah, kenapa aku jadi tak rela seperti ini? Bang Martias seperti melupakan aku, padahal Hani bisa bareng aku kalau mau." Gumam Anas sambil terus mondar mandir. Ia sudah seperti cacing kepanasan.
Tiba-tiba ponsel Anas berbunyi menandakan sebuah pesan masuk. Anas membuka aplikasi berwarna hijau di HP nya tersebut.
Beni
("Hai bro, jangan marah kalau aku menikungmu dari belakang. Jangan salahkan aku kalau aku juga jatuh hati dengan wanita yang sama.")
"Allah... ini maksudnya apa lagi... Apa mungkin Beni juga jatuh hati pada Hani lalu ia berusaha mendekati Hani dengan mengantarkan Hani dan anak-anaknya tiap hari seperti itu. Dan bang Martias merestui begitu? Aaaarrrgh..." Anas mengacak-acak rambutnya sendiri. Tubuhnya kembali merasakan panas.
("Maksudmu apa ini?") Balasan singkat dari Anas pun terkirim dan langsung dibaca Beni.
("Jangan pura-pura nggak ngerti deh bro, kamu juga jatuh hati kan sama Putrinya Pak Tetua? Jadi kalau aku berhasil merebut hati Hani, kamu harus ikhlas.") Beni kembali mengirim pesan pada Anas.
("Jangan macam-macam kau ya Ben. Aku tak akan membiarkan itu terjadi.") Tak disangka Anas segera mengirim balasan pesan seperti memberi sebuah ancaman pada Beni sepupunya itu.
"Yes..." Ucap Beni spontan ketika ia membaca balasan pesan dari sepupunya itu.
"Gimana, berhasil?" Sahut Martias yang dari tadi setia menunggu Beni berbalas pesan dengan Anas. Ia begitu penasaran melihat hasil kerja Beni tersebut.
"Berhasil Pak Tetua." Ujar Beni seketika itu langsung memperlihatkan pada Martias balasan terakhir dari Anas. Martias pun tersenyum puas.
"Tapi Pak Tetua..."
"Tapi apa?"
"Mohon maaf Pak Tetua, saya takut bapak marah dan membenci saya." Ucap Beni sambil menunduk.
__ADS_1
"Maksudmu apa Preto..? Ayo katakan!" Tanya Martias sambil mendesak Beni untuk menyampaikan maksud dari kata-katanya itu.
"Bang Beni, kami udah siap nih, ayo kita berangkat." Suara Hani yang baru keluar dari rumah membuat percakapan mereka terhenti seketika.
"Ba-baik." Sahut Beni pada Hani dengan terbata.
"Maaf Pak Tetua saya permisi dulu." Pamit Beni pada Martias dengan wajah sambil terus menunduk. Ia seolah nggak berani menatap wajah Pak Tetuanya itu. Padahal ia belum menyampaikan maksud dari kata-katanya yang sebenarnya pada Martias, namun dirinya seolah-olah sudah merasakan malu yang luar biasa.
Seperti biasa, Beni menjalankan mobilnya begitu pelan, sesuai arahan dari Pak Tetuanya itu.
"Bang, bisa lebih agak cepat nggak bawa mobilnya?" Hani akhirnya memberanikan diri menyuruh Beni membawa mobilnya lebih cepat, yang sebelumnya Hani masih bisa memaklumi karena Hani juga khawatir dengan Trio Baby nya bila Beni mengemudikan mobilnya dengan kencang. Karena itu adalah pengalaman pertama Hani membawa Trio Baby jalan jauh dengan mobil. Tapi semakin kesini nya, Hani merasa Beni seperti sengaja memperlambat laju mobilnya seolah mengulur-ulur waktu padahal jalanan pagi itu tidak terlalu ramai karena mereka berangkat masih terlalu pagi.
"Maaf Hani, ini udah agak cepat. Kasihan ntar Trio Baby nya bila saya ngebut."
"Bukan ngebut juga maksud Hani bang, tapi ini mobil jalan udah seperti siput lo bang, jika Hani jalan kaki mungkin lebih cepat sampai daripada naik mobil dengan jalannya seperti ini."
Beni pura-pura tak mendengar, matanya fokus ke arah jalanan.
Mobil pun berhenti tiba-tiba.
"Lho ini kenapa juga berhenti bang Beni, aduuh bang... Hani bisa-bisa terlambat lagi.."
"Seperti nya ban nya kempes, saya coba cek dulu." Sahut Beni kemudian ia segera turun dari mobil.
"Ya Allah... aku rasanya hampir menyerah, aku nggak kuat jika tiap hari seperti ini..hik." Adu Hani pada Rabb nya, ia merasakan tubuhnya seketika tak memiliki kekuatan. Hani menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia pun akhirnya rapuh.
Humaira pun tiba-tiba rewel, tidurnya jadi terganggu. Bisa jadi ia ikut merasakan kegelisahan Bundanya. Hana dan Hafshah pun ikutan rewel.
"Sayaaang, tenang ya... Jangan rewel begini, Bunda kan jadi tambah bingung... Ssssst sssst sssst." Ucap Hani menenangkan ketiga putrinya. Hani pun turun dari mobil, ia ingin pindah ke bangku tengah tempat berbaring nya Trio Baby di atas kasur matras angin khusus dalam mobil yang ditaruh diantara bangku tengah dan depan itu.
Disaat Beni sedang sibuk mengganti Ban mobil. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di belakang mobil mereka. Seseorang yang turun dari mobil itu pun mendekati mereka.
"Bang Anas.." Sapa Hani sambil tersenyum, disaat ia akan turun dari mobil ia melihat pantulan Anas dari kaca spion mobil, berjalan mendekati mobil mereka, kedatangan Anas seolah membuat hati Hani sedikit lega.
"Kenapa Ben?"
"Eh, Bro seperti yang kamu lihat nih."
"Seperti nya saya harus bertindak nih Ben, kamu yang ikhlas ya.. Aku yang akan menggantikan kamu sekarang." Ucap Anas sambil menepuk bahu Beni. Beni terlihat pasrah, ia mengelap dahinya yang basah karena keringat. Anas berjalan mendekati Hani.
"Han, sepertinya Beni masih lama, kalian ikut saya saja.." Ujar Anas pada Hani dengan raut wajah yang cerah. Ditambah dengan tampilan Anas yang rapi dengan stelan jas membuat karisma Anas terpancar mempesona.
__ADS_1
Hani pun menganggukkan kepalanya cepat tanda setuju, karena di benak Hani ia tak mau terlambat lagi. Ancaman potongan tunjangan dari Rumah Sakit bila pegawai nya terlambat membuat nyali Hani jadi ciut. Bagaimana pun tunjangan itulah yang Hani harapkan bisa membantu penghidupan ia dan ketiga putrinya.
Hani terkagum melihat Anas yang cekatan membantu ketiga putrinya untuk pindah ke dalam mobilnya. Sekaligus memindahkan semua perlengkapan Trio Baby. Berbeda sekali dengan Beni yang hanya diam melihat kerepotan Hani dengan ketiga putrinya itu. Ketiga putri Hani pun terlihat anteng dan senang ketika berada di dekapan Anas.
"Makasih banyak bang.. Hani banyak berhutang budi sama bang Anas dan juga ibu.." Ucap Hani ketika mobil sudah jalan. Hani juga seketika teringat dengan segala kebaikan ibunya Anas. Anas hanya membalas dengan senyuman dengan melirik Hani sebentar. Anas tak sanggup memandang wajah Hani lama-lama karena ia merasakan kegugupan yang luar biasa.
Mereka pun akhirnya sama-sama diam menikmati perjalanan dari Desa ke Ibukota. Sesampainya ditempat tujuan, Hani pun akhirnya bersuara memecah keheningan diantara mereka.
"Bang, depan itu pas di depan RS berhenti ya, Hani mau nitipkan Hana, Hafshah dan Humaira dulu di Tempat Penitipan Anak."
"Oh, Yayasan Cahaya Iman itu ya?"
"Iya benar bang.."
"Ok, kita berhenti disini..."
Anas dengan sigap turun dari mobil, ia berlari memutari mobil, ketika Hani hendak membuka pintu, Anas sudah duluan membukakan nya untuk Hani.
Wajah Hani seketika memerah,
"Maaf bang, nggak usah repot-repot, Hani bisa sendiri.."
"It's ok..." Sahut Anas singkat, kemudian Anas lanjut membuka pintu belakang mobil, ia menurunkan Kereta bayi beserta Tas besarnya Trio Baby. Hani hanya terpana atas semua perlakuan Anas tersebut. Ia seolah diperlakukan seperti Ratu oleh Anas.
"Trio Baby, mari kita turun..." Ucap Anas sambil menggoda Trio Baby nya Hani. Mereka pun tampak riang dan senang.
"Ustadzah yang melihat nya jadi ikutan tersenyum."
"Bu Hani, itu Ayahnya Trio Baby ya.."
Ucap salah seorang ustadzah di sana.
"A-apa ustadzah?" Hani dibuat kaget mendengar pertanyaan ustadzah itu.
"Mmmh, nggak zah, ia abang angkat saya." Sahut Hani cepat, ia nggak mau orang salah sangka pada Anas.
"Oooh, kirain, soalnya romantis banget..." Ujar ustadzah itu sambil tersenyum manis.
Upps ternyata udah panjang aja, kita lanjut di Part berikutnya ya sobat readers....🤗🙏🥰
***
__ADS_1
"Kamu mencintainya? Pilihannya hanya dua, pendamlah jika kamu mampu atau berterus-terang lah jika kamu berani." (Tausiyah Cinta)