
"Bang Beni, Hani pulang saja ya, kasian anak-anak di rumah." Jawab Hani mencari alasan.
"Han sebentar, Kak Aina menanyakan mu." Ujar Beni kemudian.
"Benarkah bang, bukannya tadi kak Aina mau bicara berdua saja sama bang Anas." Jawab Hani keceplosan.
"Han, kamu cemburu ya?"
"Nnngg, nggak... aku nggak cemburu.." Sahut Hani gelagapan.
"Kalau gitu temui dulu kak Aina Han." Ujar Beni kembali sambil menahan senyum.
"Ba-baik." Sahut Hani kemudian berjalan menuju ruang rawat Aina.
Di dalam ruang rawat.
Hani melihat Anas sedang duduk di sofa sedangkan Aina tampak memejamkan matanya di atas ranjang pasien.
"Hani.." Sapa Anas, ia langsung berdiri dari duduknya. Sedangkan Aina yang mendengar Anas menyebut nama Hani, ia segera membuka matanya lalu ikut menyapa Hani.
"Han.."
"Iya Tan.." Sahut Hani sambil berjalan mendekati Aina.
"Han, kamu masih ingat nggak ketika saya bicara, saya tahu kita harus kemana saat kita mau melarikan diri dari Dokter Dila?"
Anas yang masih belum tahu apa yang telah terjadi dengan Hani dan Aina, mencoba mencerna kalimat mantan istrinya itu.
"Iya Tan, tapi Tante udah keburu pingsan jadi Hani memutuskan untuk kembali ke rumah orang tua Hani saja."
"Han, sebaiknya memang seperti itu karena kamu memang lebih aman bersama orang tuamu."
"Iya tante, ternyata ada hikmahnya Tante Aina pingsan."
"Han, begitu lah kehidupan setiap kejadian pasti ada hikmahnya, saya juga nggak menyangka walau kita nggak jadi ke rumah orang yang saya maksud, tapi Allah tetap mempertemukan kita disini."
"Maksud Tante..? Sahut Hani sambil melirik Anas.
"Iya Han, aku memang berencana membawa kamu dan anak-anakmu ke rumah Anas."
"Hani nggak ngerti maksud Tante.."
"Han, Mas Anas adalah sosok suami yang sempurna, saya saja yang tak tahu caranya bersyukur, hingga saya menyesal setelah saya berpisah darinya."
"Lalu, hubungan dengan Hani apa Tante? Bukankah itu aib bagi Tante?"
"Benar Han, saya malu.. tapi saya sudah berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya akan bahagia bila saya bisa melihat Mas Anas bahagia. Dan saya lihat kebahagiaan Anas ada pada dirimu Han." Pikiran Aina melayang saat ia selesai bicara dengan Anas di rumah duka saat itu.
Flashback On
__ADS_1
"Kak Aina.." Sapa seorang laki-laki yang memanggil Aina saat Aina sudah keluar dari pagar.
"Beni, ada apa?"
"Kak, saya ikut prihatin atas apa yang telah menimpa kakak."
"Beni, kamu menguping pembicaraan kami?"
"Nggak kak, saya nggak sengaja saja mendengar pembicaraan kakak dengan Anas." Ucap Beni yang memang saat itu kebetulan lewat, ia yang baru saja selesai bicara dengan Martias Pak Tetuanya itu di sudut ruang lain.
"Kak, kakak nggak kecewa kan karena Anas tidak bisa membantu kakak? Aku mau kasih tahu kak, Anas itu sedang jatuh hati pada seorang wanita kak, namanya Hani, anak dari sahabatnya sendiri. Apa kakak mengenal Hani?"
"Hani? Anaknya yang kembar tiga itu?"
"Iya kak?"
"Ya, saya mengenalnya Beni, ia wanita yang baik namun nasib baik seperti tak memihak padanya. Mantan suaminya yang bernama Alfian itu kan?" Ucap Aina dengan yakin, karena Dokter Dila sering bercerita padanya tentang Hani.
"Benar kak?"
"Tapi saya nggak tahu kalau Hani ternyata adalah anak sahabat nya Mas Anas."
"Jadi karena itu, kemungkinan Anas jadi serba salah kak, begitu pemikiran saya. Jika Anas menerima kakak di rumah ini lagi, itu kan bisa menghambat usaha bang Anas merebut hati Hani kak. Dan apa kata orang juga kak, walau kakak memang niatnya tidak untuk kembali dengan Anas tapi tetap saja orang nggak tahu maksud dari niat kakak itu. Orang-orang tetap mengira kakak kembali lagi pada Anas."
"Iya Beni, saya paham, saya juga nggak mungkin memaksa, hanya saja saya nggak tahu harus tinggal dimana lagi, sekarang saja saya menumpang di rumah teman, saya juga nggak mungkin selamanya tinggal disana dan ia pun termasuk orang yang sibuk, jadi saya kesepian karena saya juga sudah berhenti mengajar Ben. Saya pikir saya bisa jadi teman Ibu juga setelah kepergian Ayah, sambil saya mau belajar ilmu agama lebih banyak lagi dengan Ibu."
"Kamu mau membantuku Ben?"
"Iya kak, saya serius... Kakak bisa hubungi saya lagi nanti."
Flashback Off
"Tante.." Sapa Hani membuyarkan lamunan Aina.
"Eh iya Han, maaf."
"Tante, jika Hani tahu Tante akan membawa kami ke rumah bang Anas, Hani pasti akan menolaknya Tan." Ucap Hani sambil melirik Anas kembali.
"Maksudmu Han, kamu nggak menyukai Anas begitu?" Tebak Aina.
"Bukan begitu ma-maksud Hani Tan." Jawab Hani gelagapan, ia seperti tak terima dikatakan tak menyukai Anas karena ternyata ia sudah memiliki rasa pada Anas.
"Lalu?" Ucap Aina sambil memperhatikan wajah Hani, Aina seperti bisa merasakan kalau Hani juga menyimpan rasa pada Anas.
"Begini Tante Aina, Hani khawatir walau nanti ada Ibu disana, itu bukan berarti kita akan terbebas dari dosa zina Tante, zina yang terkecil itu adalah zina mata, kecuali bang Anas tidak tinggal disana." Ucap Hani sambil menundukkan kepalanya.
"Hani, maafkan saya, saya memang belum mengerti agama sepenuhnya." Sahut Aina sedih dan merasa bersalah.
"Nggak apa-apa Tante, Hani juga masih tahap belajar. Kita bisa sama-sama belajar nanti Tante." Sahut Hani sambil meletakkan tangannya di atas tangan Aina.
__ADS_1
"Terimakasih Hani, saya bersyukur bisa dipertemukan Allah denganmu Han. Tapi bisakah kamu menjelaskan sedikit tentang Zina itu Han?"
"Baik Tante, menurut Hadist Riwayat Muslim yang pernah Hani baca, Telah diterapkan bagi anak-anak Adam yang pasti terkena, kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berkata-kata, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah berjalan, hati zinanya adalah keinginan (h*srat) dan yang membenarkan dan mendustakannya adalah k*m*luan." Ujar Hani yang memang akhir akhir ini menyibukkan diri di sela-sela waktu luangnya mempelajari agama melalui sosial media yang ia punya. Ia mengikuti kajian kajian para ulama yang berdakwah melalui sosial media dan juga masuk dalam grup grup hijrah yang ada di sosial media itu.
Anas yang dari tadi menjadi pendengar yang baik, begitu kagum dengan pemahaman agama Hani, ia semakin yakin Hani adalah calon ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.
"Hani, saya pasti akan sangat bahagia bila kamu mau menerima tawaran saya tadi Han, menikahlah dengan Anas Hani."
"Tante... tapi bagaimana dengan Tante Aina? Apakah Tante tidak ingin kembali pada Bang Anas?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Hani, Hani tak menyangka ia bakalan memberikan pertanyaan tersebut. Hani pun seperti menyiapkan hatinya mendengar penjelasan Aina.
"Hani, kalau aku kembali pada Anas, apa kamu tak cemburu Han?" Pancing Aina pada Hani.
Hani hanya menundukkan kepalanya. Ia tak sanggup menjawab pertanyaan Aina. Hatinya tiba-tiba sakit, Hani merasa heran sejak kapan ia punya rasa cemburu pada Anas, bukankah bila ada rasa itu berarti itu pertanda cinta? Mungkinkah ia sudah mencintai Anas? Hani bermonolog sendiri dengan pikirannya.
Anas harap-harap cemas mendengar jawaban Hani. Anas tak menyangka ternyata Aina membantu dirinya dalam merebut hati Hani.
"Tapi Hani, itu tidak akan terjadi Han, saya tidak akan kembali lagi padanya, karena ia sangat menyebalkan."
"Lho kenapa aku dibilang menyebalkan Ai?" Sahut Anas tiba-tiba yang tak terima dikatakan seperti itu oleh mantan istrinya itu.
"Iya lah mas, mas menyebalkan sekali, mas membiarkan Aina meyakinkan Hani sendirian sedangkan mas hanya diam."
"Nggak gitu juga Aina, mas hanya..."
"Hanya apa mas... mas ini kenapa sih? Kalau memang udah ada rasa suka itu ya harus usaha lah, kalau cuma diam yang ada orangnya tambah jauh.." Aina tak tahu saja bahwa Anas sudah mengungkapkan isi hatinya pada Hani bahkan Anas langsung melamar Hani untuk jadi makmum nya.
Di saat Anas dan Aina saling debat, Beni pun masuk ke ruangan itu.
"Maaf apa saya mengganggu..?" Sahut Beni menghentikan perdebatan mereka.
"Beni, kebetulan sekali kamu masuk. Kamu janji mau bantu aku kan?" Ucap Aina pada Beni. Aina tak tahu lagi mau bilang apa pada Anas dan Hani.
"Nah itu dia kak, saya memberanikan untuk masuk."
"Sekarang katakan Beni kamu mau bantu apa?"
"Kak Aina nanti akan tinggal bersama saya."
"Haah, maksudmu Ben?" Ucap Anas yang kaget mendengar penuturan Beni yang mengajak Aina tinggal dengannya. Sedangkan Aina hanya diam mencerna maksud dari perkataan Beni tersebut.
"Aku akan menikahi kak Aina.." Ucap Beni lantang.
"Aouuu." Tiba-tiba saja Aina meringis kesakitan, ia memegangi dadanya yang terasa nyeri.
Bersambung...
Bagaimana sobat readers, kita dukung Beni menikahi jandanya Anas dan Rhido itu atau nggak nih? Atau Ada yang protes kenapa Beni mau menikahinya? Penasaran yuk sobat ikuti terus kisahnya! rencana Author mau bikin kisah mereka tersendiri nanti, tapi itu semua tak lepas dari dukungan sobat readers, komentar mu adalah inspirasi ku sobat, Jazakamullahu Khairan Katsiran..🙏🥰🤗
"Cemburu? Untuk apa aku harus rela cemburu? Padahal aku sendiri tak tahu perasaan apa yang telah menyerangku."~Pov Hani~ (Tausiyah Cinta)
__ADS_1