
Seperti ada suatu seruan bagi Martias agar ia menghubungi Anas sore itu. Papa Hani itu memang ingin sekali bercerita pada sahabatnya itu tentang putrinya, berharap mendapatkan solusi dari sang sahabat yang tak lain adalah seorang Penghulu yang bekerja di Kantor Urusan Agama daerah mereka tinggal tersebut. Walau nanti urusannya ke Pengadilan Agama, namun Martias berharap ada teman Anas yang bisa membantu nantinya.
Saat itu, Anas yang baru saja sampai di rumah, ia melihat ada panggilan masuk dari sahabatnya Martias. Lalu ia mengambil posisi duduk di meja makan, sementara ibu Anas sedang menyiapkan bahan untuk menu makan malam mereka yang posisi duduknya tak jauh dari Anas.
"Assalammu'alaikum bu."
"Wa'alaikumussalam Nas... Telpon dari siapa Nas, kok belum diangkat?" Tanya ibu Anas sambil menjawab salam putranya itu.
"Dari Bang Martias nih bu, ada apa ya?"
"Ya mana ibu tahu, makanya telponnya diangkat dulu."
Entah kenapa Anas masih ragu mengangkat telpon dari sang sahabat. Tiba-tiba jantung Anas berdetak tak karuan. Ia jadi langsung kepikiran dengan putri sahabatnya itu. "Apa ia baik-baik saja?" Gumam Anas dalam hati. Pada saat Anas berada di rumah Ibu Beni malam itu, Anas diberi tahu banyak hal oleh Beni tentang Hani putri dari Pak Tetuanya itu.
"Lha itu udah nggak berdering lagi, kamu coba hubungi balik siapa tahu penting." Titah Ibu Anas yang udah kenal baik dengan Martias dan keluarga nya.
"Eh iya bu, Anas coba telpon balik." Ucap Anas yang tersadar dari lamunannya.
"Kamu itu Nas.. kok pakai ngelamun segala.." Ucap si Ibu sambil menggeleng-geleng kan kepalanya.
Baru saja Anas mau menyentuh tombol telpon balik, namun HP Anas kembali berdering. Ia pun segera mengangkat panggilan tersebut.
"Assalamu'alaikum bang." Ucap Anas menjawab telpon dari Martias.
"Wa'alaikumussalam Nas, kamu lagi sibuk nggak? Abang mau bicara sesuatu, tepatnya mau nanya sama kamu Nas."
"Kebetulan ini lagi di rumah bang, baru balik dari kantor, nggak kok bang. Abang mau nanya apa?"
"Nas, saya bingung mau bicaranya mulainya dari mana, tapi yang paling urgent sekarang itu saya butuh seseorang buat temenin Hani dirumah selama kami bekerja."
"Temenin Hani, memangnya Hani kenapa bang? Hani baik-baik saja kan?" Tanya Anas kaget sekaligus khawatir.
"Nas, ceritanya panjang pokoknya... Saya nggak bisa jelasin lewat telpon sepertinya. Saya juga mau nanya untuk mengurus surat perceraian itu proses nya bagaimana ya Nas?"
"Cerai?" Maksud abang Hani menuntut cerai suaminya begitu bang?" Sahut Anas yang sudah menyangka ini akan terjadi.
__ADS_1
"Iya Nas, bantu saya Nas... Oya Nas, kembali yang urgent tadi, kira-kira kamu ada kenalan atau saudara ibu mu yang bisa bantu nggak? Soalnya lusa Mama Hani sudah masuk mengajar kembali. Jadi kami khawatir kalau Hani sendirian di rumah, apalagi kondisinya yang sedang hamil anak kembar."
Ibu Anas mendengar jelas percakapan mereka, karena Anas tanpa sengaja mengaktifkan speaker di HPnya.
"Ibu aja Nas, Ibu aja yang akan menemani Hani." Sahut Ibu Anas menawarkan dirinya dengan sukarela. Ia bahagia mendengar Hani sedang hamil anak kembar. Walau ia awalnya sempat sedih mendengar berita buruk yang menimpa putri dari sahabat anaknya itu.
"Bentar bang," Ucap Anas pada Martias, Anas ingin memastikan pada ibunya, apa ia nggak salah dengar. Sedangkan Martias sempat mendengar suara Ibunya Anas, tentunya Martias juga senang bila Ibunya Martias lah yang menemani putrinya nantinya.
"Ibu, apa ibu yakin?"
"Yakin 100 persen, ibu dengan senang hati bila diberi kesempatan menemani Hani nak. Ibu ingin merasakan gimana rasanya merawat seorang putri yang sedang hamil." Jawab ibu Anas sambil tersenyum bahagia.
"Baiklah kalau begitu, tapi ibu nggak boleh capek-capek ya..."
"Nggak kok, malahan ibu senang ada teman bicara juga nantinya. Kalau di rumah ibu kan juga nggak ada kerjaan. Lagian itu nanti ibu kan cuma disuruh nemenin aja."
"Trus, ayah gimana? Apa ayah ngebolehin nantinya?"
"Urusan ayah nanti ibu yang urus, insyaallah ayahmu itu mengizinkan. Lagian ayahmu itu siangnya waktunya lebih banyak habis di ladang kan..."
"Bang, insyaallah ibu yang akan menemani Hani bang, ibu senang katanya bila diizinkan merawat Hani."
"Alhamdulillah... insyaallah setiap pagi kami akan jemput ibumu dan sorenya kami akan antar kembali, kecuali hari libur."
"Iya bang, jika saya nggak sibuk, saya sendiri juga bisa mengantar atau menjemput ibu bang, jadi abang nggak repot-repot buat antar jemput."
"Ok Nas, terimakasih banyak Nas, sampaikan salam terimakasih saya sama ibumu."
"Iya bang, ini ibu juga mendengarkan."
"Ok Nas, nanti malam insyaallah saya main ke rumah ya, kamu ada waktu kan?"
"Ada bang, silahkan datang saja."
Martias pun menutup percakapan mereka. Ia pun sudah tak sabar ingin menyampaikan pada sang istri.
__ADS_1
***
"Ma, ada apa?" Tanya Martias pada sang istri yang terlihat shock.
"Pa, segera urus surat cerai Hani Pa, dan Mama mau Hani tidak usah bekerja dulu sampai ia melahirkan." Ucap Bu Mala kemudian.
"Insyaallah Ma segera Papa urus, tapi Mama kenapa?"
"Mama nggak mau Hani tambah stress Pa, jika ia tahu kalau suaminya itu akan menikah lagi dalam waktu dekat ini, bahkan ia akan menikah dengan rekan kerja Hani sendiri Pa."
"Rekan kerja Hani? Siapa maksud Mama?" Ucap Pak Martias penasaran sekaligus emosinya mulai terpancing.
"Dokter Dila Pa, hik hik." Bu Mala tak kuasa menahan tangisnya lagi. Pak Martias langsung memeluk istrinya itu.
"Dasar laki-laki tak punya pendirian, berbahagialah sekarang Alfian begitu juga keluarga mu. Kita lihat saja Allah tak pernah diam, Allah akan memberikan balasannya padamu dan keluargamu suatu saat nanti. Astaghfirullah... astaghfirullah ya Allah.." Umpat Martias penuh emosi pada laki-laki yang sebentar lagi akan ia coret dari daftar menantunya itu.
"Ya Allah... sungguh berat cobaan yang kau berikan pada putri kami. Tapi kami yakin Engkau tak akan memberikan cobaan diluar kemampuan kami." Pak Martias berusaha untuk tegar. Ia yakin Allah akan menghadirkan kebahagian pada putrinya nanti setelah kesedihan demi kesedihan menimpanya. Seperti Allah memberi kemudahan setelah kesulitan, seperti memunculkan sang pelangi setelah hujan.
Hani yang hendak keluar kamar untuk mengambil minum, seketika terdiam membisu mendengar percakapan antara Mama dan Papanya. Hani kembali masuk ke dalam kamarnya. Pak Martias dan Buk Mala tak menyadari kalau Hani telah mendengar semuanya.
"La ilaha illa anta subhanaka ini kuntu minadzolimin." Hani menguatkan dirinya dengan memperbanyak membaca doa sekaligus lafaz dzikir tersebut di dalam kamarnya, berharap ia selalu dikuatkan dalam menghadapi masalah hidupnya.
***
"Ibu sangat senang deh Yah, si Hani itu pasti sangat menderita sekarang, seperti maunya Ayah." Ucap Ibu Alfian sambil tersenyum bahagia.
"Pasti lah bu, toh ia sangat mencintai Alfian kan?"
"Iya, sebentar lagi kita akan punya menantu yang lebih kaya, tentunya keluarga Martias itu pasti dibuat iri karena nya."
"Betul bu, karena si Martias itu memang punya sifat iri dari dulu, kalau nggak iri ia pasti membiarkan para preman itu tetap nongkrong disana, gara-gara ia yang menghasut mereka, mereka jadi nggak nongkrong lagi disana alhasil usaha Deni bangkrut karenanya." Ucap Ayah Alfian geram, ia pun semakin marah pada Martias, ketika usaha warung adiknya, Deni yang dulunya mengontrak didepan rumah Martias itu terpaksa ditutup gara-gara ada yang melaporkan tempat itu sebagai tempat terjadinya transaksi jual beli obat terlarang. Ayah Alfian pun berprasangka bahwa Martias juga yang melaporkan nya.
"Iya Yah, rasakan sekarang akibatnya, maka jangan sok suci jadi orang." Sahut si ibu sambil tersenyum sinis.
***
__ADS_1
"Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik."~Ali bin Abi Thalib~(Tausiyah Cinta)