
Assalamu'alaikum, izin promo karya baru Author ya sobat readers, Semoga suka...
Cuplikan Bab 1.
"Bunda, ini kenapa?" Tanya Humaira yang melihat tanda merah kebiruan di bagian leher bundanya. Mereka memang sedang tiduran santai di dalam kamar sore itu.
"Haaa, yang mana? Tanya Hani pura-pura nggak tahu, padahal Hani sadar bahwa yang ditunjuk putri nya itu adalah tanda dari Anas suaminya yang terlalu gemas semalam.
Humaira memang tipe yang suka banyak tanya dan perhatian, ia tak bisa melihat bundanya sakit. Bila bundanya sakit, tanpa disuruh ia langsung memberikan perhatian. Bahkan ia bisa langsung nangis bila ia melihat Bundanya itu meringis kesakitan.
"Bunda apanya yang sakit, Aira pijitin ya.. Atau bunda mau minum, Aira ambilkan ya.."
Begitulah Humaira putri yang lahir paling akhir dari dua saudara kembarnya itu, Hana dan Hafshah. Humaira juga paling cerewet dari yang lainnya. Sekarang mereka sudah berusia 11 tahun.
__ADS_1
Humaira memang tak mau lepas dari Bundanya, sedangkan dua saudara kembar nya lagi kadang dibawa tinggal di rumah Alfian, Papa kandungnya. Atau sesekali di rumah Aina mantan istri Papa sambungnya itu yang tak kunjung diberi keturunan juga. Aina akhirnya bisa dipersunting Beni, karena tak lama setelah Ibunya Anas meninggal Ibunya Beni pun merestui hubungan mereka, karena Ibu Beni merasa iba juga dengan Aina yang tidak punya tempat tinggal walau Ibu Anas sudah mengizinkan Aina sebelumnya tinggal dirumahnya itu. Ibu Beni pun luluh dengan segala sikap Aina yang sopan dan berlaku baik pada Ibu Beni itu.
Kebetulan kedua saudara kembarnya itu, Hana dan Hafshah sedang menetap di rumah Alfian dan Dila. Hana dan Hafshah mewarisi sifat Hani yang mandiri. Sedangkan Humaira masih saja manja dan belum memperlihatkan tanda-tanda ia mandiri tanpa bundanya.
"Ini Bunda..." Tunjuk Humaira kembali di leher Hani.
"Ooooh itu, mungkin Bunda alergi kali ya..." Nimbrung Anas yang sedari tadi nahan tawa di samping Hani.
"Alergi ya Bi, berarti gatal dong Bunda rasanya...?"
"Aaah nggak... nggak gatal.." Jawab Hani sambil mengusap bagian yang ditunjuk putrinya itu. Hani bingung mau menjawab apa, karena ia sebisa mungkin menghindari berkata bohong pada putrinya itu. Hani memang membiasakan selalu berkata jujur pada anak-anaknya.
"Tapi kalau nggak gatal, sakit berarti ya rasanya."
"Aaah nggak juga..." Jawab Hani yang sudah salah tingkah, rasanya kalau bisa kabur ia akan kabur saja dari putrinya itu. Ia menyenggol badan Anas dengan sikunya. Tawa Anas hampir saja meledak namun ia tahan sekuat tenaganya.
__ADS_1
"Tapi kenapa bisa merah seperti ini Bunda.." Tanya Humaira lagi yang ternyata masih belum puas bertanya, karena masih belum mendapatkan jawaban yang pas dari Bundanya.
"Gimana kalau kita cari di Google Bunda..?"
"Haaaa, Aira... nggak usah ya..." Hani dengan cepat menghentikan Humaira yang hampir saja mengetik kata "tanda merah" di pencarian Google dari ponsel yang ia pegang itu. Bila itu terjadi Hani sudah membayangkan apa yang akan dibaca Humaira nantinya dari hasil pencarian Google itu.
"Abaaaaang... awas ya..." Teriak Hani yang melihat Anas sudah kabur dari situ.
"Bunda kenapa teriakin Abi...?"
"Bunda kesal sama Abi mu itu..."
"Tapi kenapa kesal sama Abi Bunda...?"
"Nggak tahu nih Aira, rasanya Bunda pingin cubitin kedua pipi Abi mu itu... Gemes Bunda..." Ucap Hani sambil memperagakan kedua tangannya seperti sedang nyubit gemes suaminya itu di pipi Humaira. Semalam padahal Hani sudah wanti-wanti pada suaminya itu, jangan sampai ada bekas yang bisa terlihat Humaira. Karena Hani tahu sifat kritis putrinya itu.
__ADS_1
Humaira tampak mengernyitkan keningnya.
"Oh ya Bunda, Aira ingat kata teman Aira nih Bunda.. teman Aira itu kalau setiap Haid badannya merah merah juga, tapi..."